Archive for March, 2006

Manifesto Ontologi Alquran

Tuesday, March 21st, 2006

Dalam tradisi Islam yang beragam, Alquran mempunyai fungsi yang beragam pula. Wacana yang berkembang tentang Alquran itu sendiri pun juga cukup beragam. Tradisi Sunni dan Syiah, yang membentuk hampir 95% jenis Islam di seluruh dunia (mayoritas Muslim Indonesia adalah Sunni), menempatkan Alquran sebagai divine product. Dimana 100% Alquran adalah manifestasi keinginan Tuhan itu sendiri. Maka, sangat bisa dimengerti, jika ada yang berani menggoyang tahta Alquran itu akan sangat menyentuh salah satu sendi terdalam teologi ke Islaman. Tetapi fakta sejarah mencatat, bahwa dalam tradisi Mu’tazilah, mereka mencoba mengkritisi Alquran dengan menempatkan posisi Alquran sebagai makhluk. Makhluk dalam hal ini mempunyai implikasi yang jelas, yang melekat sifat2 kemakhlukan Alquran, yang antara lain adanya kemungkinan untuk salah, adanya kemungkinan untuk terjebak dalam kontekstualitasnya, adanya kemungkinan pengkodifikasian yang sedikit banyak mengurangi atau menambahi kandungan Alquran. Tetapi Mu’tazilah harus menghadapi konsekuensi politik dengan dienyahkan dari percaturan politik Islam karena bertentangan dengan diktator mayoritas kala itu, yaitu Kaum Sunni. Pun mirip halnya dengan Baha’i yang akhirnya harus hengkang dari tradisi keIslaman, dan mendirikan agama tersendiri dan mempunyai kitab tersendiri Aqdas.

Dalam Pour de la raison Islamique” (Menuju Kritik Akal Islam), Muhammad Arkoun mengajukan tesis tiga ranah pemikiran Islam, yaitu “yang terpikirkan” (le pensable/thinkable), ”yang tak terpikirkan” (l`impinse/unthinkable) dan ”yang belum terpikirkan” (l`impensable/not yet thought). ”Thinkable” adalah hal-hal yang mungkin sudah dipikirkan umat Islam, karena jelas dan boleh dipikirkan. Sedang ”unthinkable” adalah hal-hal menyangkut praktik kehidupan yang tidak ada kaitannya dengan ajaran agama. Dan ”not yet thought” adalah hal-hal yang belum pernah dipikirkan umat Islam.

Arkoun menyatakan, tradisi oral Alquran di masa2 awal selalu menempatkan Alquran sebagai thinkable. Ketika Alquran sudah menjadi mushaf resmi yang diawali di jaman Usman, dipandegani oleh Zaid bin Tsabit, Korpus resmi ini menjadikan Alquran unthinkable, disistematisasi berbarengan dengan konsep sunnah Muhammad dan pengkodifikasian Ushul Fikih oleh Imam Syafi’I dengan standar tertentu. Ini menimbulkan jarak antara Alquran dengan realitas, Alquran yang pada awalnya ditujukan untuk menyelesaikan masalah2 filosofis dan juga menjawab tantangan modernitas, menjadi kehilangan taringnya. Alquran diposisikan reaksioner, tanpa mampu memberi arti bagi perubahan2 dalam umat. Daerah2 yang tak terpikirkan ini diinstitusionalisasikan dalam bias hirarki keIslaman yang seharusnya tidak ada, karena Muhammad sendiri sangat menentang hirarki penafsiran.

Adanya pengkodifikasian yang dipaksakan atas nama persatuan di jaman Usman ini menimbulkan cacat tersendiri, karena Alquran diseragamkan dalam dialek Quraisy dan dengan Qiraat Hafidh dan Ashim. Yang pada akhirnya membatasi paradigma penafsiran yang seharusnya dibiarkan tetap terbuka dalam pasar pemikiran. Dan kronologi pewahyuan itu akan berbeda dengan kronologi pembacaan. (walaupun ada yg sudah mencoba membuat Alquran berdasarkan kronologi pewahyuannya.)

Arkoun memandang ini sebagai sebuah masalah pelik, dalam tesisnya dia mencoba mencairkan kebekuan prosedur legal-konvensional dengan pendekatan2 lain seperti sosiologi, antropologi, psychohistory, semiotika dan ilmu2 lain yang belum ada dalam tradisi klasik Islam.

Ayat2 Alquran dalam berbagai stratifikasinya (muhkamat-mutashabihat, makiyah-madaniyah, nasikh-mansukh, dsb) perlu digali kembali sesuai dengan semangat pencerahan dan kalau perlu dijudge apa adanya, tanpa mekanisme pembelaan diri buta yang dipunyai oleh semua umat beragama pada umumnya, bukan hanya Islam.

Alquran dalam kerangka ontologi sebagai makhluk, bukan Khalik diperlakukan umat dalam tiga garis besar yang berbentuk seperti piramida, (dari urutan pertama sampai urutan ketiga membentuk kurva mengecil) :

1. Panutan Taqlid (menganggap Alquran adalah segalanya, tidak ada yang lebih baik dari Alquran, dianggap sempurna dalam segala konteks, dan biasanya anti kritik).Alquran dianggap sebagai jawaban atas semua persoalan, tanpa tahu bagaimana Alquran memperoleh ayatnya dari konteks yang terjadi.

2. Panutan Ilmiah (mempelajari Alquran dengan mengkaitkannya dengan ilmu pengetahuan tetapi masih dalam koridor ke-divine- an Alquran). Harun Yahya adalah salah satu tokoh di dalam strata ini, yang dengan segala dalih dan reaksi menyatakan Alquran sebagai kebenaran mutlak.

3. Panutan Kritis (mencintai sekaligus mengkriti Alquran secara berimbang, mengakui kebenaran sekaligus mengakui kesalahannya).

Alquran menggunakan bahasa Arab sebagai mediumnya, yang tentu saja tidak mampu mengatakan kebesaran Tuhan dengan kebesaran yang seharusnya. Akan lebih aman bagi umat Islam untuk mengatakan Alquran adalah produk Muhammad daripada produk Tuhan, karena jika ada kesalahan atau kekeliruan redaksional yang menjadi sandaran person Muhammad itu sendiri, bukan Tuhan yang diyakini tak bisa berbuat salah. Apalagi jelas bahwa Muhammad adalah manusia biasa, sehingga kesempatan untuk berbuat salah selalu ada. Dengan mendivine kan Alquran, bahkan ada kemungkinan untuk melecehkan Tuhan karena sedikit banyak mengurangi kemahabesaran Tuhan dan melekatinya dengan sifat2 makhluk yang terbatas.

Umat2 Proselitis

Saturday, March 11th, 2006


Hari ini adalah hari bahagia buat Pendeta Markus, dia telah berhasil mengkristenkan Paijo, hari ini Paijo akan dibaptis. Usahanya untuk membuat Paijo menjadi salah satu gembala Yesus ternyata tidak terlalu susah, Paijo yang tidak berpendidikan dan sangat miskin itu tertarik untuk menjadi Kristen hanya dengan iming2 beberapa bungkus supermi, sedikit kata2 manis, dan tentunya janji untuk menjadi bagian dari kerajaan surga Allah Bapa.

Semua telah disiapkan, rejuvenasi mikvah yang telah dimahkotakan kepada tuhan Yesus oleh Yohanes, yang harus dialami oleh setiap gembala. Dan menyebarkan kata2 tuhan Yesus kepada bangsa2 adalah kewajiban, sebagaimana tercantum dalam Injil Mathius. Pendeta Markus telah menyelamatkan seorang gembala dari kesesatannya. Diberilah nama depan Fransiscus di depan nama Paijo, untuk mengukuhkan secara lahir batin bahwa Paijo adalah orang Kristen. Fransiscus Paijo begitulah namanya sekarang tampak mentereng.

Paijo berasal dari kampung Sumber Pitu, sangking kampungnya, untuk kesana harus jalan kaki, karena belum ada jalan layak yang bisa dilewati mobil atau sepeda motor. Paijo sepatu saja tidak punya, kerjaannya tiap hari cuma ngarit, dan angon sapi. Jari2 kakinya besar dan kasar, begitu pula tangannya. Dulunya Paijo itu penganut aliran kebatinan, yang oleh pemerintah dianggap sesat dan tidak diijinkan hidup, tentunya setelah keluar fatwa dari ulama2 pusat yang puritan itu.

Pendeta Markus datang ke desa Sumber Pitu dalam misi evangeliknya, menyatukan dunia di bawah kibar kasih Kristiani. Sumbangannya bagi penduduk desa tidak kecil baik berupa pembangunan fasilitas desa ataupun bantuan makanan dan kebutuhan sehari2, ditambah dengan sisi2 keramahan dan kehalusan budi, dengan cepat desa yang semula menjadi sentra penganut kebatinan itu menjadi sentra penganut Kristiani. Kontras dengan apa yang ditawarkan oleh pemimpin2 desa mereka yang korup, feodalistik, dan tak perduli akan kehidupan sehari2 rakyatnya. Ditambah pula mereka sudah muak dipameri program2 partai2 Islam yang hanya datang kepada mereka waktu pemilu, itu belum ditambah oleh partai2 nasionalis yang sejatinya tak kalah oportunis dan tak kalah bengis. Kedatangan Pendeta Markus seakan menjadi hujan di tengah kemarau panjang.

**********
Kiai Sahal sangat bangga, dengan mengislamkan Paijo, lengkap sudah tugas dia untuk menyelamatkan Paijo dari kekafiran dan kemurtadan. Sejalan dengan keyakinan dia bahwa hanya daulah Islamiyah lah yang akan membawa dunia ini menuju ke kesejahteraan lahir batin, begitu pun makhluk di semesta yang menurutnya berfitrah dalam Islam. Hanya upacara sederhana untuk menjadikan Paijo sebagai seorang Muslim, karena intinya hanya mengucapkan kalimat syahadat, mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad itu nabi Allah.

Paijo diberikannya baju koko, milik Kiai Sahal sebenarnya baju koko itu, tetapi sudah agak kekecilan karena perut Kiai Sahal sudah mulai buncit. Peci pun dibelikan oleh Kiai Sahal, sarung Paijo sudah punya, dibelinya setahun lalu untuk kemul, hanya Paijo dipesani benar2 oleh Kiai Sahal untuk belajar berthaharah, selalu dalam keadaan berwudhu dan menghindari segala macam najis, baik yg hakiki maupun yang dzati. Dan tibalah saat2 yang mendebarkan dan yang dinanti2kan. Paijo mengucapkan syahadat, di musholla Kiai Sahal yang letaknya juga didepan rumah Kiai Sahal. Untuk membuat Paijo lebih Islami, diletakkan nama Muhammad di depan namanya. Jadi lengkapnya Muhammad Paijo.

Paijo sekarang juga disarankan oleh Kiai Sahal untuk mengikuti sunnah nabi, mulai dari puasa senin kamis, memanjangkan janggut, syiwak gigi sebelum sholat, dan banyak lagi yang lain sampai2 Paijo pusing mengingatnya. Kesalehan normatif yang ditanamkan Kiai Sahal kepada Paijo, tentunya kalau Paijo sudah cukup kuat ke Islamannya, kesalehan normatif semacam itu sudah tidak diperlukan lagi.

Paijo di mata Kiai Sahal mempunyai peran penting, karena menurut informasi yang dia dapat, Paijo adalah salah satu pemimpin aliran kebatinan di desa Sumber Pitu. Kalau Kiai Sahal bisa meng-Islamkan Paijo, itu langkah awal yang baik untuk membendung arus kristenisasi yang selama ini menjadi mimpi buruk siang malam bagi Kiai Sahal dan juga banyak umat Islam di seluruh dunia.

Sehabis asyar Kiai Sahal pergi ke rumah Paijo, berjalan kaki satu jam sekedar untuk menanyakan kepada Paijo perkembangannya dalam belajar sholat dan belajar membaca Al-Quran. Dengan muka berseri2 dia menduga2 seberapa bagus kemajuan Paijo selama dalam didikannya. Paijo walaupun orang kampung diakuinya cukup pintar, dan cepat dalam menerima sesuatu yang baru. Tidak salah lagi, apalagi dengan kemampuan Kiai Sahal yang sering disebut2 orang sekitarnya mempunyai ilmu ladzuni, semakin cepatlah Paijo terangkat dari kejahiliyahannya.

“Assalamu alaykum….Assalamu alaykum Paijooo…”

“Waalaykum salam warahmatullah Pak Kiai, monggo..monggo…silahkan masuk..”

Dengan sopan Paijo mempersilahkan Kiai Sahal masuk, tentunya setelah mencium tangan Kiai Sahal. Kiai Sahal agak terkejut, di ruang tamu Paijo ada seorang tamu lain yang diterima oleh Paijo. Mengenakan pakaian kepasturan, dengan kalung salib menggantung. Ada sesuatu yang ganjil begitu pikiran Kiai Sahal. Begitu juga Pendeta Markus yang rupanya juga belum begitu lama di situ. Perasaan aneh dan sedikit ketidak sukaan berkecamuk di dalam hati Pendeta Markus.

Paijo : “ Lho monggo silahkan duduk Pak Kiai, oh ya saya perkenalkan ini Pendeta Markus. Pak Pendeta, ini Kiai Sahal.”

Kiai Sahal dan Pendeta Markus mengulurkan tangan masing2 dan bersalaman dengan agak ragu2. Mereka berdua sepertinya agak bingung dengan pikiran masing2.

Paijo :” Pak Kiai, ingin minum apa..?”

Kiai Sahal : “ Tidak usah repot2 Jo, air putih saja. Terima kasih.”

Paijo segera melesat kebelakang dan tak lama kemudian membawa segelas air di atas nampan untuk Kiai Sahal.

Pendeta Markus : “ Pak Kiai, sampeyan sudah telat, Paijo sekarang sudah menjadi pengikut Yesus, dan sudah dibaptis oleh saya seminggu yang lalu.”

Kiai Sahal kaget, mengerutkan kening berkali2. Lalu dia memandang Paijo, sedangkan Paijo malah menunduk.

Kiai Sahal : “ Lho anda mimpi barangkali Pak Pendeta. Saya mensyahadatkan Paijo 2 minggu yang lalu di musholla saya. Jo, gimana to kamu ini, kamu tahu , kamu tidak akan masuk surga, kalau kamu murtad, melepaskan syahadat, tidak mengakui Allah sebagai tuhanmu, dan Muhammad sebagai nabimu.”

Pendeta Markus :“ Kau yang justru tidak masuk surga Kiai Sahal, karena engkau bukan gembala Yesus, engkau adalah gembala sesat.”

Paijo : “ Maafkan saya Pak Kiai dan Pak Pendeta, setahu saya seorang Islam yang baik, akan sama dengan orang Kristen yang baik, akan sama dengan kejawen yang baik, bahkan akan sama pula dengan orang ateis yang baik. Bukan agama yang membuat seseorang menjadi baik, tetapi konsistensi terhadap nilai2 kebaikan. Dan semua orang baik melakukan kebaikan bukan demi surga, tetapi demi kecintaan terhadap pencipta dan ciptaannya.“

Kiai Sahal : “ Jo, darimana kamu dapat kata2 seperti itu..?”

Paijo : “ Nyuwun ngapunten Pak Kiai, walau saya orang kampung, tapi saya masih mampu berpikir merdeka, mengamati kejadian2 demi kejadian yang terjadi sepanjang hidup saya, kesimpulan saya, manusia sering menciptakan perbedaan2 yang tidak perlu, bukannya mencari persamaan dan mengolahnya demi kepentingan bersama. Saya mau menjadi Islam dan saya juga mau menjadi Kristen, itu karena saya tidak mau melukai perasaan Pak Kiai dan Pak Pendeta, karena saya mencintai Pak Kiai dan Pak Pendeta, cinta bagi saya adalah inti dari agama dan ideologi apapun. Begitupun kalau suatu saat ada yang mengajak saya menjadi ateis, saya akan dengan sukarela mengikutinya, tanpa harus hanyut di dalamnya. Saya dimana2, tetapi sejatinya saya tidak dimana2. Membahagiakan makhluk lain itu jauh lebih penting daripada ribut2 hanya masalah agama dan kepercayaan.”

Pendeta Markus dan Kiai Sahal terdiam, tidak menyangka mereka diberi kuliah bertubi2 oleh pemuda kampung yang selama ini dianggap bodoh dan remeh.

Derita Al-Quran

Saturday, March 11th, 2006

Perkenalkan pembaca, namaku Al-Quran. Anda pasti sudah kenal saya, secara langsung maupun tidak langsung. Saya mewarnai dunia ini sejak abad ke 7 sampai sekarang ini, dikumandangkan di seluruh pelosok dunia. Dikenal dari kolong jembatan Jakarta sampai istana raja Arabia di pegunungan Alpen. Dari Bronx di megapolitan Rio de Janeiro sampai kantor2 elit di Silicon Valley. Dari syukuran kelahiran sampai berkabung atas kematian. Dari lorong2 sempit shantytown di Uganda sampai di laptop2 mahasiswa muslim di Eropa. Aku praktis ada dimana2 pembaca, setiap detik jutaan orang membacaku. Aku adalah salah satu dari jutaan saudaraku yang menyebar di seluruh dunia.

Minggu yang lalu aku disumbangkan oleh seorang anggota DPR di perpustakaan daerah. Jadi selama seminggu ini aku mendapatkan rumah baru, aku beruntung sekali, di tempat baru ini temanku jadi banyak. Di tempat yg lama, aku cuma dipajang saja, gak pernah dibaca. Dulu aku dijadikan mahar perkawinan anggota DPR itu dengan istri pertamanya, setelah dia bercerai karena istrinya pertamanya tidak mau dimadu, aku diserahkan ke perpustakaan daerah.

Aku merasa gembira sekali, serasa lepas dari kubangan gelap, tiap hari dulu aku hanya melihat muka2 masam, hubungan rumah tangga yg tidak harmonis, penindasan atas hak2 istri, anak2 yang tidak terdidik dengan baik. Begitu datang aku langsung disambut oleh penghuni2 lama disini, yang paling tua di sini dan paling gemuk itu namanya Veda, yg juga cukup tua walau tidak setua Veda ada Tipittaka, ada juga Injil, ada Taurat, ada Upanishad, ada Politica, Ada Republic, ada Divina Comedia, ada Das Kapital, ada banyak sekali teman2ku di sini. Walaupun begitu, aku tidak bisa langsung dekat sama mereka semua, yang paling dekat selama ini masih Injil, yang sedikit lebih tua daripada dari aku. Aku sering curhat dengannya, dia juga yang selama ini sering melindungiku dari olok2an teman2 dari rak sebelah kiri, terutama Das Kapital yang suka menggangguku. Tapi aku senang di tempat baru ini, aku semakin dewasa, banyak yang kupelajari dari teman2 baruku. Aku juga mengangkat adik, namanya Aqdas, yang terus terang kuakui kadang lebih dewasa daripada aku.

Di tempat baru ini aku ditempatkan bersama teman2 dari jenisku, yang akhirnya aku malah sering diskusi dengan mereka semua. Dari diskusi2 itu aku menjadi terbuka akan warna-warninya dunia filsafat, itu baru dari filsafat agama. Lebih beragam lagi kalau aku kadang2 mendengarkan percakapan2 dari teman2 yang berada di rak sebelah kiri. Dari diskusi itu, aku menjadi sering merenung sendiri,

Beberapa hari lalu aku diambil dan dibaca oleh seorang anak kecil, umurnya kira2 14 tahunan, pakaiannya kumal, celananya robek disana-sini, kulitnya hitam diliputi debu. Setelah menengok kanan kiri, dia mengambilku dan segera pergi ke meja dan membacaku. Sangat bahagia diriku pembaca sekalian, setelah sekian lama aku hanya dipajang, akhirnya ada juga yang membacaku. Memang dia kurang lancar membacaku, tapi aku bisa merasakan aura kerinduan yang sangat dari tatap matanya dan desah suaranya saat membacaku. Tapi sayang pembaca, tak berapa lama kemudian petugas perpustakaan mengusirnya, disertai gertakan2 yang memilukan hatiku. Tentunya bagi anak itu lebih memilukan lagi, aku melihat air mata menetes di pipinya. Aku sangat sedih sekali..

Para pembaca, terus terang saja, aku kadang iri sama Injil, Veda, Tipittaka, dan yang lain2. Bukannya apa2, tapi jelas semua mengakui bahwa mereka adalah ciptaan manusia, jadi kalau salah ya lumrah, lha memang ciptaan manusia. Tapi aku di rumah besar ini adalah satu2nya yang dianggap produk Tuhan, dianggap sebagai kata2 Tuhan, jadi kalau aku salah seperti salahnya aku tidak mengharamkan perbudakan, atau salahnya aku melakukan perhitungan matematika dalam pembagian warisan, berarti yang salah Tuhan dong, karena aku adalah kata2nya Dia. Aku bukan kata2 Muhammad. Karena Muhammad hanyalah mediumku. Injil memang banyak kesalahan di dalamnya, apalagi yang edisi Latinnya. Tetapi Injil bisa berkilah bahwa memang dia ciptaan manusia, yang membuat adalah murid2 Yesus. Veda juga bisa selamat dari tuduhan, karena memang dia ciptaan resi2, jadi kalau salah ya yang salah resi yang membuatnya. Tipittaka juga begitu, Sidharta kan juga manusia biasa, dia pasti bisa salah. Tapi aku, sekali lagi aku, aku adalah kata2 Tuhan, sungguh pedih hatiku mengingat itu. Aku telah menghina Tuhan, tuhan segala alam. Aku telah digunakan umat untuk menghina tuhan, mengapakah tuhan yang segala maha itu hanya mempunyai kata2 terbaik seperti aku. Bahasaku memang indah, diksi2ku memang mumpuni, tapi aku konstekstual, aku ada karena keadaan, aku ada karena Muhammad butuh alat untuk menyadarkan kejahiliahannya umat. Muhammad butuh dogma sebagai alat, karena orang bodoh yang celakanya 99% manusia tergolong dalam golongan orang bodoh ini butuh dogma, butuh simbol, butuh balasan atas yang dilakukannya, butuh ancaman dan butuh hadiah. Muhammad sendiri tidak butuh dogma dan simbol, karena dia manusia sangat pragmatis dan sekaligus futuristik idealis. Muhammad selalu mengingatkan akan bahaya kebodohan atau kejahiliyahan, karena dia tahu benar akan seperti apa umatnya sepeninggalnya. Waktu dia mau mati, aku ingat benar bahwa dia berkata “ Umatku..umatku…umatku…”, kekhawatiran yang tidak berlebihan jika melihat apa yang terjadi setelah dia meninggal. Yang mengantarkan jenazahnya hanya 5 orang, sedangkan yang lain ribut membicarakan vacuum of power. Umar dengan lantang akan menebas leher siapa saja yang bilang Muhammad meninggal, bibit2 kultus yang justru ada di kalangan sahabat2 terdekatnya. Belum kejadian2 memalukan beberapa lama setelah dia meninggal, istrinya Aisyah perang dengan menantunya Ali bin Abi Thalib, cucunya Hasan dan Husein dipenggal kepalanya oleh orang2 haus kekuasaan, semua sahabat terdekatnya mati terbunuh karena kecemburuan karena kekuasaan,

Hidup lebih dari 14 abad membuatku menjadi saksi bisu kenaifan manusia, terutama justru kenaifan jutaan pembaca setiaku. Yang sangat membuatku pedih adalah ucapan Muhammad Abduh sewaktu kembali dari perjalanannya ke Eropa, dia lebih melihat Islam di sana daripada di negeri2 yang selama ini mengaku sebagai negeri Islam. Nilai2 persamaan hak lebih dihormati di negeri yang sedikit sekali orang yang bisa membacaku, kesejahteraan rakyat kecil lebih terjamin di negeri2 itu, di saat korupsi dan komersialisasi diriku dijadikan propaganda politik oleh orang2 yang mengaku Islam yang sering hanya demi kepentingan sesaat semata.

Jika hidupku memang ditakdirkan untuk menanggung beban ini, aku akan menjalaninya dengan berat hati. Sebenarnya lebih baik aku tiada atau mati saja, daripada hidup menanggung beban melecehkan tuhan. Daripada tiap detik dikumandangkan di seluruh dunia, tapi substansi nilaiku dibuang di pojok2 sejarah, sedangkan nilai2 normatifnya saja yang jadi keributan dimana2.

Pembaca sekalian, doakan aku ya, biar Allah menguatkan hatiku menerima perlakuan makhluk2, menguatkan aku menghadapi penghinaan2 filosofis ini. Sudahlah, kurasa sudah cukup aku curhat, yang lain sudah pada tertidur. Weda sudah ngorok kudengar, Injil dan yang lain jg sudah tidak terdengar suaranya. Aku ingin tidur, kalau bisa selamanya, agar penderitaanku ini berakhir, penderitaan peradaban yg harus kusandang, oh malang sekali diriku. Terima kasih pembaca, sudah sudi mendengarkan keluh kesahku.

Paradigma Seks Progresif

Friday, March 10th, 2006

Setiap perbuatan adalah pilihan bebas yang harus dipertanggungjawabkan, dipertanggungjawabkan kepada individu masing2, dan kaitannya dengan status interdependensi manusia, dipertanggungjawabkan pula kepada publik. Termasuk dalam hal ini pilihan terhadap ekspresi seksual. Oleh sebab itu, kemampuan dan keterampilan dalam membuat keputusan sangat dibutuhkan dalam mengelola energi seksual.

Dalam moralisme tradisional, seks lebih cenderung disakralkan, pensakralan sex bukan hanya tidak bagus, tetapi justru membawa hasil yang sebaliknya dari yang diharapkan. Karena ketika sex ditabukan, semakin tertariklah orang untuk mengexplorenya. Dan apabila eksplorasi itu tidak disertai pengertian yang baik akan seks, maka akibat2 buruklah yang biasanya terjadi. Masyarakat yang hipokrit, yang berfantasi dan berserks ria di bawah permukaan, pada akhirnya hanya akan menimbulkan gejolak2 dan friksi yang seharusnya tidak terjadi

Seks dalam banyak agama dianggap tabu, yang akhirnya akan banyak membawa penyimpangan2 yang tidak diharapkan. Di dalam rumah tangga Islam, sering kita lihat terjadinya domestic violence dalam rumah tangga yang diakibatkan oleh sistem seks yang tidak sehat, yang didominasi oleh bias patriarki. Wanita terutama sering dirugikan oleh sistem ini. Di agama Katolik dan Budha, dimana para pemimpin agama diharuskan selibat dan memisahkan diri dari kehidupan seks, yang terjadi justru pelampiasan seks dalam bentuk lain, yang terjadi dalam bentuk homoseksualitas maupun pedofilia. Di kehidupan masyarakat Barat, seks sering didewa2kan yang berakibat pada pencarian kebahagiaan yang tidak pada tempatnya, karena seks benar2 dianggap sebagai tujuan, bukan alat untuk mencapai kebahagiaan.

Dalam masa awal agama2 tumbuh, biasanya yang terjadi adalah tekanan besar2an masyarakat terutama yg ditujukan kepada wanita. Wanita tidak punya kebebasan sama sekali untuk menentukan pilihannya sendiri dalam bereproduksi. Mereka tak lebih dari sekedar barang yang diperuntukkan untuk suaminya masing2, bias patriarki yang sangat kentara dalam konstelasi sejarah selama ini. Agama datang dengan membawa perubahan cukup progresif sebenarnya, mengatur kehidupan seks dengan pembatasan jumlah istri, keharusan berbuat baik terhadap istri, dan juga pemenuhan hak2 istri, walaupun masih dalam kerangka superioritas satu gender terhadap gender lain. Tetapi itu ternyata tidak cukup, ketika konteksnya sudah berubah, seyogjanya pula peraturan itu dirubah. Seks pranikah, masturbasi/onani, pelacuran atas keinginan pribadi, pornografi atas dasar ekshibisionisme, dan homoseksualitas seharusnya dianggap sebagai hak2 asasi manusia yang perlu dihormati dalam koridor masyarakat demokratis. Tahun 1968, Presiden USA Lyndon Johnson menugaskan sebuah komisi untuk meneliti tentang pornografi dan seksualitas, beberapa keputusan penting komisi ini antara lain, lebih digalakkannya pendidikan seks yang sehat, pembatasan akses anak2 atas pornografi, dan pembebasan akses untuk orang dewasa atas pornografi. Belanda adalah salah satu contoh dimana justru kebebasan ekspresi seks akan sangat mengurangi angka penyimpangan seks seperti perkosaan, pelacuran dibawah tekanan, ataupun pedofilia.

Ketika seks mulai mendesak untuk menjadi perbuatan atau perilaku, kualitas kemanusiaan kita mulai diuji. Bagi binatang, perilaku seksual hanyalah semata mengikuti insting, sedangkan bagi manusia, binatang yang berakal, setiap perilaku atau perbuatan mesti berada dalam tingkat kesadaran dan melalui pertimbangan dan keputusan. Peraturan yang berlebihan bukan akan membawa hasil yang baik, tetapi justru sebaliknya akan menyuburkan perilaku2 menyimpang.

Dengan meng-ordokan seks sebagai kebutuhan, kita akan selamat dari penegasian keseluruhan seks yang bisa berakibat buruk jika dipaksakan tanpa kesadaran, tetapi juga kita terhindar dari pemujaan seks yang tidak perlu. Cinta bisa dikaitkan dengan sex, tetapi tidak harus. Karena sex adalah kebutuhan naluriah manusia, seperti kebutuhan2 lain manusia seperti makan dan minum.

Kita telah berusaha memahami bahwa seks adalah milik kita, bagian dari tubuh kita, bagian dari hidup dan eksistensi kita sebagai manusia. Kita harus menguasai seks kita, bukan dikendalikan oleh seks. Mengendalikan perilaku seks bukan dengan cara melarangnya, tetapi justru dengan memberi penyaluran yang bertanggung jawab dan sehat ( NB : Tidak hanya dengan pernikahan seks itu bertanggung jawab dan sehat).
Yang perlu kita lakukan bukanlah membatasi ekspresi seks, tetapi memberi kesempatan yang sama dan adil untuk heteroseksual wanita, waria maupun laki2, homoseksual wanita, waria maupun laki2, untuk mengekspresikan seks mereka, selama dalam batas dilakukan dengan sukarela tanpa paksaan. Dan negara tidak berhak mengatur preferensi ekspresi seksual warga negaranya, karena justru seharusnya tugas Negara untuk melindungi preferensi itu.

Last but not least, seks itu sarana, dan sarana itu netral, tergantung bagaimana kita memanfaatkan sarana itu untuk kebaikan kita masing-masing.