Archive for May, 2005

Datanglah……..

Tuesday, May 17th, 2005
                                                  Composed on May 17th, 2005

C=Do

Aku masih kan disini oh kasihku

Walau kini kau telah punya jiwa baru

Biarkan kumenapaki batas kalbu

Biarkan langit cintaku merindumu

Reff I :

Malam ini milikmu

Angin surga sapamu

Nada jiwa………….

Nafas cinta…………

Metamorfosa sayapmu yang kutunggu

karena akhirnya kau kan terbang kearahku

Biarkanlah bunga2 merayumu

karena akhirnya bungaku takdirmu

Reff II :

Fajar ini lentikmu

Daun rasa membiru

Nada jiwa……….

Nafas Cinta………

Reff III:

Galau alam rasaku

Lembut senyum dewimu

Nada jiwa…..

Nafas cinta…..

Sekuel Rukun Islam

Tuesday, May 17th, 2005

Kuingin merasakan lapar anak2 jalanan dengan puasaku

Kuingin berbagi derita dengan orang2 tertindas dengan puasaku

karena kutakbutuh pahala

apalagi surga

Kuingin merayakan ketakberdayaan makhluk dengan sholatku

karena sholatku tak dibutuhkan Tuhan

karena 5 waktu bukanlah ukuran keimanan

Aku malu kalau sholatku hanya lima waktu

karena sholat seharusnya ada dalam setiap hembusan nafasku

Syahadatku bukan untuk mengesakan Tuhan

apalagi untuk menjadikannya Tuhan

karena dia sama sekali tak perlu dikultuskan

Syahadatku adalah perjanjian sunyi

tuk mewujudkan rahmat di semesta ini

Hajiku bukan ke Mekkah

karena Mekkah hanyalah zarrah

Hajiku adalah sidratul muntaha tanpa warna

tanpa cahaya ketika kumelebur dalam-Nya

Zakatku adalah ragaku

Zakatku adalah jiwaku

yang seharusnya kuberikan pada orang2 tak mampu

tangis ruhku karena sungguh berat zakat jiwa raga itu

Oh…aku masih belum mampu

Somasi Anak2 Bumi

Monday, May 16th, 2005

Wahai Para Pedofili

tadi kami telah bersepakat dengan Bunda Bumi

kalian tidak pantas lagi menginjakkan kaki

segeralah pergi menjemput dewi mati

dia sedang menunggumu dengan wajah berseri

Wahai Para Pastur, Kiai dan Bhiku

Betapa banyak kami menjadi korbanmu

sodomi dan pelecehan dalam institusi suci yang semu

Tak layak surga itu didekati dirimu

Neraka pun tak cukup untuk menghukum kebejatan nafsumu

Wahai Para Cukong Jahanam

Dengan tawamu kau seret kami dalam pelacuran dan perbudakan

Demi uang yang telah kau jadikan sesembahan

Dengan Tuhan, pagi ini kami telah membuat perjanjian

tuk menelantarkan jiwa kalian di hari pembalasan

Wahai Para Pemimpin Pilihan

Jika kau biarkan kami buta huruf dan cacingan

Jika kau tularkan kelicikan dan keserakahan

maka namamu suatu saat nanti tak akan lebih harum dari tikus selokan

kami akan juga membangsatkan diri menuruti jalan yang pernah kau ajarkan

Wahai Para Orang Tua Kami

Jika metode didikmu bukan demokrasi

Jika cinta posesifmu membelenggu hari2 terlalui

jangan kaget jika suatu saat nanti

dunia akan penuh tiran2 yang membusungkan diri

bertebaran pelacur2 hati nurani

Kami…..

yang akan menulis sejarah kalian

Kami…..

yang akan menghakimi langkah kalian

Ya….Kami……………

Yang selama ini kau lupakan

Tertanda,

Anak2 Bumi

Lembaran Putih Berkabut

Sunday, May 8th, 2005

Relakah kita menjadi bagian dari sejarah

dimana uang dan modal disembah

dimana ketidak adilan adalah takdir

dimana cinta kasih hanyalah penghias bibir

ketika penindasan adalah warna hidup

ketika tata dunia hanya milik orang berada

ketika korupsi kekuasaan menjadi agama punggawa

Atau bisakah kita menciptakan sejarah baru

menyembuhkan kebinatangan kita

membuang egosentrisme

berbagi mata hati

belajar menjadi matahari

menerangi tanpa menyakiti

Esok bukanlah nama lain dari hari ini

Esok adalah utopia yang terealisasi

Jangan berhenti berimajinasi

Sibaklah kabut jiwa insani

Demi kebahagiaan semua makhluk Ilahi

Diaspora Jiwa

Sunday, May 8th, 2005

Melanglang meninggalkan raga
karena raga ini fana
tak urung menjadi sampah dunia

Kembaran saja jiwa itu dengan infomorph
jika terkungkung dalam semangat setan
Biarlah mati menjadi hidup
distopiakan kematian itu
karena kematian adalah transisi

Diaspora….Diaspora……Diaspora Jiwa…..
Tidak banyak manusia menyukainya
ketakutan akan perubahan
romantisme akan masa terlewat
fobia kehilangan status quo
enggan mengurai kejujuran
tak rela mengakui kekurangan

Tapi marilah meneguk anggur diaspora
pembebasan tetapi bukan pelarian
pencerahan walau mungkin menyakitkan