3 Tipe Monyet : Simbolis, Supersimbolis, Substansialis
Sunday, July 23rd, 2006Dari Mohenjo Daro sampai Luxor, dari Athena sampai Majapahit, dari Yerusalem sampai Machu Pichu, dari dataran tinggi Yunan sampai Andes, sepanjang sejarah bangsa monyet yang mendistingsikan dirinya bukan monyet, selalu diwarnai oleh pertumpahan darah dan konflik berkepanjangan. Bukan hal yang asing memang, tetapi ada pola menarik yang bisa kita tarik dari fenomena2 itu.
Kemampuan monyet homo sapiens menemukan bahasa, yang digunakan sebagai alat untuk mewariskan pengetahuan2 mereka mulai dari yang sederhana sampai ke yang paling mutakhir, yang akhirnya terakumulasi menjadi seperti sekarang ini. Monyet sebagai makhluk sosial yang telah berevolusi sedemikian rupa sehingga mampu evolve dalam pola bertindak yang lebih reliable, yang sering kita sebut sebagai kemampuan “berpikir”, yang sebenarnya hampir semua makhluk yang ada di bumi ini pun bisa melakukannya, hanya mungkin dalam taraf yang lebih sederhana.
Penulis mencoba memetakan pola pikir monyet kaitannya dengan pemahaman mereka tentang hubungan yang mereka punyai dengan alam raya . Tentu klasifikasi ini sepihak, karena setiap monyet atau bahkan setiap makhluk berhak untuk membuat klasifikasi sesuai dengan pandangan mereka masing2. Dan tentu semua monyet boleh tidak setuju.
Ada 3 tipe monyet di dunia ini berdasarkan pengertian mereka mengenai diri mereka sendiri dan lingkungan mereka. Pola yang terbentuk dari klasifikasi ini bisa kronologis, tetapi bisa juga overlapping, dan bahkan bisa kontekstual. Hirarki sosial, pengalaman, dan sering pendidikan mempunyai peran penting sebagai faktor pembentuk dalam menentukan akan di tipe mana seekor monyet berada.
Dalam tahapan simbol, monyet masih mencari jati dirinya dengan mengagungkan sesuatu yang disangkanya akan membawanya dekat dengan Yang Segala Maha. Pareidolia filosofis monyet2 yang berpikir searah dan simplistik. Pengetahuan akan simbol ini bisa esoterik dan eksoterik. Simbol2 yang dimaksudkan di sini berupa simbol2 ritual seperti pemujaan, sholat, haji, sakramen, patung2, dsb. Tetapi bisa juga simbol dalam arti yang lebih abstrak seperti kesetiaan buta akan ideologi dari yang ideologi paling kanan hingga ideologi paling kiri. Dalam tataran ini monyet akan ribut2 apakah mereka sudah sholat lima waktu atau belum , apakah makanan mengandung babi atau tidak, apakah setiap minggu sudah pergi ke gereja, apakah monyet menganggap Mao atau Lenin sebagai pemimpin besar atau tidak, apakah Ogoh2 sudah dibakar sebelum Nyepi dimulai, apakah setiap Jumat Legi keris2 sudah dimandikan, dan lain2, dan sebagainya, dan seterusnya yang kalau ditulis tidak ada habis2nya. Kesemuanya hanya menunjukkan kedangkalan berpikir monyet2 itu, terjebak dalam simbol2 yang pada akhirnya sering melupakan arti sebenarnya dari simbol2 itu. Simbol2 ini bisa berubah dari waktu ke waktu, tetapi mempunyai fungsi sama sebagai kawah candradimuka membentuk dan mengantarkan monyet menuju tahapan berikutnya yaitu tahapan super simbol.
Dalam tahapan super simbol, monyet mulai menyadari bahwa simbol2 yang telah mereka terima atau mereka buat ternyata tidak mampu menjawab semua pertanyaan atau memberikan penyelesaian atas permasalahan yang mereka hadapi. Maka mereka mulai menyadari arti pentingnya konsep yang sangat abstrak bernama Tuhan. Tuhannya monyet2 ini, adalah jawaban gampang atas segala sesuatu di alam raya yang tidak bisa atau belum bisa dimengerti. Sebagai contoh : bagaimana alam raya ini bisa ada, karena kebodohan monyet baik kebodohan filosofis maupun kebodohan teknologi, monyet susah sekali mendefinisikan dengan jelas dan gamblang disertai bukti2 konkret bagaimana alam raya ini bisa ada. Nah cara yang gampang ya dengan menemukan Tuhan itu tadi. Apabila monyet berideologi atheis ( mengeliminasi Tuhan sama sekali) ataupun agnostik ( menegasikan Tuhan tanpa mengeliminasinya ), bagi mereka ideologi itu supersimbolik, artinya ideologi itu yang dituhankan.
Seekor monyet bernama Aristoteles pernah suatu kali berujar “ Tuhan diciptakan sesuai dengan kondisi yang mempercayainya” atau bahasa kasarnya yang mempercayai adanya Tuhanlah yang sejatinya menciptakan Tuhan. Kalau yang percaya Tuhan orang kulit putih, maka Tuhan dipaksa untuk berkulit putih dan lebih mencintai orang kulit putih daripada kulit2 yang lain. Kalau yang percaya Tuhan suka perang, maka Tuhan pun dipaksa ngomong tentang halalnya darah dikucurkan. Kalau yang percaya Tuhan budak dan tidak punya tanah, dipaksalah Tuhan menulis wasiat tentang Tanah Yang Dijanjikan, tidak perduli bahwa tanah itu milik monyet lain. Bahkan, kalau yang percaya Tuhan suka punya musuh, Tuhanpun dipaksa untuk punya musuh, yang tentunya karena Tuhan disebut sebagai Sang Pencipta, musuhnya adalah ciptaan-Nya sendiri, paradoks dan menggelikan. Simulakra teologis yang diejawantahkan dalam kenarsisan tindakan dan pikiran. Mungkin Aristoteles sudah jenuh melihat pertengkaran2 filosofis yang akhirnya berujung pada kekerasan fisik, yang pada dasarnya selalu dilandasi oleh antropisme, paham dimana figur monyet di bumi yang amat sangat kecil ini selalu dijadikan sentral dalam konstelasi alam raya. Tetapi mungkin pula Aristoteles hanyalah monyet yang terlalu jujur terhadap dirinya sendiri, padahal seandainya dirinya mau, dengan kapasitas yang dipunyainya, dia bisa saja mengaku utusan Tuhan, anak Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri. Toh , monyet modern akan selalu berhutang kepada Aristoteles akan ide dasarnya tentang Trias Politika dan Demokrasi. Toh, dunia Islam yang selama ini gembar-gembor di kalangan mereka sendiri bahwa Islam adalah cahaya pengetahuan dunia, tapi diam2 mengakui bahwa kitab2 mumpuni Islam sebenarnya hanyalah pengembangan dari kitab2 Yunani, bedanya hanya kalau Islam jelas punya Tuhan sedangkan kitab2 Yunani yang dipelajari Islam tentu malah membuang Tuhan di pojok sejarah. Dan akhirnya kitab2 Islam dipelajari monyet2 Barat yang akhirnya mampu mengalahkan dan mengakhiri kejayaan Islam. Tentu suatu saat ada juga yang akan mengakhiri kejayaan Barat, siklus yang tidak bisa dielakkan.
Tipe ketiga yaitu substansi, monyet sudah menyadari sepenuhnya akan kehadirannya di bumi, mampu merdeka berpikir dari pengalaman hidupnya, dan juga tidak dengan gampang menerima apa saja yang diterimanya. Substansi kehidupan yang lebih mengedepankan rasa cinta kasih, saling pengertian, dan saling membantu telah mewarnai hidup dan perilaku monyet yang sudah pada tahapan ini. Mungkin bagi mayoritas monyet, monyet2 dalam tahap ini sulit dimengerti. Karena tentu saja pemikiran dan tindakannya adalah sering tindakan progresif dan anomali. Monyet sudah tidak terikat lagi dengan chauvinisme budaya, agama, bahkan ideologi. Titik berat tindakannya diarahkan pada kebahagiaan infrastruktur monyet dan yang lebih penting lagi suprastruktur alam raya.
Baik monyet yang simbolis, supersimbolis, dan substansialis sering masih mengidap penyakit antroposentrik. Dan harus diakui bahwa penyakit inilah yang bisa menjadi penyebab monyet berkonflik dengan sesama monyet maupun dengan alam raya, walaupun di sisi lain penyakit ini juga yang membantu monyet menang dari pergulatan survival of the fittest.
Semoga semua monyet akhirnya menemukan kebahagiaan lahir batin dan tidak tersinggung oleh tulisan salah satu monyet yang kebetulan kurang kerjaan menulis hal2 seperti ini.
Salam damai.