Archive for April, 2006

Akhirnya, Mbah Pram pun pergi

Saturday, April 29th, 2006

Mbah Pram
Bahagia engkau sekarang
Terbebaskan dari kematianmu
Hidup lagi walau bukan di bumi manusia

Mbah Pram
Cucumu senang sekali
Melihat engkau pergi dari sini
Dari kemelut nafsu dan kemunafikan insani

Mbah Pram
Teruslah merokok
Karena merokok tidak dilarang di sana
Karena merokok tidak menyebabkan sakit paru2 di sana

Mbah Pram
Teruslah menulis
Orde baru dan Orde Lama tak bisa melarangmu lagi
Anak semua bangsa yang dungu tak bisa mengekangmu lagi

Mbah Pram
Rumah Kaca itu masih menghantui Indonesia
Cerita dari Blora masih menyakitkan seperti dulu
Jejak Langkah para pembebas masih dimanipulasi
Nyanyian Kemiskinan semakin bisu dan sunyi

Mbah Pram
Berhubung engkau tidak percaya agama
Cucumu tidak akan mendoakanmu
Karena hidupmu sudah lebih dari doa
Seorang bisu yang mencoba bersuara
Demi kemerdekaan dan kesejahteraan bangsanya
Walau dibungkam dengan senjata

Mbah Pram
Berhubung Engkau tidak butuh hadiah Nobel
Cucumu menghadiahimu dua selop rokok dan sarung belel

Sampai Jumpa Lagi Mbah Pram

Tertanda,

Cucumu, lahir dan besar di Blora, sedang belajar di Amsterdam

Ketika tuhan menikahi pelacur

Sunday, April 16th, 2006

Serabut mendung berarak di horizon, semilir sang bayu tampak semakin keras menelusuri sang bahana. Tetapi lelaki itu tertawa2, semakin lama semakin keras dia tertawa. Rambut panjang tak terawat yang dipunyainya juga semakin awut2an diterjang sang bayu. Sekejap kemudian dia diam, tercenung, mukanya jauh memandang ke haribaan bumi, seolah2 ingin menelanjangi bumi, menembusnya hingga ke pusat2 syarafnya yang panas penuh magma. Sekejap kemudian dia menangis, mengingat masa2 itu, masa kebodohannya, masa dimana dia tidak sanggup mentransformasikan ide2 revolusionernya kedalam strategi yang sistematik. Dia semakin sesenggukan, bulir2 air jatuh dari kelopak matanya.

“ Aku, akulah tuhan itu, aku….aku…aku..iya aku…”

Dia semakin tertunduk, airmatanya semakin deras. Sungguh dia menyesali satu ucapannya, yang kelak akan menjadi boomerang bagi kedewasaan manusia. “ Pintu kerajaan surga, hanya melaluiku”, kenapa dulu dia bilang seperti itu. Jengah dia sudah melihat tingkah laku manusia yang mengaku menjadi pengikutnya. Dipandang dari sudut manapun tidak patut dia menjadi tuhan, hanya menambah malu saja daftar rentetan kebodohan manusia sepanjang masa. Setelah beribu2 tahun manusia menyembah2 petir, menyembah matahari, menyembah bintang, menyembah api, nah ini sekarang malah menyembah manusia, manusia yang menyembah manusia. Kedengaran sangat klise, tetapi itu terjadi. Di saat manusia sudah tahu bahwa semesta punya milyaran galaksi, trilyunan matahari, dan milyaran trilyun planet, masih saja ada yang percaya bahwa bumi adalah pusat semesta, tuhan menurunkan makhluk terbaiknya di bumi, manusia adalah kalifah bumi, dan sebagainya dan seterusnya. Serasa ingin muntah, melihat kemunafikan dan kebodohan manusia2 yang ditinggalkannya.

Aku sudah tidak perduli, toh di saat ini, di masa ini, di jaman komputer ini, diperbaikinya sikap itu dengan teosofi dan filsafat perennial tetap tak mengubah pandangan manusia akan kesuperioran ajaran yang dibawanya. Adakah keselamatan di luar aku, jawabnya keras sekali, tidak tidak….tidaaaakkk dan tidaaaaaaak.

“Sudah kuputuskan, aku akan menikahinya”

demikianlah sabda tuhan waktu itu. Tetapi manusia memang pintar mengakali tuhan, sehingga keputusan tuhan pun dibelokkan oleh manipulasi sejarah. Aku maklum walaupun aku marah, sejarah memang tak lepas dari kemauan yang membuatnya. Sejarah sering dikorupsi demi kepentingan politik yang menulisnya. Semua murid laki2ku tidak menyetujuinya, bahkan terkesan sinis, tapi aku tak bergeming dengan keputusanku. Bukan keinginan nafsuku yang membuat aku memutuskan untuk menikah, tetapi dari keinginan terdalamku untuk melawan stigma perspektif negatif tentang sex sekaligus mengentaskan perempuan dari penindasan yang mereka alami.

Yang tidak orang ketahui, dia bukanlah pelacur. Dia adalah seorang wanita cerdas yang kuangkat sebagai sahabat sekaligus istriku. Dan dia adalah nabiku, karena aku ingin mengguncang alam pemikiran manusia, wanita pun berhak menjadi nabi. Dia bahkan kuangkat sebagai nabi diantara nabi. Walau akhirnya aku harus merasa kalah dengan umatku sendiri, bias patriarki dalam hirarki ajaranku akhirnya membawa kampanye hitam atas istriku. Istriku dicap sebagai pelacur, tanpa satu buktipun yang mendukung. Tapi peduli amat, memangnya kenapa kalau aku menikahi pelacur, pelacur adalah profesi yang perlu dihormati. Apalagi jika itu dilakukan dengan sepenuh hati dan tanpa paksaan, dan aku percaya pelacur raga masih punya hati nurani, yang bejat adalah pelacur jiwa, pelacur2 intelektual. Dan aku merasa kalah lagi, umatku terlalu mengagungkan moralisme tradisionalnya, moralisme konservatif yang tidak berdasar. Moralisme tradisional biasanya malah justru melegitimasi represi atas nama gender. Dan aku sudah muak dengan moralisme tradisional dan penjaga2nya yang sok suci. Moralismeku adalah moralisme substansi, bahwa siapapun berhak menentukan preferensi eskpresi hidupnya dengan koridor tidak menindas pihak lain.

Memang jejak2ku sengaja dihapuskan atau dibelokkan, tapi aku tidak putus asa karenanya. Karena aku tahu bagaimana roda dunia perlu berputar, karena aku tahu bagaimana sejarah itu dibentuk, dan aku tahu bagaimana kepercayaan itu diciptakan. Ajaranku yang diinstitutisionalkan menjadi kendaraan politik paling wahid.

Sekarang betapa jauh asap daripada api, dan asap membubung memenuhi angkasa luas. Kadang, aku bangga juga dengan tersebar luasnya ajaranku, hampir sepertiga penduduk bumi memeluk ajaranku, tetapi aku tidak bisa menjamin bahwa aplikasi teologinya akan menopang teologi intinya.

Kunyalakan sekedar api unggun didepanku untuk menghangatkan kebekuan hatiku, karena otakku memang sudah tidak bisa kugunakan untuk berpikir lagi. Aku sudah jenuh dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, nasi sudah menjadi bubur, dan mukjizat apapun belum tentu bisa membalikkan situasi yang sudah mengkooptasi alam pemikiran manusia saat ini.

“Kisanak, jangan bersedih, ini waktunya mengobarkan revolusi pemikiran spiritualitas. Jika engkau sudah merasa kalah sekarang, siapa lagi yang akan mampu menang.”

Kuusap mataku, berkali2 dan kulihat kanan kiri, dan secepat kilat kumenoleh ke belakang. Bajingan, wanita berbaju putih itu yang bicara tadi, mengagetkan aku saja. Kulihat dia tersenyum, dan menyalamiku dengan santun.

“Siapa engkau..?” kuberanikan diri langsung bertanya kepadanya.

“Aku ‘Bumi’ anakku, putih bajuku adalah kesadaranku akan rentangku yang menyemikan kebijaksanaanku, aku datang kepadamu hanya untuk mewartakan bahwa engkau tidak sendiri anakku.”

“Jangan ngawur kau Nenek Tua, aku tidak pernah tahu siapa itu bapakku, karena ibuku selalu menyembunyikannya. Dan kau datang2 memanggil aku anak. Ibuku hanya mengatakan dua hal, bapakku bukanlah laki2 yang akhirnya menikahi ibuku, dan bapakku adalah manusia biasa.”

“ Anakku, semua yang ada di bumi ini adalah anakku. Akulah yang menyaksikan semua tingkah laku mereka dari lahir sampai mati. Akulah ibu segala ibu.”

Aku akhirnya manggut2, walaupun bingung kepada wanita tua yang mengaku bernama Bumi ini.

“ Anakku, orang2 sepertimu adalah orang2 revolusioner, berani menentang status quo, melawan arus mayoritas, dan tentunya pecinta2 sejati. Tetapi seringkali sepeninggal orang2 sepertimu, para pengikutmu melabeli hidupmu dengan mukjizat dan cerita2 irasional, dan tentunya banyak yang mengkultuskanmu. Tapi sekali lagi anakku, kamu tidak sendiri. Pembawa ajaran besar yang pernah kusaksikan selalu diperlakukan sama oleh umatnya. Dikorupsi sejarah hidupnya untuk kemudian diagungkan melebihi yang semestinya, dan pada akhirnya digunakan untuk kepentingan politik. Tentu saja, selalu ada hal2 baik dalam ajaran kalian yang masih digunakan, tetapi sedikit banyak ajaran kalian salah dimengerti.”

“ Sebentar2 Nenek Tua, kalau benar apa yang engkau bilang, aku ingin ketemu dengan mereka.”

“ Hussss, dasar pemberontak kamu, namaku Bumi nak. Jangan panggil nenek, tak jewer kamu ntar. Ikutlah denganku, aku akan pertemukan kamu dengan pendahulu ataupun penerusmu. Tapi sebelumnya, kamu tak ajak nonton film.”

Digelandanglah aku sama nenek tua bernama Bumi itu, lho nenek tua lagi, semoga dia tidak bisa membaca pikiranku. Memangnya aku anak kecil mau dibego2in, kalau dia gadis cantik ya aku panggil gadis cantik, kalau kenyataannya nenek tua ya mau bagaimana lagi. Dan cilaka dua belas, dia ngajak nonton film, nonton film sama nenek tua oh oh oh , is there anything better..?.

Aku diajak memasuki sebuah tirai yang belakangnya gelap sekali, berdiri sebentar tanganku dipegang oleh nenek tua itu. Wah jangan2, hhmm jangan2, ….aku sudah agak takut2 gitu jangan2 ada sesuatu yang ingin dilakukan nenek tua ini terhadapku. Tiba2 cahaya memancar terang, kulihat beberapa fragmen film di layar besar. Eittzz, sepertinya aku kenal dengan wanita itu, oww itu ibuku. Dia sedang bermain2 dengan teman sebayanya, di fragmen yang lain aku lihat kelahiran seorang bayi, oh oh oh itu ibuku yang melahirkan aku. Aku lahir di musim semi, bukan di musim dingin seperti yang sebagian besar manusia percayai. Fragmen yang lain lagi aku sedang berkhotbah di taman dikelilingi oleh murid2 kepercayaanku. Nenek tua itu ternyata menipuku, ini bukan film biasa, ini benar2 nyata kehidupanku dulu. Tubuhku bergetar, mengenang masa2 berat perjuanganku melawan ketidak adilan dan penindasan. Di saat yang sama aku juga bingung, kekuatan apa yang dipunyai nenek tua ini bisa melihat balik kehidupanku dulu.

Tak terasa semalam suntuk aku menonton film bersama nenek tua itu. Setelah film selesai kantuk segera menyerangku. Aku tertidur pulas.

Plaakkk….!!!!

Sesuatu yang keras mendarat di pipiku.

“ Hey pemberontak, bangun. Katanya ingin ketemu saudara2mu”

“ Eh iya iya Nek eh salah iya Bumi. Habis ini kita kemana…?”

“ Hayo ikut aku..”

Aku digandeng menuju tirai yang satunya lagi. Tirai dibuka, wah gedung film lagi seperti yang tadi, bedanya ini yang nonton lebih banyak.

“ Segera sana gabung dengan kawan2 yang senasib denganmu, itu ada Muhammad, ada Sidharta, ada Ahmad Baha’i, ada Mani, ada Zarathustra, dan banyak yang lain. Sengaja kubuatkan klub film dokumenter buat kalian biar kalian lebih ‘sadar sejarah’.”

Doa Novena Seorang Romo

Tuesday, April 11th, 2006

Tengah malam
Di bawah altar bening
Di antara waktu berdenting
Seorang romo menangis hening

Oh Gusti Yesus Yang Pemurah
Tidak cukupkah tangis tertumpah
Tuhan pun kini berlumuran darah
Atas nama-Mu banyak orang menjadi
bromocorah

Oh Gusti Yesus sembahanku
Majukanlah umat Islam itu
Didiklah mereka dengan kasih-Mu
Karena kalau mereka pintar dan berilmu
Kamipun akan aman dan bersama maju

Oh Gusti kepadanya aku terjalin
Kasihanilah umat Islam yang miskin
Berikanlah umat Islam kekuatan batin
Karuniai mereka semua kebutuhannya terjamin

Oh Gusti Yesus penebus dosa
Kami umatmu kaya raya
Gereja2mu dibangun layaknya istana
Tapi ternyata itu tidak membuat kami bahagia
Karena saudara kami umat Islam masih
sengsara
Kecemburuan ekonomi dilegitimasi agama
Menjadi kerusuhan di seluruh pelosok
nusantara

Oh Gusti Yesus Sang Pencerah Hati
Indonesiaku kini seperti ladang penjagalan
insani
Sesama manusia saling jegal sana sini
Tidak tergerakkah Engkau untuk
mengejawantahkan ekaristi
Semua manusia berkorban demi kebahagiaan
seluruh bumi

Oh Gusti Yesus yang penuh damai
Cintailah umat Islam seperti engkau mencintai
umat Kristiani
Sejahterakanlah mereka sehingga kami duduk
sama tinggi
Sadarkan juga gembalamu yang egoismenya
tinggi
Supaya mereka mau berbagi dan tidak
mengisolir diri

Karena kami
Umat Islam dan umat Kristiani
Adalah saudara dalam semangat ekaristi
Adalah saudara dalam mewujudkan nilai2
Islami

Amsterdam, April 2006
This poem is based on true story.

Seni Membakar Surga

Thursday, April 6th, 2006

Deru sebuah mobil Ferrari merah memekakkan telinga, aku segera bangun dari kursi malas. Aku lihat Dino segera meloncat keluar mobil dan dengan riang segera merangkulku, wajahnya berseri2. Kucium dahinya yang putih itu.

" Eyang…eyang kakung…aku dapat rangking kelas satu. Aku minta hadiah dong Eyang"

" Dino mau minta apa..?"

" Dino minta mobil balap Eyang, seperti yang Papa punya. Tapi yang lebih kecil, jadi Dino bisa menyetirnya."

Bapaknya segera menyusul dari belakang, dan segera mencium tanganku. Anak bungsuku ini kelihatan gemukan sedikit setelah beberapa waktu dimasukkan penjara. Dino adalah cicit pertamaku, baru berumur 6 tahun. Dia baru kelas 1 SD, tetapi bakatnya sudah kelihatan, dia sangat menyukai balapan dan juga berprestasi di sekolahnya. Aku sengaja mengirimkan Dino ke SD Islam favorit di kota besar ini.

Dino segera bermain2 di taman, sementara bapaknya segera bergabung dengan anak2ku yang lain yang telah menunggu di ruang belakang. Aku memang ingin mengadakan rapat keluarga malam ini, sejak huru hara beberapa tahun lalu, sangat susah sekali untuk berkumpul lagi dengan anak2ku. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka masing2, walaupun begitu mereka memang menyempatkan selalu menjengukku, tidak bersamaan seperti biasanya, tetapi cukup membuatku gembira.

Aku segera berjalan2 mengelilingi taman sambil memperhatikan keceriaan Dino bermain, ah andainya aku bisa menjadi anak kecil lagi, dan tidak punya masa lalu. Betapa menyenangkan itu, aku bisa memulai semuanya dengan lembaran kosong. Masih bisa bermain2 bola di lapangan tanpa ada wartawan rese yang selalu membuntuti, bisa mandi di sungai tanpa khawatir ada orang yang berniat jahat kepadaku. Ah.. masa kecil memang selalu indah, aku jadi tersenyum2 sendiri. Betapa perjuangan hidupku penuh lika-liku, tetapi aku telah bisa membuktikan bahwa aku adalah ksatria adiluhung, yang bisa membalikkan segala yang tidak menguntungkan yang aku punya menjadi sangat berharga terutama bagiku dan keluargaku.

Tiba2 Dino berlari ke arahku…..

"Eyang, Eyang.., ada temen Dino bilang, katanya Eyang orang jahat lho…, padahal Eyang kan orang baik, lembut, penuh kasih sayang, selalu tersenyum kepada semua orang, …….makanya Dino pukul dia."

"Biarkan saja, Dino harus sabar menghadapi orang2 seperti itu."

"Tidak bisa Eyang, Eyang kakung kan selalu baik sama Dino, dan tidak pernah jahat sama sekali."

Secepat kilat Dino lari kebelakangku, dan langsung menaiki punggungku…

"Eyang.., hayo…Dino minta gendong…hayo..Eyang lari….grengnggg…grenngggg"

Hhmmm, isengnya Dino datang lagi, segera dia memegang kupingku seperti memegang setir sepeda motor, ditarik2 sambil menirukan suara sepeda motor. Aku pun terpaksa berlari2 kecil sambil terengah2…

"Lebih kenceng lagi Eyang…grengggg…grenggg…"

Aku pun lebih mengencangkan lariku, berkeliling taman untuk menyenangkan cicitku yang satu ini. Hup..tiba2 nafasku sesak, berat sekali kurasa dadaku, akupun terhuyung jatuh tak sadarkan diri.

Saat terbangun, aku segera sadar aku telah berada di Rumah Sakit. Sendiri di ruang besar ini, beberapa bagian tubuhku terasa sakit semua, penyakit tua ini memang menjengkelkan, seperti bayi saja diriku ini. Aku teringat lagi percakapanku dengan Dino beberapa saat lalu. Oh cicitku yang masih polos itu, selalu membelaku dengan segala yang dia punya. Kasihan dia, belum tahu dia tentang lika-liku hidup. Dia masih harus banyak belajar tentang kerasnya kehidupan. Tiba2 nafasku sesak lagi. aku segera teringat ucapan guru SR (Sekolah Rakyat)-ku dulu, Memento Mori dia bilang, yang artinya ingatlah mati. Ah aku tidak mau mati, kehidupan ini masih indah untuk dinikmati. Aku memang sudah uzur, tetapi aku belum mau meninggalkan dunia indah ini. Tetapi memang kurasa telah sampailah waktuku, untuk melepas beban ini. Sesak jiwa yang telah lama membelenggu nafasku, sekarang harus kupendarkan sedikit demi sedikit. Telagaku telah kering, dipompa habis2an oleh nafsu dan kemunafikan. Aku telah membakar surga itu, dan aku harus minta maaf, kepada yang menciptakannya dan kepada penghuninya.

Penghuninya adalah anak2 kecil bertelanjang dada, ibu2 keriput yang mengais2 sampah, bapak2 sudah beruban yang mengangkat batu2 kali, pengajar2 ilmu di seluruh pelosok yang rela kelaparan karena keterlambatan gaji, gadis2 desa yg terpaksa diekspor ke luar negeri untuk akhirnya diperkosa dan disetrika punggungnya. Kasian benar mereka itu, seharusnya mereka melawanku, menghujat tindakku, tetapi mereka justru menyembahku. Karena sekali lagi, seni yang kuciptakan sungguhlah merasuk di dalam hati mereka.

Pencipta surga ini adalah yang aku sembah, yang aku sebut2 namanya setiap hari. Yang menganjurkan distribusi kesejahteraan, yang mengajarkan cinta dan kasih sayang, yang memerintahkan pemimpin untuk kenyang belakangan jika semua rakyatnya sudah kenyang dan lapar duluan jika rakyatnya kelaparan. Tapi persetan dengan ajarannya, yang penting aku kaya raya, istanaku di mana2, gundikku menyebar di seantero jagad raya, toh aku tetap dianggap sebagai penganut yang soleh, dengan peci di kepalaku, dengan rambutku yang mulai memutih tanda kebijaksanaan, dengan kemauanku melaksanakan sholat 5 waktu walaupun bacaan Arabku belang belonteng.

Dan kau lihatlah para tentaraku, yang dengan gagah berani membunuh rakyatnya sendiri yang seharusnya dilindungi, tetapi berhadapan dengan tentara negeri tetangga saja takut setengah mati. Boneka2 ku itu bagai singa yang sudah membaur dengan kambing, tidak mengaum lagi tapi sudah mengembik. Mereka bahkan sudah mulai kalah pamor dengan para sipil bersenjata.

Bangsaku terlena, lihatlah betapa seni yang kuciptakan telah sangat berhasil menghibernasi mereka. Namaku dielu2kan, tanda tanganku diprasastikan, bahkan senyumku pun diabadikan dalam lembaran mata uang. Aku juga telah meninggalkan anak2 yang mengerti benar akan warisan ilmuku, bahwa moral dapat dibeli dengan uang, putusan hakim dapat dibelokkan dengan lembaran cek, bahwa siapapun yang menghalangi harus menemui kematian yang diinginkannya. Bahkan biografiku dicetak besar2an, jauh lebih besar dari cetakan Mein Kampf-nya Hitler.

Lihatlah betapa berhasilnya aku, tv-tv nasional banyak diisi oleh berita2 kriminal, dipenuhi oleh sinetron2 tak bermutu yang hanya menjual mimpi dan mengandalkan rating, bioskop2 dijubeli film2 picisan. Tetapi yang penting rakyatku senang, walaupun perut mereka keroncongan, walaupun otak mereka kedodoran. Dan lihatlah, sekali lagi lihatlah, betapa secara sistematis aku bisa mengeliminir orang2 yang berseberangan denganku. Pramudya, tua bangka tuli itu, sekarang tinggal matinya saja dia itu. Muhammad Hatta, sosialis kanan itu, tulisannya tak pernah dibaca orang. Tan Malaka, cendekia Padang itu, bukunya masih dilarang. Ulil dan JIL-nya, difatwakan mati oleh senior2nya sendiri. Kartini dengan cita2nya, sekarang hanya jadi peringatan saja, tanpa ada yang mengerti semangat2nya, yang membaca surat2nya pun hampir tiada, tereduksi hanya menjadi sekedar ibu2 PKK dan Dharma Wanita. Betapa hebatnya diriku……….

Bangsaku sedang gandrung revolusi seks, chicklit bertebaran dimana2, walaupun ternyata hanya sampai disana. Bukan seperti Bangsa Prancis yg lebih dewasa dengan revolusi seksnya, tetapi di sini yang ada hanya umbar kemaluan belaka. Pembebasan seks yang tak dibarengi pembebasan akal. Praktek poligami masih subur, bahkan undang2nya pun masih kokoh berdiri. Hegemoni laki2 atas perempuan masih makmur, bahkan semakin akan dilegalisasikan oleh partai2 religi. Bangsaku belum modern, tetapi sudah meninggalkan tradisi.

Aku gembira, gembira sekali….revolusi awalku yang kucetuskan dengan membunuhi para jendral dan kemudian menuduh entitas lain sebagai pelakunya ternyata sangat berhasil. Buku2, monumen2, peringatan setiap tahunnya, alhamdulillah, betapa kenikmatan aku telah menemukan seni ini.

Suatu saat nanti, jika arwahku bertemu dengan arwah Niccolo Machiavelli, aku gembira, karena dia akan sujud di hadapanku. Kelakuanku lebih bejat daripada pangeran2 Itali yang ditulisnya, karena aku tidak sekedar mengesampingkan nurani, tetapi bahkan membunuhnya. Korupsiku lebih parah dari Amangkurat II yang gendut dan menjijikkan itu, konspirasi najisku melebihi prestasi Paku Buwana II yang menjual hutan2 Semarang, menjilat kaki Kumpeni dan lari dari tanggung jawab menyejahterakan rakyat. Aku telah lulus mengamalkan ajaran Machiavelli dengan summa cumlaude, bahkan aku telah menciptakan seni, seni membakar surga. Real politikku jauh lebih canggih, karena garapanku 200 juta manusia, sepertinya Otto van Bismarck dan Henry Kissinger pun akan menyembahku.

Pintu diketuk, kulihat putra kesayanganku dengan pakaian batiknya datang menjengukku. Segera dia duduk disamping tempat tidurku dan menangis meneteskan air mata. Oh betapa putraku ini sangat mencintaiku, sehingga dia yang sudah sedemikian besarnya saja menangis. Tak berapa lama kemudian, dia meminta semua pengawalnya pergi. Tinggal dia sendiri di kamar rawat ini, denganku yang tergolek lemah di tempat tidur. Pelan2 dia menjulurkan mukanya mendekat ke mukaku. Dihapusnya air mata yang membasahi pipinya, dan sejurus kemudian tersenyum.

"Bapak, lebih baik memang panjenengan mati, agar aku bisa lebih leluasa bergerak, agar bisnisku tidak berada lagi dalam bayang2mu, agar dosa politikmu segera dipetieskan sehingga aku bisa membuka lembaran baru, masamu sudah berakhir"

Tiba2 putraku mencabut selang oksigen yang mengalirkan nafas ke paru2ku, aku berusaha meronta, tetapi aku memang sudah tidak bisa bergerak. Segera alam menjadi gelap, dan tiba2 tubuhku menjadi ringan, oh aku telah mati, dan disamping tempat tidurku kulihat putraku yang berkumis itu tersenyum penuh kemenangan.

Amsterdam, May 2005