Archive for November, 2005

Filsafat Cinta

Sunday, November 27th, 2005

Tak pernah kita tahu kapan dia mulai menggelayut
rasa, tetapi tiba2 saja dia pergi meninggalkan kita,
tetapi cinta tidak akan pernah menyakiti, dia
hanya akan bertambah mengiringi. Cinta itu
memberi, tanpa mengharap kembali. Cinta tak
harus memiliki, karena ketika dia menjadi harus
memiliki, berarti cinta sudah pergi.

Hanya para ksatria yang mampu mencintai,
karena cinta adalah pengorbanan tertinggi. Bukan
karena cantik, pandai, indah, ataupun lembut.
Bukan karena tampan, kaya, kuat, ataupun berani.
Karena cinta mengetukmu bukan lewat pintu
materi, tetapi lewat pintu hati.

Cinta tidak mengenal akhir, seperti gelombang
lautan, seperti gerak bintang, seperti denyut
neutron dan elektron. Cinta adalah dua sepatu
yang dimiliki seorang pejalan kaki, seperti satu
lagu yang dinyanyikan dua insani.

Tidak cukup hanya mencintai, karena cinta butuh
bukti, dan hanya waktulah yang sanggup menjadi
bukti. Cinta adalah penyebab perang, tetapi karena
cinta jugalah perang berhenti. Cinta adalah sumber
kerusakan, tetapi cinta jugalah inspirasi kebaikan.
Semua ada karena cinta, cinta ada karena semua.

Cinta menancapkan cakarnya dalam setiap
agama, isme, dan ideologi, Tetapi cinta
menjebakmu di pojok sejarah jika kau salah
mengerti. Untuk dicintai, engkau harus mencintai.
Cintailah iblis, tapi lawanlah iblis dalam hatimu.
Cintailah setan, tetapi lawanlah setan dalam
otakmu. Cintailah musuhmu, Cintailah para
pendosa, Cintailah tiran2 dunia, karena dengan
mencintai mereka, kita mengalahkan mereka.
Lawanlah perbuatan mereka, bukan wujud mereka.
Lawanlah senjata dengan cinta, lawanlah
kejahatan dengan cinta, lawanlah keserakahan
dengan cinta, karena hanya cinta yang mampu
menundukkan mereka.

Cintailah semua, karena semua adalah cinta.

Menggugat Einstein

Sunday, November 13th, 2005

Einstein lewat postulatnya yang masyhur E=mc2, mengatakan bahwa kecepatan kulminasi dzat yang ada di semesta ini adalah kecepatan cahaya yang kita yakini sekarang berada di kisaran 300.000 km per detik. Dan kecepatan itu diyakini Einstein sebagai konstanta, kecepatan yang tidak bisa dipercepat dan juga tidak bisa pula dikurangi, hanya bisa dibelokkan atau dihilangkan sama sekali oleh kekuatan lubang hitam misalnya. Einstein selama hidupnya juga seorang ekstropis yang selalu berpendapat bahwa apapun yang tidak kita ketahui tentang alam, biasanya berasal dari ketidak tahuan kita akan teori yang definitif. Dia sama sekali menolak premise tentang sesuatu yang terjadi secara chaos dan by accident. Sehingga muncul salah satu ucapannya juga cukup terkenal “ God doesn’t play a dice “ (Tuhan tidak bermain dadu).

Dalam percobaan laboratorium terakhir, terbukti bahwa kecepatan cahaya bukanlah konstanta, karena kecepatan cahaya bisa dipercepat sekaligus juga bisa diperlambat. Malah kalau dikaitkan dengan teori quantum mekanik, pasti ada sesuatu yang kecepatannya paling tidak jutaan kali kecepatan cahaya yang dengan kecepatan itu sanggup mendukung terjadinya keanehan2 dalam eksperimen quantum mekanik. Sebagai contoh, jika anda menggerakkan photon di satu tempat, secara otomatis (walau kita tidak tahu sebabnya) ada konsekuensi yang diterima oleh photon lain yang secara kasat mata tidak ada hubungannya sama sekali. Untuk lebih jelasnya kita ibaratkan saja, gerakan sayap seekor kupu2 di hutan Amazon ternyata mempunyai hubungan dengan tsunami besar yang menghantam Aceh. Sesuatu yang sepertinya mustahil seperti contoh ini sudah bisa dibuktikan di penelitian2 laboratorium dan dengan ketepatan yang mengagumkan. Yang masih kita cari adalah energi apa yang menggerakkan kejadian2 aneh ini. Sementara ini kita masih menyebutnya dark energy, disebut dark karena kita sama sekali tidak tahu apa sejatinya energi itu. Dan celakanya lagi dark energy (bersama dark matter yang lagi2 tidak ketahui apa sebenarnya materi ini) yang menggerakkan dan mengisi kurang lebih 99% semesta. 1% sisanya sudah mulai kita singkap materi pembentuknya walaupun masih sangat terbata2. 1% sisa itu adalah hampir seluruh benda yang bisa kita deteksi keberadaannya di alam semesta yang terbentuk dari atom mulai dari bintang, planet, galaksi, pulsar, lubang hitam, supernova, dsb termasuk makhluk2 hidup yang menghuninya. Dan dark energy tentulah energy yang sangat besar dan paling tidak harus jutaan mungkin juga milyaran kali lebih cepat dari cahaya untuk bisa menggerakkan semesta yang kita tahu sekarang sedang berkembang terus dengan kecepatan luar biasa ke segala penjuru.

Einstein juga lupa bahwa teori relativitasnya mempunyai banyak kekurangan, (kalau kita menganggap itu kekurangan, after all dia adalah orang yg jenius, walau itu tidak berarti bahwa semua yang dikatakannya benar). Jika upaya untuk menemukan formula teori yang bisa menyatukan empat energi yang menggerakkan semesta sampai saat ini yang masih terpaku pada string theory nya Paul Susskind, dalam tahap itu saja dunia empat dimensi yang ditelurkan dari teori relativitasnya Einstein sudah perlu untuk direvisi. Paling tidak harus ada 10 dimensi jika string teori ini benar, bahkan beberapa varian dari string theory mensyaratkan tidak kurang dari 26 dimensi.

Yang paling berat diterima oleh Einstein waktu itu adalah efek dari teori quantum. Hanya satu contoh saja : Bulan yang kita lihat disana mengelilingi bumi, sebenarnya tidak di sana, bulan di sana karena kita menganggap bulan ada di sana. Apa yang kita anggap sebagai sebuah realita juga kita perlu pertanyakan, karena realita mempunyai berbagai macam bentuk. Realita dalam persepsi kita, dan realita yang terjadi di luar sana, yang karena keterbatasan kita, masih belum mampu kita pahami. Konsep dunia parallel atau dunia osilasi mungkin juga bisa terjadi. Yang pasti bahwa konsep relativitas masih belum cukup mampu menjelaskan banyak fenomena alam, dan kita masih harus memeras otak untuk mengeluarkan konsep baru yang lebih komprehensif.

Einstein juga cukup berat hati untuk mengakui bahwa teori quantum (dng berbagai cabangnya) plus uncertainty-nya Werner Heisenberg memang telah mengalahkan teori2 yang dibangun Einstein. Bagi Einstein, determinisme haruslah ada, bahwa teori quantum akan merusak fisika wujud karena sifat “entanglement’ nya. Dengan gaya ekstropis semacam ini, sebenarnya cukup disayangkan. Karena bagaimanapun, natural science haruslah tetap dibiarkan sebagai entitas yang mandiri, tidak ada judgement final sebelum ada eksperimen berulang yang membuktikan kebenaran suatu teori, dan tentunya harus selaras dengan kaidah2 metode ilmiah.

Tugas besar untuk menemukan teori yang bisa menggabungkan teori relativitas umum dan quantum mekanik masih cukup alot, di sana sini masih ada lubang. Teori relativitas umum yang menjelaskan fenomena2 alam dalam skala besar seperti gerak galaksi, bintang, dsb harus digabungkan dengan quantum mekanik yang menjelaskan fenomena2 dalam skala mikroskopik. Einstein telah berhasil membuat kita terhenyak dengan dimensi waktu sebagai tambahan dari 3 dimensi ruang yang kita ketahui. Einstein telah memporak porandakan legasi Newton yang telah lebih dari 300 tahun bertahta. Dan sekarang tugas kita sepeninggal Einstein, untuk memporak porandakan legasinya dengan menemukan theory of everything, menemukan pencipta big bang, menentukan akhir dari expanding universe, dan masih banyak lagi misteri2 alam yang belum terjawab.

Solilokui Akhir Ramadhan

Friday, November 4th, 2005

Sayup terdengar suara takbir, menggugah memori dari tahun ke tahun, ya..ya…benar, sehari menjelang Idul Fitri, aku terlahir ke dunia fana ini. Anak pertama dari empat laki2 bersaudara, Perjuangan Bunda yang dengan peluh dan darah ternyata tak berhenti di situ saja, Bunda telah membuktikan dirinya adalah seorang yang tegar, tawakkal, dan selalu mempunyai visi yang sistematis. Aku selalu ingat perjuangan Bunda melalui masa2 berat yang waktu itu tidak begitu aku mengerti mungkin, tetapi setelah dewasa, baru aku mengerti bahwa masa2 itu adalah masa yang sungguh berat, bagi Bunda dan keluarga kami.

Sekarang aku telah jauh secara lahiriah dengan Bunda dan keluarga, bahkan adikku yang paling kecilpun sering bertanya dalam telpon siapakah gerangan yang mengajaknya bicara, karena waktu aku tinggalkan dia masih berumur 6 bulan. Tetapi aku bersyukur atas karunia Sang Pencipta, karena sampai saat ini aku tidak rindu kepada keluarga, anak2 angkatku, adikku, dan masa laluku. Pengembaraanku untuk melepaskan diri dari kefanaan sudah mulai kulihat hasilnya, sesuatu yang mungkin akan sangat aneh bagi sebagian besar orang. Ikhtiarku menuju pembebasan lahir batin mungkin masih cukup tertatih, tetapi aku telah memulainya, dan semoga berhasil cepat ataupun lambat.

Baru kali ini aku membuat refleksi terbuka tentang rentang hidupku, yang biasanya aku tuangkan dalam puisi. Tetapi rasanya refleksi tahun ini terasa penting untuk kutuang juga dalam bentuk tulisan biasa agar lebih bisa dimengerti, filosofi hidup yang semoga lebih stabil ditaburi oleh idealisme futurisik walaupun mungkin tidak populis.

Aku akan bagi refleksi filosofis ini menjadi dua bagian, refleksi intrinsik dan refleksi ekstrinsik. Refleksi intrinsik akan kumulai dengan apa yang telah kucapai sampai saat ini, secara lahiriah maupun batiniah. Dalam hal fisik, aku telah merasa lebih dari cukup, cukup dalam kerangka berpikir kebutuhan. Bahwa apa yang kubutuhkan, pada dasarnya semua sudah terpenuhi. Dalam hal psikis, aku juga sudah merasa tenteram dan tenang. Tentu saja sewaktu2 ada gejolak luar biasa, yang kebanyakan dalam tataran filosofis, yang alhamdulillah bisa aku kendalikan di bawah kilatan cahaya rahmat. Prestasi intrinsikku jika kutilik juga tidak mengecewakan, dengan menggondol gelar lulusan terbaik dari sekolah2 yang aku selesaikan (kecuali di masa SMP, menjadi no 2 terbaik), berhasil memenuhi ambisi naifku waktu kecil untuk dianggap cerdas tapi dengan tingkat kegilaan dan kekritisan yang diluar batas normal, berhasil mandiri dari orang tua sejak umur 17 tahun, berhasil sekolah tanpa membayar bertahun2, berhasil punya anak angkat, berhasil dalam hal materi, bla bla bla bla yang pada intinya ternyata semua itu relatif dan tidak pantas dibanggakan sama sekali. Karena prestasi intrinsik tidak akan berpengaruh banyak jika tidak dibarengi dengan prestasi ekstrinsik yang memadai. Apalagi bahwa seharusnya prestasi intrinsik itu adalah tuntutan moral untuk bisa mencerminkannya dalam prestasi ekstrinsik.

Prestasi ekstrinsik adalah pencapaian seorang manusia kaitannya dengan fungsinya sebagai homo socius. Socius yang tidak hanya terbatas pada lingkup lokal dan terbatas, tetapi yang menembus outer limit segregasi2 tidak perlu yang diciptakan manusia. Paradigma perjuangan yang tidak hanya terfokus pada hablumminannaas tetapi menembus sampai hablummin makhluk.

Salah satu caraku berjuang adalah berkarya lewat puisi, cerpen, animasi, lagu, dan artikel, Karena dengan itu aku berharap bisa membagi sedikit yang kuketahui, dengan semangat cinta kasih, agar semakin banyak manusia yang tercerahkan di dunia ini. Tetapi, ada tetapinya di sini, berjuang dalam tataran ide saja tidak cukup, karena ada counterpartnya yaitu berjuang dalam tataran praksis. Dan itulah yang memotivasiku untuk jatuh bangun ingin membangun imperium bisnis, karena sebelum orang2 bisa membaca dan atau mengerti karyaku, perut mereka harus kenyang dulu, mereka harus bisa bersekolah, mereka harus minimal mampu mempunyai waktu luang untuk lepas dari urusan ekonomi yang membelit. Dan keduanya harus bersinergi dengan baik, karena tujuanku hidup di dunia ini adalah tak lebih untuk memberikan servis terbaik kepada semua makhluk, baik itu servis lahir maupun servis batin, baik itu servis perut maupun servis otak. Ranah berjuang politik sudah kucoba masuki dengan aktif di berbagai LSM yang mengadvokasi HAM dan Demokratisasi, ranah ekonomi coba kurambah dengan aktif dalam berbisnis, ranah sosial budaya coba kutelusuri dengan karya2 seni. Tentunya banyak cara berjuang yang lain selain yg di atas, tapi masing2 pribadi akan tahu dimana harus bermain setelah melalui proses pengenalan diri. Dan sekali lagi ini bukan tentang aku, karena aku bukanlah apa2. Aku tak lebih dari sekedar debu semesta, perjuangan sehebat apapun tak akan jua membuat diriku lepas dari ketidakberdayaan dan ketidakbergunaanku. Perjalananku menuju titik nadhir ilmu dan ikhtiar akan berakhir dengan menyungkurnya diriku dalam kesadaran akan keterbatasan yang tak terbatas.

Perjalanan hidupku kurangkum dalam puisi ini :

Filsafat Piramida

Kumerangkak
Kuberlari menyanyi
Kuberpeluh berdarah
Memanggul batu-2 nutfah
Merekatnya dengan matrix ghirah
Menyusunnya lebih tinggi
Menuju puncak hakiki

Di ketinggian piramida
Terlihat kosmos tawarkan cantiknya
Kumenangis mengagumi nyata
Kubergetar menyelami-Nya
Kontemplasi iluminatif dalam spektrum kosmik
Menembus gamut, menentang jumud
Larut dalam Anatta, tinggalkan dogma
Melenggang bersama quantum, sinari kontinum

Piramida mengerucut mengecil
Di atas kumerasa sangat kerdil
Kulminasi terpatri pada titik nihil

Aku tiada
Tiada aku

Sapere Aude…….

Amsterdam, 30 Ramadhan 1426 H

tuhan2 yg mencari Tuhan

Friday, November 4th, 2005

Bapa sedang jalan2 di surga, menikmati sore yang masih terang benderang. Pohon surga yang berdaun kecil nan indah melambai, disertai angin sepoi2 semilir, menambah nikmatnya suasana surga. Tiba2 dia ditempeleng. Bapa jatuh tersungkur, tapi dengan sigap berdiri lagi. Ternyata Allah (baca = Awlloh = Bhs Arab) yang menempelengnya. Secepat kilat ditendangnya Allah, tersungkurlah Allah di pelataran istana surga. Allah tidak menyerah, dikeluarkanlah sinar merah menyala diarahkan ke Bapa, dan telak mengenai tubuh Bapa. Bajunya robek sana sini terkena tembakan jitu Allah. Tapi Bapa masih segar bugar, hanya tubuhnya saja yang agak gosong. Bapa langsung mengeluarkan pentungan besar, berlarilah ia kearah Allah yang masih terbaring akibat tendangannya. Allah yang tidak mengira Bapa secepat itu tak bisa berbuat apa2, pentungan itu bertubi2 menghajar bagian2 tubuh Allah. Bapa semakin semangat menghajar Allah, tiba2 ada suara tertawa terbahak bahak disertai kilatan lampu kamera. Blap……

“ Hoiiii, kalian ngapain kayak anak kecil gitu, udah pada gede koq berantem, kayak tidak ada jalan lain aja. Hahahaa…., sudah terekam di kameraku ribut2 kalian ini, ntar aku kirim ke bumi, biar anak buahmu pada terpingkal2 lihat tingkah polah kalian”

“Wah jangan dong, please…please…, YHWH, jangan lakukan itu. Itu akan sangat tidak bagus pengaruhnya terhadap konditeku sebagai tuhan. Masak gue dihajar sama Bapa edan ini“
“ Sialan, loe yang mulai, loe ngapain nempeleng tanpa sebab, dasar gendeng..”
“ Loe mustinya ngaca Bapa, kenapa aku tidak menghajarmu sekalian, tempeleng itu masih moderat, tidak setara dibandingkan kejahatanmu makhlukmu terhadap makhlukku.”
“ Emang gue salah apa ama loe..?”
“ Tuh tuh…liat tuh, bumi lagi porak poranda karena makhlukmu, Presiden Amerika dengan dedengkot kolot Kristennya sedang mencoba memporak porandakan ilmu pengetahuan dan tata dunia. Loe sebagai tuhan mereka mustinya kasih dong mereka penyuluhan, kalau kurang mengerti tambah dengan penataran. Masak gitu aja minta diajarin”
“ Lho, anak buahmu juga gitu, membunuh anak buahku seenak jidatnya, pake bom bunuh diri lah, pake alasan jihadlah, justru anak buahmu yang butuh penataran besar2an. Tak sepatutnya loe nyalahin gue”

YHWH tertawa terbahak2 lagi…., kali ini tambah keras…

“ Allah, Bapa, kalian ini tolol amat sih, dengan gampangnya kalian telah dipenjara oleh anak buah kalian sendiri. Salah kalian sendiri kenapa bisa dibatasi oleh kitab suci dan agama. Dijadikan Tuhan personal, Tuhan yang bisa marah, benci dan kelimpungan melawan kejahatan, sampai2 makhluknya harus membantunya. Hahaha…, pencipta koq melawan yang diciptakannya. Kalian disembah sana-sini tapi dikebiri ketuhanan kalian. Ya ampun, kalau idiot kaya kalian mending gak usah jadi tuhan deh, malu deh gue”

Kuping Bapa dan Allah terlihat merah dihina habis2an oleh YHWH, Bapa udah bersiap2 mengarahkan pentungannya ke YHWH, tapi rupanya YHWH sudah siap2 juga dengan segala kemungkinan. Bapa mengurungkan niatnya.

Sambil menarik nafas panjang, Allah akhirnya angkat bicara.

“ Baik, baik, YHWH. Jangan banyak bacot loe, loe sendiri kagak lihat jidat loe, tuh perhatikan anak buahmu yang sedikit tapi yang punya andil terbesar merusak alam, Dan loe musti ingat, kalau anak buah loe para Yahudi yang narsis itu menganggap hanya mereka yang terpilih sebagai pelaksana hukum Tuhan dan juga kenikmatan dari Tuhan.”

“ Loh, itu kan tidak hanya terjadi pada anak buahku, orang2 Islam juga mengklaim surga milik mereka, orang2 Kristen juga begitu. So what gitu lho…?”

Perang bacot lagi seru2nya, mereka dikejutkan oleh suara musik keras dari atas pohon tidak jauh dari tempat mereka berada. Ah, mereka lagi. Si Wishnu, Syiwa, dan Brahma lagi naik pohon, main2 sambil bermusik ria. Ketiganya kelihatan riang gembira, seakan sedang berpesta atas perjanjian damai yang baru saja mereka tanda tangani. Sebelumnya dewa bertiga itu juga sering ribut, mau bunuh2an, karena perbedaan sifat yang mereka punyai. Brahma yang suka bikin2 sesuatu, sering ribut sama Syiwa yang kerjaannya usil merusak barang orang. Pada awalnya Brahma membentuk front dengan Wishnu karena kesamaan platform untuk melawan Syiwa. Tetapi akhirnya mereka pada bertobat, tidak mau ribut lagi, dan menandatangani memorandum of understanding. Itupun setelah dimediatori oleh Dewa Kama dan Dewi Rati, Sepasang Dewa-Dewi Cinta.

Tensi akhirnya agak menurun, alunan musik nan indah membuat tiga tuhan di bawah, Bapa, Allah dan YHWH sedikit teralih perhatiannya dari pertengkaran sengit mereka.

“ Naik pohon yuk, main sama mereka kayaknya asyik deh…!!!” Allah berinisiatif untuk mengajak dua tuhan itu bergabung bermain. Akhirnya tanpa dikomando lagi, mereka melupakan insiden memalukan tadi. Bertiga mereka berlari saling mendahului untuk naik ke atas pohon,

Sesampai di atas, mereka dengan girangnya bermain. Ternyata alunan musik tentang cinta dan perdamaian itu telah merukunkan enam tuhan itu. Sebenarnya ada beberapa tuhan lain yang seharusnya bisa diajak bermain, tetapi karena sesuatu dan lain hal mereka tidak bisa ikut. Budha sedang sakit bisul, dan harus dirawat di rumah sakit surga untuk beberapa hari. Dewa2 bawahannya Brahma, Wishnu, dan Syiwa sedang mengadakan rapat kabinet membahas implementasi serta monitoring perjanjian damai. Shang Ti sedang sibuk mengedit kitab suci, soalnya cetakan terakhirnya sudah ribuan tahun lalu, jadi ada beberapa ejaan yang harus disempurnakan. Sedangkan Waheguru, hari ini pergi ke tukang jahit membetulkan sorbannya.

“Heh, ternyata damai itu enak ya, lebih bahagia dan bebas, tidak ada rasa cemburu dan dengki, wah seandainya dari dulu kita begini ya, kita kan selalu bisa bermain dengan riang.” Wishnu membuka pembicaraan dengan kalimat yang lugu, membuat yang lain tersenyum2.

Bapa : “ Kalian tahu nggak, setelah gue pikir2, gue tuh memang mustinya malu lho jadi tuhan, pertama gue berjenis kelamin, bias patriarki banget. Yang kedua, gue punya anak. Jangan2 kalau sperma gue ditemukan, ntar gue dikloning lagi. Tapi ini serius, Tuhan mustinya tidak terkatakan dan tidak terjebak oleh gender, sifat2 makhluk, dan juga tidak pilih kasih. Gue kan minder kalau lihat alam semesta yang guedenya amit2, terus gue ngaku tuhan, beranak pinak di planet kecil banget bernama bumi, terus manusia itu perwujudan gue. Ampun deh, jijai…”

Allah : “ Gue kalau malam juga mikir2 gitu, gue juga malu sebenarnya. Al-Quran itu adalah kata2 terbaik gue, yg penuh pengulangan dan juga beberapa kesalahan itu. Gue tuhan gitu lho, masak cuman gitu kemampuannya. Dan anak buah gue di bumi, banyak yang percaya kalau sebelum menciptakan semesta, gue menciptakan cahaya Muhammad. Dapat darimana gitu cerita ngarang kaya gitu, Enak saja bikin cerita supaya kesannya manusia itu makhluk terbaik. “

Brahma : “ Wah kalian ini telmi banget sih, dari dulu kenapa sadarnya. Gue sih dari dulu sadar koq kalau atas nama gue itu anak buah gue banyak yang korupsi lahir batin demi kepentingan duniawi. Contoh nih, Bangsa Arya bikin sistem kasta, celakanya mereka menyembah gue lagi. Gue juga kena batunya, kacian deh gue.”

YHWH : “ Hhhmmm, tapi kalian tahu nggak, kita ini kayaknya memang gak pantas jadi tuhan deh. Karena konsep tuhan kita dimanusiakan. Walhasil, kita terjebak oleh pemikiran manusia yang secara natural pengen jadi pemenang dalam survival of the fittest. Yang selalu ingin percaya, bahwa mereka berbeda dengan makhluk2 lain. Dan yang lebih parah lagi, yang selalu menganggap bahwa dirinya, kelompoknya, agamanya adalah yang terbaik, titik tanpa ada komanya. Aku punya usul bagaimana kalau kita mencari Tuhan baru”

Allah : “ Tuhan baru…????, apa maksudmu.???”

Allah terhenyak mendengar penuturan YHWH.

YHWH : “ Ya, Tuhan baru, per definisi sekaligus per materi. Tuhan baru yang tidak terkait dengan agama dan kepercayaan. Tuhan semua makhluk yang tidak pilih kasih dan juga tidak bodoh. Tuhan yang bisa dijelaskan oleh makrokosmos. Tuhan yang tidak bisa dikrangkeng oleh kitab suci. Tuhan yang bukan diciptakan manusia, tetapi yang benar2 Tuhan, bisa dibuktikan lewat metode ilmiah.”

Syiwa : “ Ah, itu proyek terlalu ambisius. Manusia di bumi kan sudah mencoba itu, tetapi karena teknologi belum memungkinkan, lagi2 karena kebodohan manusia, mereka masih celingak celinguk melihat alam semesta yang masih misterius ini. Tapi gue salut juga itu, mencari itu lebih gue hargai daripada taklid buta atas dogma2 agama.”

Allah : “ Gue setuju juga sih, biarlah manusia2 itu memahami alam semesta dulu, sampai mereka sadar kelemahan2 yang ada dalam agama dan ideologi mereka. Biarkan mereka mencari Tuhan dengan akal, karena Tuhan dengan iman itu kan tidak usah dicari. Kalau sudah iman, semuanya sudah titik. Kita ini, para tuhan2, mari kita juga mencari Tuhan.”

Wishnu : “ Sepakat gue, daripada kita ongkang2 dan bermain di surga, mending kita juga mencari Tuhan yang benar2 Tuhan. Bukan mencari sih sebenarnya, tetapi membuktikan dengan meyakinkan, bukan dengan bukti sekunder.”

Allah : “ Walau gue yakin Tuhan itu ada, walau tidak ada bukti primer empirisnya, kita harus fair dalam hal ini, kalau memang buktinya suatu saat nanti tidak ada, ya kita harus terima itu dengan legowo. Jangan terlalu mempengaruhi hasil, kita harus menerima hasil apapun dari pencarian kita.”

YHWH : “ Kayaknya kita perlu mengeluarkan komunike bersama, aku usul supaya minggu depan kita mengadakan sidang pleno surga. Bagaimana..?”

“ Sepakaattttttt…!!!!!” Serempak mereka menyetujui usul itu. Sementara hari sudah mulai gelap, semburat cahaya mentari masih sedikit menyisakan hangat bagi makhluk2 surga.

Amsterdam, sambil menunggu buka puasa