Archive for August, 2006

Laman Pergimu

Monday, August 28th, 2006

* Untukmu disana, semoga kau bahagia

Dm
Ratapan Cinta
Am
Di Tepi Telaga Jiwa
Dm
Salahkah bila
Am
Kumencintai hadirnya
C Dm
Kan kukejar bayangnya

Dm
Mahligai Rasa
Am
Yang Telah Terbina
Dm
Terimalah Bujana
Am
Langkahmu Bermahkota
C Dm
Dari Surga Manusia

Reff :
Dm Am
Kupeluk langitmu Kau lepas nafasku
A # Am
Musnah sudah harapanku
Dm Am
Kupeluk langitmu Kau lepas nafasku
A#
Dalam damai kumerindu

Sematkan luka
Di tepi telaga jiwa
Masihkah ada
Anggunmu mewarna
Melantunkan cinta

Satu yang kudamba
Dirimu bahagia
Terimalah nada
Rangkaian saujana
Dari negeri berbunga

Reff :

Orkestra Semesta Raya

Sunday, August 27th, 2006

Begitu meninggal, Habib Kiai Haji Ahmad Sirazy langsung membayangkan surga di depannya. Surga yang penuh kenikmatan, dengan 72 bidadari yang selalu perawan, dan juga sungai-sungai jernih yang mengalir.

Jumlah kebaikannya di dunia sudah tidak bisa dihitung lagi, sudah berpuluh masjid didirikannya, sudah beratus orang ditolongnya, berjuta-juta rupiah dikeluarkan atas namanya. Namanya harum, ketika dia mati, ribuan orang melayat dan menangis. Koran-koran diisi mengenai kabar kematiannya, dan juga menyatakan jasa apa yang telah dilakukannya selama hidup.

Kebahagiaan tiada tara untuk menyambut kebahagiaan baru di akhirat yang abadi itu. Sudah siaplah dia menyambut dan bertemu dengan pahlawan-pahlawan Islam di surga. Menikmati hasil jerih payah selama di bumi.

Di pintu masuk akhirat, tak terhitung jumlahnya yang mengantri untuk masuk akhirat. Habib mengumpat-umpat, makhluk yang antri jelek-jeleknya minta ampun. Ada yang berlendir, berkaki tiga, terus bermata tujuh. Ada yang baunya minta ampun, rambutnya seperti kelabang kelayapan, pendek seperti cebol. Ada yang berwajah seperti kepiting, berkaki satu, jalannya melompat-lompat. Semua jenis ada di antrian itu, Habib sampai muntah-muntah dibuatnya. Celakanya lagi, semua harus antri untuk masuk akhirat. Tambah celaka lagi, karena banyaknya yang antri, semua harus berdesak-desakan, sehingga tak ayal lagi, saling sentuh sama lain, ada yang saling dorong, dan sebagainya.

Selain panas, suasana juga tidak enak di antrian itu. Karena bentuk yang berbeda-beda, komunikasi pun jadi susah. Habib menjadi semakin sewot.

‘Demi Allah, kalian akan mendapat laknat tidak melayaniku secepatnya.’

Habib sambil mengacungkan tangan meminta didahulukan daripada makhluk-makhluk jelek yang juga sedang antri.

‘Itu yang teriak-teriak disana, coba dihadapkan kemari dulu.’

Tiba-tiba terdengar keras suara dari resepsionis akhirat. Habib tahu panggilan itu untuknya, karena memang hanya dia yang teriak-teriak. Dia langsung dengan bersemangat dan senyum penuh kemenangan maju ke resepsionis.

‘Allahu Akbar. Demi Allah…’

Sebelum Habib selesai berbicara, resepsionis akhirat menyela.

‘Maaf, demi siapa..?’

Resepsionis akhirat memasang telinga lebar-lebar.

‘Demi Allah, Tuhan semesta Alam. Aku adalah Profesor Doktor Habib Kiai Haji Ahmad Sirazy, Sarjana Hukum. Aku masih keturunan Nabi Akhir Zaman, Muhammad. ‘

‘So what..?. Maaf, tidak pernah mendengar semua itu. Allah, siapa lagi itu. Ok, karena namamu panjang aku panggil saja Pak Doktor Habib..’

Sebelum resepsionis itu selesai berbicara, Habib menyela juga …

‘Panggil saja Pak Kiai lebih cepet dan gampang.’

‘OK, Pak Kiai. Di tempat anda dulu pasti tidak ada budaya antri, tapi tak apalah khusus untuk Anda akan kukecualikan. Pak Kiai mau apa..?’

‘Aku sudah berbuat baik selama di dunia, aku ingin dimasukkan surga.’

‘Sebentar dulu, anda berasal dari mana…?’

‘Aku berasal dari Jakarta, Indonesia. Itu letaknya di bumi’

Resepsionis akhirat menggelengkan kepala, semakin bingung dimana pula Jakarta Indonesia itu.

‘Oke, begini Pak Kiai, daripada sama-sama bingung. Pak Kiai tunggu di kursi sebelah sana itu, anak buah saya akan mencari data Pak Kiai.’

Dengan bersungut-sungut Pak Kiai akhirnya menurutinya. Setelah sekian lama akhirnya Pak Kiai dipanggil lagi.

‘Aduh maaf Pak Kiai, yang anda namakan Jakarta Indonesia itu tidak kami temukan, bumi juga tidak kami temukan dalam database kami. Karena saya mengira bahwa bumi adalah planet yang amat sangat kecil sekali.’

Pak Kiai segera mencak-mencak gak karuan.

‘ Dasar kurang ajar, begini kalau bumi kurang besar, jangan-jangan matahari kurang besar, tata surya juga kurang besar, kalau tidak salah ingat, galaksi yang kutinggali bernama Bima Sakti, begitu yang dibilang cucuku dulu.’

‘Pak Kiai, mohon bersabar, galaksi di semesta ini ada milyaran trilyun, tidak dengan gampang mencarinya. Mohon sekali lagi bersabar.’

Resepsionis akhirat segera memerintahkan asistennya untuk mencari galaksi bima sakti. Pak Kiai kembali ke tempat duduknya semula. Tapi lama sekali Pak Kiai menunggu, rasanya tidak pula galaksi Bima Sakti ditemukan. Tapi tiba-tiba asisten resepsionis itu berjingkat, dan langsung berlari ke depan, terus berbisik kepada bosnya.

‘ Bos, aku ada ide, Pak Kiai brengsek itu sudah dikasih duluan, berulah lagi, biar dia saja yang cari sendiri.’

Resepsionis akhirat mengangguk-angguk. Pak Kiai lalu dipanggil lagi.

‘Pak Kiai, kami mohon maaf, kami tidak pula bisa menemukan BIma Sakti. ‘

‘Lho, piye iki…?, koq bisa-bisanya Anda menyepelekan saya. Saya ini beragama Islam, Rasul saya Muhammad, Tuhan saya Allah.’

‘Maaf Pak Kiai, Islam saya juga tidak pernah mendengar, apalagi Muhammad ataupun Allah.’

Pak Kiai marah-marah, karena bukan hanya saja dia tidak dianggap siapa-siapa di situ, bahkan bumi pun tidak tercatat di database akhirat. Bahkan Islam yang selama hidupnya menjadi warna sehari-haripun tidak dikenal.

‘ Kalau Pak Kiai tidak berkeberatan, saya masih banyak klien yang lain, mohon beri waktu juga bagi mereka. Kalau Pak Kiai mau, silahkan di belakang ruangan ini ada super komputer yang mungkin bisa membantu Pak Kiai menemukan dimana letak bumi itu.

‘Baik, karena ketidaksopanan Anda, saya akan menerima hinaan Anda itu dengan mencari bumi, masak bumi segedhe itu tidak ada dalam catatan kalian. Saya tidak akan balik sebelum saya menemukannya.’

Pak Kiai segera bergegas menuju ruangan belakang, dan langsung duduk di depan super komputer itu.

Hari demi hari, bulan demi bulan, hampir setahun Pak Kiai duduk di depan komputer itu, mau menyerah malu, tapi tidak menyerah kesabaran Pak Kiai rasanya sudah habis. Petanya alam semesta saja bertahun-tahun tidak selesai dijelajahi, apalagi yang aslinya. Pak Kiai bergumam terkagum-kagum.

‘Indah sekali ya alam semesta ini, tapi juga sangat besar sekali, menghitung galaksi saja aku sudah tidak sanggup, apalagi menghitung matahari, apalagi menghitung planet-planet. Baru menghitung, belum pula mempelajari. Orkestra Semesta Raya yang menakjubkan. Mana pula surga yang dijanjikan Allah kepadaku. ‘

Tepat sehari sebelum masa setahun Pak Kiai duduk mencari di depan super komputer itu, akhirnya dia menyerah. Diapun kembali ke resepsionis akhirat.

‘Maaf Mas, saya nyerah deh. Saya tidak menemukan bumi dalam peta semesta di komputer itu. Saya harus bagaimana sekarang…?’

Pak Kiai dengan terbata-bata seakan memohon untuk dimasukkan surga. Resepsionis akhirat pun memang kasihan sama Pak Kiai.

‘Begini Pak Kiai, karena Anda tidak punya identitas, saya tidak bisa memasukkan Anda, baik ke neraka ataupun ke surga. Tapi begini saja, Pak Kiai setahun menjadi tukang pel di ruang resepsi akhirat ini, setelah setahun saya melihat kelakuan baik ataupun buruk Pak Kiai, saya baru bisa memasukkan Pak Kiai ke surga ataupun neraka, tapi harus diingat di surga pun, paling tinggi pangkat Pak Kiai jadi tukang kebun.’

Mata Pak Kiai terbelalak, dan kemudian pingsan. Di dalam pingsannya, dia melihat cucu kesayangannya mendirikan partai politik di bumi untuk menegakkan khilafat Islam.

Tuhan, turunlah dari singgasanamu

Saturday, August 26th, 2006

Manusia syariat
berbuat baik karena ingin balasan nikmat
berdagang dengan Tuhan sepanjang hayat

Mau membantu kalau ada untungnya
Mau berkorban kalau ada kembaliannya
Tuhan jadi partner dagang selamanya
Surga dibarter dengan kebaikan-kebaikan di dunia

Manusia hakikat
membantu karena membantu itu nikmat
menolong dengan penuh ma’rifat
tidak dibalas pun terasa hikmat
surga mah….ada di hati kita yang berkhalwat

Tuhan…Tuhan…
kasihan dirimu
turun saja dari singgasanamu
didik umatmu yang masih dungu

Dijual Cepat : Kavling Surga

Thursday, August 24th, 2006

Kalau agama Kristen benar
Lebih dari 3,9 milyar manusia di neraka terbakar

Kalau agama Islam yang benar
Lebih dari 4,7 milyar manusia di neraka dihajar

Kalau Saksi Yehova yang benar
Neraka pasti ambles sampai ke dasar
Kapasitas neraka pastilah kurang besar

Kalau Taliban yang benar
Bidadari diharuskan bercadar
Tuhan dipaksa berjenggot lebar

Kalau Vatikan yang benar
Surga pasti penuh bidadari hamil besar
Kondom dilarang, aborsi dicecar

Kalau FPI yang benar
Surga pastilah seperti pasar
Preman berkeliaran dan berkoar-koar
Kalau bidadari telanjang, surga pasti dibakar
Majalah Playboy pasti tak boleh beredar

Oh sungguh kasihan
Penjaga Neraka gak pernah dapat liburan
Neraka penuh sesak seperti pesta lebaran
Bahan bakar neraka sering kehabisan
Akhirnya impor minyak dari Iran

Oh sungguh menggelikan
Penjaga Surga menggerutu kekurangan kerjaan
Surga terlalu luas sehingga penghuninya kesepian
Kavling surga akhirnya diperjualbelikan
Suharto, Tommy, Hitler, sampai Marcos pun kebagian

Anda tertarik membeli….?

Pasar Agama

Sunday, August 20th, 2006

Pembaca sekalian, perkenalkan namaku Andi van Wallen. Umurku 20 tahun, dan sekarang belajar di salah satu universitas ternama di Amsterdam. Bapakku orang Belanda, seorang direktur di sebuah perusahaan farmasi. Ibuku orang Ambon, yang sudah sejak tahun 60-an telah menetap di Belanda. Secara resminya aku masih menjadi bagian dari agama Kristen. Tetapi sebagaimana mayoritas orang Kristen di negeri ini, mereka datang ke gereja Cuma tiga kali seumur hidup mereka, sewaktu lahir (baptis), sewaktu menikah, dan sewaktu meninggal.

Liburan sekolah ini aku bingung mau kemana, aku sudah bosan sebenarnya tiap tahun pergi ke Ibiza, St. Tropez, Costa Brava, ataupun Texel. Semakin lama koq kurasakan agak monoton, berkumpul beramai-ramai dengan kawan2ku, minum bir, bergoyang semalam suntuk, flirting, dan akhirnya one night stand. Memang menyenangkan, tapi kurasa tahun ini aku membutuhkan sesuatu yang lain. Perjalanan fisikku kurasa sudah cukup baik, negeri ini membolehkanku untuk bereksperimen dalam sex dan cinta. Tapi kurasa ada yang kadang salah dalam hal itu, maksudnya bahwa sex itu banyak dijadikan tujuan, dan bukannya alat dalam mencapai kebahagiaan. Untung aku tidak menjadi salah satu yg salah kaprah itu. Yang pasti, aku menjadi ingin tahu hal-hal lain yang selama ini tidak kuketahui. Akhir2 ini, banyak kejadian yang menyentakkan hatiku, semakin banyak dijalan2 wanita2 yang menutupi seluruh tubuhnya bahkan sampai mukanya, Theo van Gogh dibunuh di tepi jalan dengan tusukan2 mematikan, anak muda teriak-teriak di depan Central Station menganjurkan orang untuk kembali kepada Tuhan Yesus. Semua itu katanya orang-orang demi agama.

Maka liburan ini aku sudah mantap untuk pergi ke pasar agama. Aku ingin mengetahui apa saja yang ada di sana, sehingga siapa tahu aku bisa membeli salah satu diantaranya. Paling tidak aku ada pegangan, kalau-kalau aku terjerembab dalam depresi atau kesulitan. Katanya orang-orang sih paket2 yang ditawarkan oleh stan2 agama itu tidak ada yang mahal, semuanya murah-murah. Hanya yang pasti ketika sudah membeli paket, biasanya persyaratannya adalah untuk memakai paket yang kita beli untuk selama-lamanya.

Di depan pasar, aku sudah langsung terkagum-kagum. Pasar ini sangat ramai, jauh lebih ramai dari segala pasar yang pernah aku temui. Bahkan di tengah keramaian itu, semakin banyak pula yang datang tiap waktunya, yang berbarengan dengan aku saja, yang kebetulan satu tram, serombongan besar pemuda-pemudi berpakaian modis. Dan tram-tram ini datang tiap 5 menit sekali dari pagi buta sampai menjelang malam. Dan yang juga aku heran, jarang orang yang meninggalkan pasar itu, sehingga aku yakin, hari ini pasti pasar akan penuh sesak oleh manusia-manusia dari segala penjuru.

Aku segera merasuk di antara orang-orang yang ada dipasar itu. Aku agak hati-hati dengan menempatkan dompetku di saku depan, karena pasar ini sangat terkenal dengan keganasan pencopetnya.

“ Yahudi, saudara2 sekalian. Umat2 terpilih, satu2nya umat dimana Tuhan mendelegasikan wewenangnya dan sebagian besar kebijaksanaannya. Tapi maaf saudaraku, hanya yang berdarah Yahudi yang bisa memeluk agama ini. Syaratnya cukup berat saudara untuk menjadi Yahudi, makanan anda harus semua kosher, semua ritual2 harus terlaksana mulai dari bar mitzwah sampai Hanukah.“

“Kristen, Kristen, hayo bapak ibu dan saudara2 sekalian, belilah agama Kristen. Beli Kristen dapat hadiah, surga yang nikmat dan indah. Kristus telah digantung di atas tiang salib, demi menebus dosa kita, dosa turunan dari Bapak dan Ibu kita, Adam dan Hawa. Menjadi Kristen gampang sekali saudara2 sekalian, ada dua paket utama : Protestan dan Katolik, tapi kami juga menawarkan paket2 kecil lain. Jangan khawatir, paket ini jumlahnya ada ribuan, dari Mormon, Scientology, Advent, sampai Yehova. Semua hadir untuk anda, wahai gembala2 Tuhan yang terkasih.”

“Islam, Islam, hayo saudara2 sekalian. Belilah paket Islam yang lengkap dan sempurna. Paket Islam adalah rahmat bagi semesta alam, paket lengkap yang membahagiakan seluruh makhluk hidup dari malaikat hingga manusia. Paket Islam tidak banyak2, hanya ada tiga jenis paket besar : Sunni, Syiah, dan Ibadi. Hanya dengan mengucapkan kalimat syahadat, Islam anda sudah syah. Tapi ingat saudara2, anda tidak boleh makan babi, Tuhan melarangnya. Yang perempuan juga harus pakai jilbab, demi menjaga kehormatan.’

‘Jaini, Jaini, agama yang telah menjadi inspirator utama seorang pahlawan kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah. Jaini saudaraku, dengan ahimsanya, telah menghasilkan Gandhi, Nelson Mandela, dan Martin Luther King. Kita harus meninggalkan keduniawian saudaraku, karena keduniawian membuat kita tidak bahagia. Semua makhluk berhak hidup, oleh karena itu tidak satupun dari kita punya hak untuk melukai makhluk-makhluk hidup itu.’

Wah, wah , tawaran paket yang macam-macam. Aku sampai bolak-balik untuk melihat-lihat dan mendengar ocehan para penjual itu. Aku mendengarkan dengan seksama, kadang2 sampai hampir satu jam aku berada di satu stan. Cukup menyenangkan ternyata berada di antara penjual-penjual itu. Taktik marketing yang agresif persuasif ternyata sangat menarik bagi sebagian besar pengunjung pasar ini. Bahkan untuk membeli paket, mereka terpaksa harus antri berlama-lama.

“ Hindu, Hindu, mari2 bapak2, ibu2, adik2 sekalian. Paket Hindu adalah paket lepas yang sangat flexibel, masing2 akan melekat menjadi satu kesatuan. Tuhan adalah satu, tapi mengejawantah dalam trinitas Brahma, Syiwa dan Wisnu, tapi anda boleh menyembah ratusan ribu tuhan kecil dan dewa2 sesuai dengan keinginan anda. Sapi adalah representasi dari ibu segala ibu, dan karena itu kita tidak boleh menjadikannya santapan. ‘

Wah wah, asyik juga agama Hindu ini. Kalau umat Yahudi tadi umat dipilih Tuhan, di Hindu, umat yang malah memilih Tuhan. Aku terus saja berjalan, orang2 lalu lalang bertransaksi, stan yang paling rame ternyata stan Kristen dan Islam, gile bener, sampai antriannya panjang gak ketulungan. Stan Hindu juga cukup panjang, tapi aneh juga yang antri di stan Hindu ini kebanyakan semua orang2 kumuh berkulit gelap.

Lama juga aku berjalan bolak-balik di pasar. Aku coba banding2kan harganya, kelengkapan paketnya, keindahan bungkusnya, dan sebagainya. Semua bilang yang baik2 sih, yang nomer satu, kayak jualan kecap. Mana mau ada yang ngaku kecap nomer 2.

Liburan sehari yang menyenangkan tapi sekaligus membingungkan. Aku bingung, Tuhan yang bernama Allah ketakutan sama babi, yang bernama Widi Wasa ketakutan sama sapi. Tuhan yang bernama Waheguru melarang pembunuhan binatang, semutpun dilarang, yang bernama Allah malah menganjurkan membunuh kambing, sapi, dan unta, jutaan ekor setiap tahunnya menemui ajal karena perintah itu. Mayoritas stan mengklaim membawa produksi Tuhan, tapi ada dua stan yang menurutku aneh, stan Budha dan Jaini. Dua stan ini tidak menyebut nama Tuhan sama sekali, malah stan Jaini mengingkari adanya Tuhan, menganggap Tuhan malah hanya banyak menimbulkan masalah daripada memecahkan masalah. Mayoritas stan bilang, Tuhan semua manusia itu satu, tapi kalau satu kenapa perintahnya lain-lain. Kalau namanya lain sih gak masalah, karena itu hanya masalah bahasa, tapi kalau perintahnya lain, itu yg aneh. Ataukah Tuhan sekarang juga plin-plan gak punya pendirian, wah gak tau juga. Tuhan mungkin juga terjebak dalam pragmatisme oportunistis ala politikus.

Sewaktu aku lagi asyik-asyiknya bermain dengan pikiranku sendiri memikirkan keanehan-keanehan itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan. Ada banyak suara wanita dan anak-anak minta tolong. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan, dar der dor. Orang-orang berhamburan lari kemana-mana, dan suara raungan mobil polisi juga tak ketinggalan menambah kebisingan dan kericuhan suasana.

Tapi dasarnya aku tak terlalu takut dengan keributan, sudah terbiasa demonstrasi dan juga sekaligus terbiasa dikejar-kejar tentara dan polisi. Aku mendekati arah dari teriakan-teriakan itu. Di kerumunan itu aku menyeruak, langsung kumulai mencium bau anyir darah, dan tak lama kemudian kulihat beberapa orang tergeletak berlumuran darah. Sementara kerumunan mengelilingi mereka, tanpa berani mencoba menjamah orang-orang yang bergelimpangan itu. Mereka rupanya masih menunggu polisi yang memang sudah terdengar sirinenya. Tetapi tiba-tiba dari arah berlawanan denganku seseorang dengan peci dan jubah putih, ke tengah dan menuding-nuding.

‘Kalian orang-orang kafir, kalian telah membunuh saudara-saudara kami. Kaum Yahudi dan Kristen keparat, kalian tidak akan pernah berhenti mengganggu kami sampai kami lenyap dari muka bumi.’

Aku segera melihat ke sekeliling, aku lihat memang banyak diantara yang bergelimpangan itu sepertinya sepaham sama bapak yang menuding-nuding itu. Tiba-tiba dorrrrrrrrrr, bapak yang di tengah2 kerumunan itupun roboh dengan darah di pelipisnya. Sepertinya sebutir peluru telah menembus batok kepalanya. Aku jadi ketakutan sendiri, secepat kilat aku segera menyingkir dari situ, mencari aman pikirku, daripada malah bisa jadi tersangka disaat diriku tidak tahu apa-apa. Tidak biasanya aku ketakutan seperti ini, tapi karena mungkin kali ini musuhnya tidak jelas, kalau aku demonstrasi musuhnya biasanya jelas, pemerintah dan militer.

Aku segera beralih ke bagian pasar yang agak jauh, dengan sedikit berlari aku ingin segera menjauh dari tempat kericuhan tadi. Terengah-engah aku, tapi ternyata aku salah, di bagian lain juga sedang terjadi keributan. Kali ini keributan terjadi di stan Kristen, tapi yang aneh justru keributan itu diantara mereka sendiri. Antara yang menjual paket saling bersaing, mungkin karena paket yang ditawarkan terlalu banyak, sehingga menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Aku segera berlari lagi, untung di sebelah sana kulihat pintu keluar dari pasar. Segera kumenuju kesana. Setelah sampai di pintu keluar, dengan gontai aku pergi menjauh dari pasar. Liburan yang awalnya menyenangkan berubah menjadi mengerikan, aku telah menjadi saksi penjagalan manusia oleh manusia lainnya.

Demikianlah pembaca, pengalamanku selama liburan musim panas kemarin. Sekarang Amsterdam sudah mulai hujan, dan sebentar lagi akan musim gugur. Aku memang tidak jadi membeli paket apapun selama jalan2 di pasar itu, tapi aku hanya berharap semoga keributan di pasar itu berhenti.

Revolusi Merah Putih

Sunday, August 13th, 2006

Menelusuri jalanan kampung yang berdebu, berkibaranlah merah putih dengan gagahnya. Di belakang merah putih, rumah reot hampir rubuh dihuni oleh anak2 buncit tak bisa makan, yang goblok karena tak bisa sekolah. Ibunya berjuang siang malam demi sesuap nasi yang tetap saja tak cukup mengganjal perut. Bapaknya tukang ojek tapi jarang pulang, kalaupun pulang tak membawa uang karena uang habis untuk mabuk dan judi. Tetangganya keluarga itu , seorang haji kaya raya, yang sedang sibuk berkoar2 tentang jihad ke negeri Palestina dan Lebanon, lupa kalau jihad memerangi kemiskinan tetangganya lebih penting. Memperjuangkan khilafah Islamiyah tanpa pernah mengerti aplikasi praksisnya bagi keanekaragaman Indonesia. Sebelahnya lagi saudagar Cina kaya raya, yang tidak pernah mau kenal dengan tetangganya, karena ketakutan dijarah dan diperkosa, tetapi juga karena merasa tidak ada gunanya bergaul dengan pribumi. Di tempat lain para anggota dewan plesir ke luar negeri atas nama kunjungan kerja dan studi banding, walaupun dikritik tetap saja berangkat mengatakan bahwa kunjungan kerja adalah sangat penting, sedangkan mahasiswa2 di luar negeri menyatakan sudah siap menyediakan informasi apa saja sebagai studi banding atas perbaikan di Indonesia.

Potret2 Indonesia yang tercecer, entitas2 menyedihkan yang seharusnya kita selesaikan, tapi kita biarkan hanya karena kita sudah apatis karena seolah sudah menjadi jamak. Kemiskinan dan penderitaan adalah keniscayaan Indonesia, begitu pikir sebagian besar dari kita. Korupsi dan Kolusi adalah warna Indonesia, begitu terpatri dalam benak sebagian besar kita.

Kondisi ini tidak bisa kita biarkan berlarut2, semua harus berubah, tidak harus menunggu ratusan tahun, tapi harus berubah dan kita bisa melihat perubahan itu selagi kita masih hidup. Roma memang tidak dibangun sehari semalam, tetapi juga tidak dibangun berabad-abad.

Tiga revolusi dasar perlu dijalankan, dengan cekatan dan ambisius, atau kalau tidak roda nasib Indonesia akan selalu di bawah. Tiga revolusi itu adalah :

Ekonomi Partisipatoris
Ekonomi partisipatoris, adalah politisasi ekonomi, dimana pengambilan keputusan ekonomi adalah hasil partisipasi politik rakyat. Keputusan ekonomi sering merupakan keputusan politik, oleh karena itu ekonomi partisipatoris memberi jalan kepada rakyat untuk menentukan sendiri kebijakan ekonomi apa yang akan dijalankan untuk kesejahteraan mereka sendiri. (Lebih lanjut akan saya bahas dalam tulisan berikutnya : Kwartet Politika). Secara gampang, kwartet politika menambah trio legislatif, eksekutif, yudikatif dengan pemimpin ekonomi sebagai entitas baru yang juga harus dipilih langsung oleh rakyat, dari presiden dewan ekonomi sampai kepala Koperasi Unit Desa (KUD).

Dasar nilai yang dijunjung adalah solidaritas, persamaan derajat, keanekaragaman, dan self-management yang semuanya diusung oleh individu2 yang berpartisipasi dalam ekonomi. Ekonomi ini adalah jalan alternatif dari dua sistem ekonomi besar yang kedua2nya terbukti gagal, yaitu sistem kapitalis dan komunis. Kapitalisme telah gagal memberikan kesejahteraan yang merata, kesenjangan antara kaya dan miskin tidak juga berkurang, kesenjangan antara negara maju dan negara ketiga juga semakin menganga. Sedangkan di saat yg sama, komunisme (beberapa ahli ekonomi menyebutnya kapitalisme negara) juga gagal, perencanaan sentralistik yang birokratis dan represif terhadap demokrasi adalah salah satu penyebab kegagalannya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, ekonomi biaya tinggi dan kebocoran ekonomi menghantui langkah terseret kesejahteraan bangsa. Birokrasi yang berbelit-belit harus dipangkas dan di saat yang sama kebocoran harus dihilangkan, kebocoran yang disebabkan oleh korupsi yang bisa mencapai 30-40% adalah sangat memalukan. Karena sudah kronis, penyakit korupsi ini bisa diberantas hanya dengan pendekatan hot-stove approach, hukuman seberat-beratnya terhadap pelaku korupsi yang benar-benar terbukti bersalah, bisa hukuman mati atau seumur hidup. Tidak ada lagi alasan kemanusiaan baik sakit, tua, atau kasihan dalam hal ini.

Perlu diingat, bahwa revolusi ekonomi harus juga dibarengi dengan revolusi politik sekaligus budaya, terutama ekonomi dan politik saat ini sudah tidak bisa dipisahkan lagi.

Demokrasi Partisipatoris

Apakah Indonesia adalah negara demokrasi….?, jawabnya iya betul. Tetapi demokrasi jenis apa, itu yang perlu dipertanyakan. Demokrasi di Indonesia adalah demokrasi oligarki, demokrasi yang dipegang oleh lingkaran kekuasaan elit yang akhirnya tidak menyisakan demokrasi yang sebenarnya kepada masyarakat. Kasus Indonesia adalah sama persis dengan kasus Amerika Serikat, dimana hanya segolongan kecil kelompok menguasai jalannya perpolitikan nasional, dan menamakannya demokrasi. Demokrasi oligarki ini sangat berbahaya, karena korupsi kekuasaan besar2an tetap terjadi, sedangkan rakyat tetap tidak bisa berbuat apa2 menyaksikannya. Dalam demokrasi oligarki, siapapun yang menang pemilu, biasanya tidak akan berpengaruh besar terhadap kebijakan politik dan ekonomi, karena kubu2 yang bertarung dalam pemilu biasanya adalah setali tiga uang, elit2 culas yang hanya mementingkan perut sendiri dan melupakan konstituennya.

Indonesia memerlukan demokrasi partisipatoris, demokrasi luas yang mengembalikan politik benar2 di tangan rakyat. Rakyat yang memerintah negara, bukan negara yang memerintah rakyat. Demokrasi partisipatoris adalah proses memperkuat peran serta rakyat dalam menentukan arah dan jalannya sistem politik. Kesempatan untuk semua konstituen demokrasi untuk berkontribusi secara penuh dan bukan hanya pelengkap penderita, berdemokrasi hanya pada waktu pemilihan umum.

Sampai lingkup terkecil, demokrasi harus dijalankan dengan konsisten. Masyarakat desa harus terlibat aktif dalam mengelola kekayaan desa, peran LKMD sebagai bargaining power atas kekuasaan lurah diperkuat, KUD di tiap desa digiatkan lagi dan pengelolanya adalah rakyat desa sendiri. Di tingkat pusat pun sama halnya, parlemen harus lebih sering mendengar rakyat dan jangan terlalu sering membeo keinginan negara-negara maju dan institusi internasional. Demokrasi langsung dari tingkat pusat sampai daerah perlu diperbaiki mekanismenya, dan yang lebih penting lagi, peran aktif rakyat dalam demokrasi sehari-hari juga harus meningkat tajam.

Budaya Partisipatoris

Indonesia mempunyai 300 suku bangsa dan tentunya dengan karakteristik yang berbeda-beda, tetapi bukan berarti bahwa mereka berbeda, inti ajaran budaya itu pada dasarnya sama, hanya karena penyesuaian dengan kondisi masing-masing saja yang membuat ekspresi budaya itu seolah berbeda-beda. Pembangunan budaya masyarakat adalah aksi lokal yang menghormati perbedaan-perbedaan itu sebagai kekayaan tradisi dan tidak memandangnya sebagai ancaman disintegrasi atau ancaman terhadap moralisme. Budaya partisipatoris adalah kebebasan berbudaya masyarakat sampai lingkup paling kecil untuk mengekspresikan diri, tanpa ancaman dari pemerintah, institusi agama, ataupun masyarakat yang lain. Pemahaman dasar akan budaya dirubah dari paham multikultural menjadi pemahaman polikultural. Polikultural berarti bahwa budaya manusia Indonesia adalah saling terkait dan pada dasarnya mempunyai nilai-nilai moral yang sama, kebalikan dari multikultural yang menganggap bahwa budaya adalah berbeda-beda dan bersegregasi satu sama lain.

Peranan penting pendidikan sangat diperlukan di sini, tanpa pendidikan jangan pernah berharap toleransi dapat berkembang dengan langgeng. Karena agama dan ideologi dari luar yang ditelan oleh manusia2 Indonesia sering ditelan mentah-mentah tanpa adanya filter nalar dan rasio yang memadai. Manusia beragama tak akan pernah bisa toleran, karena fondasi agama itu sendiri sering tidak toleran. Betapakah agama terbesar yang hidup di Indonesia (Islam dan Kristen), mengajarkan bahwa orang yang tidak percaya atau tidak beragama sesuai dengan dirinya menjadi tidak terselamatkan. Bibit bencana yang setiap saat bisa meledak ini harus ditangani dengan mengubah agama menjadi inklusif, toleran, dan damai. Poso dan Ambon rasanya sudah cukup menjadi pelajaran berharga, dan hanya dengan mereformasi dasar2 keberagamaan yang kurang ramah terhadap perbedaan, kejadian Poso dan Ambon tidak akan terulang lagi. Tentunya dibarengi dengan perbaikan signifikan alam demokrasi Indonesia, sehingga militer benar2 kembali ke barak, dan tidak justru mendalangi clash of civilization di kalangan rakyat sendiri yang seharusnya dilindungi.

Dalam lingkungan keluarga, nilai2 feminisme harus dipropagandakan, sehingga kekerasan domestik yang bermula dari subordinasi kaum perempuan berkurang dari waktu ke waktu, sekaligus menyongsong persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Manusia beragama di Indonesia seharusnya sudah punya dasar nilai-nilai feminisme itu, walaupun sayangnya agama justru sering digunakan untuk menindas hak-hak kaum perempuan untuk setara. Sebenarnya dengan pendidikan yang baik, peran agama sudah tidak diperlukan lagi, dan manusia Indonesia sudah bisa menjadi bangsa yang beradab tanpa agama. Tapi dalam hal ini kita harus realistis, bahwa berakar kuatnya agama di Indonesia memaksa kita untuk menggunakan agama juga untuk memajukan bangsa, tetapi tentunya bukan agama aliran konservatif yang banyak ada sekarang, tetapi aliran yang progresif dan ramah pengetahuan. Proyek-proyek peradaban seperti Jaringan Islam Liberal, Paramadina, Driyarkara, Yesuit, dan juga proyek lintas agama dan ideologi harus didukung untuk menjadi lebih besar dan lebih merasuk ke rakyat kebanyakan.

Saudara-saudaraku yang berdarah merah dan bertulang putih. Kalau merah putih masih berkibar semua di dada kita, ingatlah bahwa dia menangis sedih hingga lunturan air matanya membuat kibarannya menjadi belang belonteng dan lusuh.

Merah putih belum merdeka dan Revolusi Belum Selesai

Bangun dari tidurmu Anak-Anak Bangsa

G-Spot Tuhan

Saturday, August 5th, 2006

RRrrrrhhtttttttttt, rrrhhtttttttttttttttttt,rrrhhttttttttttttt

HP-ku bergetar2, tanda aku dapat SMS. Segera kubuka…..

——————————————–
Hey, aku gak sengaja baca tulisanmu, aku gak nyangka aja ada yg nulis seberani itu. Tapi aku suka tulisanmu. Kamu mau gak ngedate ntar malem, kutunggu di café De Hemel at 7 pm sharp.

xxx

Tuhan
———————————————

Lho, serius nih. Tuhan selama ini kupanggil Bapa koq, minta ngedate sama aku. Sial banget, dia kagak tahu apa kalau aku straight. Jangan2 Tuhan gay, bajigur, cilaka nian nasib awak kalau begini. Sudah awak mati2an meniduri banyak gadis demi membuktikan keperkasaan, Tuhan datang tiba2 minta ngedate, atau dia berubah pikiran membolehkan cinta sesama jenis sekarang. Aku jadi bingung, semakin bingung, darimana pula dia mendapatkan nomer HP-ku. Ah,aku lupa, dia kan Khalik, jadi dia pasti punya data base lengkap seluruh makhluk.

Karena aku libur kuliah, aku belanja dulu dan kemudian mengerjakan tugas2 kuliah. Setelah semua itu aku kecapekan dan tertidur.

Sebelum matahari terbenam, aku sudah bersiap2. Jam setengah tujuh aku keluar, lebih baik awal daripada terlambat pikirku.

Aku duduk dulu di pojokan café itu, menunggu jam 7. Aku sudah bersungut2 sebenarnya, sialan banget nasibku. Diajak date sama Tuhan.

Jam 7 tepat, belum kulihat tanda2 kedatangan Tuhan. Tiba2 ada sosok cantik masuk dan melihat kanan kiri, setelah melihatku dia dengan percaya diri berjalan ke arahku. Dan kemudian duduk di depanku.

‘ Halo, aku Tuhan. Apa kabarmu..?’

Ajigile, cakep banget Tuhan. Bodinya aduhai, asoy geboy. Matanya coklat indah, rambutnya panjang hitam sedikit berombak. Senyum dari bibirnya bikin jantung melayang, menggemaskan. Lehernya jenjang, putih bersih. Ah sial, ngeres aja udah pikiranku. Rasa2nya ukuran 34B. Nah kan sudah langsung itu yang kepikiran

‘ Halo, you know me already. Aku baik2. Kamu gimana nona cantik..?’

‘ Baik, tapi capek. Banyak sekali yang harus kerjakan akhir2 ini. Keluhan, permintaan, protes, somasi, ucapan terima kasih, persembahan, semua bertumpuk di kantorku. Kamu tidak apa2 kan menemaniku malam ini.’

‘Pleasure is mine, no problem at all’

‘ Tahu gak, aku suka kamu karena keberanianmu. Keberanian argumen disertai kejernihan yang sangat jarang dimiliki oleh pemuda2 jaman sekarang.’

Sialan, hatiku dibuat berdetak2 keras mendengar pujian Tuhan. Biasanya sih yang ada pada protes atau menghujat tulisanku, eh malah Tuhan yang sering aku sindir malah suka dengan tulisanku.

‘Ehhmm, kalau mau jujur aku bukan apa2 Tuhan. Tulisanku hanyalah kesadaran seorang monyet yang sangat bodoh yang mencoba berjujur diri. Semakin aku banyak menulis, membaca, merasakan, melihat, mendengar, semakin terasa kebodohanku. Jadi please jangan memujiku seperti itu. Look at you, Engkau yang cantik tiada tara, pandai tiada bandingan. What am I compare to you…?’

‘Ah kamu lucu kalau ngomong serius gitu’

Tuhan tersenyum manja sambil mencubit pinggangku, akunya yang jadi salah tingkah. Sebenarnya aku selalu memberanikan menatap mukanya, terutama matanya yang indah itu. Tapi kadang aku tak sanggup, malah yang ada aku melihat agak kebawah dan gak sengaja melihat sedikit2 belahan dadanya yang memang agak kelihatan.

Pikiranku mengembara kemana2.

‘Hey, koq bengong. Kamu mau minum apa…?’

‘Eh, hmm, aku yg traktir deh. Kamu mau minum apa..?’

‘Cappuccino boleh gak, makasih ya.’

Aku segera beranjak pergi ke bar untuk memesan cappuccino untuk Tuhan, dan hot chocolate plus cream untukku sendiri.

‘ Mas, kamu membenciku ya, suka sekali kau menyindirku dalam tulisanmu’

Lho, pertanyaannya langsung menohok begini.

‘Tiada guna aku membencimu Tuhan, toh kau tetap Tuhan. Membebaskan pemikiran manusia, itu lebih penting. Tapi, sebelum membebaskan pemikiran manusia, Tuhan yang perlu dibebaskan dulu dari penjara manusia.’

‘ Menurut Mas, aku harus bagaimana..?’

‘ Menurutmu sendiri bagaimana…?’

‘Mas, aku imanen sekaligus transenden, kalau kau rasa aku dekat, aku akan dekat, tapi kalau kau rasa jauh aku akan jauh.’

‘ Tuhan, dengan segala hormatku, imanen ataupun transenden, substansi dekat ataupun jauh, itu hanyalah subjektif belaka. Semua hanya berdasar asumsi. Aku tidak bisa menerima itu, paling jauh jika manusia masih harus mempercayaimu dengan rasio, ya bahwa Tuhan adalah Hukum Alam, seperti apa yg dipercaya Spinoza, Bruno dan Einstein. Sederhana sekali Tuhanku yang cantik, tidak ada bukti sama sekali ada campur tanganmu dalam semua kejadian di alam ini.’

‘ Tapi ke-pantheis-an Spinoza dan kawan2 itu tidak bisa untuk semua orang sayang, mayoritas manusia masih membutuhkan kehadiranku secara personal. Aku tahu bahwa Tuhan personal tidak bisa fit dalam kompleksitas makro maupun mikrokosmos, tidak mampu menyentuh relativitas ataupun kuantum mekanik, tapi kau harus ingat saudara2mu yang masih tertinggal. Tanpa Tuhan yang dekat, mereka akan dengan gampang lepas dari rel2 kebaikan. Tanpa harapan dan ancaman, mereka akan dengan gampang masuk dalam perangkap kejahatan.’

Eh, tidak salah dengar aku tadi, dia memanggilku sayang. Asyiikk, wah pucuk dicinta ulam tiba.

‘ Tapi begini Tuhan yang penuh keindahan, etika tidak harus dari Tuhan, etika tidak niscaya butuh sandaran vertikal. Etika harus membumi, dan itu bisa didapat dari pendidikan, simpati, dan hubungan sosial.’

‘ Aku setuju denganmu, tapi kau harus realistis sayang. Duniamu dihuni oleh 80% lebih orang yang beragama, kalau kau menginginkan perubahan, jangan kau tinggalkan mereka. Layaknya menyeberang sungai dengan perahu, kau sudah sampai di seberang. Tapi perahu jangan kau buang, mereka masih butuh perahu itu. Hanya yang pasti, perbaikilah perahu itu, yang bocor2 ditambal, sehingga mereka sampai juga di seberang. Aku juga tahu, dengan perahu konservatisme yang ada sekarang, mereka tidak akan pernah mencapai seberang, tapi sekali lagi jangan buang perahu, tapi perbaikilah. Secara ekonomi, cost-nya terlalu tinggi dibanding benefit yg diperoleh dengan membuang perahu itu dan menggantinya dengan yang lain ’.

Sebenarnya, aku gak begitu konsentrasi ngomong sama Tuhan, kecantikan dan kemanjaannya sungguh di luar dugaanku. Ah, kenapa tidak kuajak nonton film saja.

‘Eh, aku ada film bagus. Sepanjang film yang bermain hanya dua orang. Nonton film yuk.’

‘Boleh, dimana…?’

‘Di kamarku, deket koq dari café ini.’

Aku segera mengambil jaket kulitnya dan kubantu dia untuk memakainya. Horeee, perangkapku manjur.

Sesampai di kamar, Tuhan kelihatan senang. Dia senyum-senyum.

‘Kenapa kau senyum2..?’

‘Tumben, ada cowok kamarnya bersih’

Aku jadi ikut tersenyum2.

‘Kamarku bukannya bersih, tapi memang gak ada barang2 berharga. Seperti kau lihat, aku hanya punya laptop, gitar, keyboard, dan sedikit pakaian. Hippies miskin, biasalah hahhaa….’

Aku segera nyalakan laptopku, dan segera kuambil chips dan kitapun nonton ‘Before Sunrise’, film yang penuh dialog dewasa kalau aku bilang. Hampir akhir film ada adegan2 romantis, aku coba belai2 rambut Tuhan, dia diam saja. Kucoba cium pipinya, dia hanya senyum. Selanjutnya yang diinginkan terjadi, terjadilah.

Tapi setelah sekian lama bercumbu, busyet dah, belum juga orgasme Tuhan ini. Cunnilingus sudah, Fellatio sudah. Foreplay cukup lama. Sudah kucoba semua gaya, doggy style, 69, misionaris, crabwalk, butterflies, sampai T-Square dan Gaya Kapak tetep aja belum orgasme. Sementara aku udah capek banget, sudah ngilu disana sini.

‘ Mas kuat deh, belajar tantra ya Mas. Ayo dong main lagi, belum puas nih.’

‘Heh, enak kamu tinggal nerima beres. Aku belum makan nih dari tadi pagi, paling cuman snack waktu di toko tadi. Tantra sih tantra, tapi kalau kagak isi bensin, koit juga aku.’

Kupikir untung juga aku belajar tantra, bisa on-off saklar dengan presisi. Kalau tidak sudah tepar dari tadi. Tapi gairah Tuhan ini gak ketulungan, ngos2an aku dibuatnya. Sudah hampir tiga jam kita bergumul, tapi masih belum ada tanda2 dia akan terpuaskan. Dan 4 jam adalah titik kulminasiku, titik 6 jam seperti di tantra yang ideal masih belum pernah kualami. Biasanya karena si cewek sudah koit duluan.

Kuberpikir keras untuk menemukan titik sensitifnya. Setelah beberapa lama, aha, akhirnya kutemukan pula G-Spot Tuhan. Menggelinjanglah dia kalau kusentuh itu G-Spot, merem melek, goyang kanan, goyang kiri. Dan akhirnya diapun terengah2 menemui puncaknya.

Waktu sudah menunjukkan 10.30 malam, kuantar dia pulang. Kulihat dia tersenyum2 terus. Di halte kita berciuman di tengah dinginnya malam.

Sejak malam itu aku pacaran sama Tuhan. Tapi sebagaimana sudah aku duga sebelumnya, pacaran ama Tuhan itu makan hati. Tuhan sangat pencemburu dan posesif, mendua jelas2 gak boleh, bisa digampar abis aku. Selain itu Tuhan juga diktator, ngatur sana, ngatur sini, kalau kagak diturutin ngambek. Dalam hal komunikasi juga begitu, dia bisa seenak jidat menghubungiku kapanpun, tapi aku tidak bisa setiap saat menghubunginya, apalagi kalau rush hour. Tapi aku tetap sayang sama Tuhan. Aku mencintainya.

*Based on 50% true story

Mengakhiri Siklus Benci dan Kekerasan di Palestina

Friday, August 4th, 2006

Ketika anda melihat simbol Hizbullah, anda akan melihat semangat kebencian yang mereka rasakan. Simbol AK-47 di atas bola dunia, dengan tulisan Hizbullah dibawahnya (yg berarti tentara Allah atau pembela Allah). Hamas pun tidak jauh berbeda, dengan simbol dua pedang dengan Masjid Al-Aqsa ditengahnya plus tulisan Hamas yang berarti Pergerakan Perlawanan Islam. Penulis tidak ingin menggolongkan mereka sebagai teroris, karena pada dasarnya mereka adalah pejuang kemerdekaan, tetapi hanya ingin mengkritik jalan kekerasan yang mereka pilih untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Kedua kelompok ini yang sayangnya banyak dibantu dan didukung mati2an oleh saudara2 Muslimnya, tidak mengakui sama sekali keberadaan Israel, atau dengan kata lain ingin mengenyahkan negara Israel yg ada sekarang beserta seluruh orang Yahudi yang menghuninya. Ada dua kelemahan besar dalam tujuan ini, yang pertama adalah mereka (Hizbullah dan Hamas) walaupun dibantu oleh seluruh dunia Arab atau bahkan dunia Islam sekalipun, tidak akan mampu menandingi kekuatan Israel yang diback oleh AS. Kita tidak boleh menutup mata akan perang Arab-Israel 1967 yang hanya berlangsung 6 hari dengan kekalahan telak di pihak Arab (Mesir hanya bertahan 4 hari, Yordania 3 hari, dan hanya di front Suriah terjadi perang selama 6 hari secara penuh. Sinai, Jalur Gaza, dan Dataran Tinggi Golan direbut oleh Israel). Gap teknologi perang dan strategi sekarang justru semakin besar, sehingga hanya bisa menyisakan taktik perang gerilya yang membawa korban sipil tak berdosa di kedua belah pihak.

Yang kedua, Israel sebagai bangsa yang terbuang (diaspora) mempunyai hak juga untuk hidup sebagaimana bangsa lain dengan mempunyai tanah dan negara, perlu diingat bahwa banyak di antara tanah yang menjadi negara Israel sekarang adalah tanah yang dibeli orang Yahudi dari orang Arab Palestina. Apalagi orang Yahudi mempunyai masa lalu memilukan sebagai bangsa yang selalu dikejar2 dan dibunuh.

Yang patut dilawan adalah Zionisme, bukan Israel itu sendiri. Einstein dalam memoarnya berkata :” Jika kami (Orang Yahudi) tidak harus hidup di antara orang2 yang intoleran, berpikiran sempit, dan suka kekerasan, saya (Einstein) akan menjadi orang pertama yang akan membuang semua bentuk nasionalisme dan menggantinya dengan humanisme universal”. Nasi sudah menjadi bubur, kalau boleh dibilang keberadaan negara Israel di tanah Arab itu. Kekejaman Holocaust yang memakan korban 6 juta orang Yahudi (banyak sumber menyatakan kurang dari itu) adalah kejahatan kemanusiaan sangat besar dalam sejarah modern manusia. Einstein bersama David Ben Gurion dan beberapa tokoh kunci Poale Zion lain, adalah tokoh sayap kiri Israel yang menginginkan berdirinya Israel hanya sebagai pelarian dari dendam anti semitisme yang selalu mereka rasakan di seluruh penjuru dunia. Negara Israel yang berdampingan dengan damai dengan Negara2 Arab, bekerja sama demi kesejahteraan bersama. Berbeda dengan Zionisme konservatif yang menginginkan tanah yang dijanjikan dalam perjanjian lama yang berarti keseluruhan tanah Palestina termasuk Yerusalem, paham ini tak kalah bahayanya dengan ideologi para Muslim Fundamentalis, karena menutup jalan bagi penyelesaian damai.

Perjanjian damai hanya akan tercapai jika masing2 pihak saling menahan diri dan berunding tanpa menggunakan kekerasan. Dukungan atas nama agama juga tidak diperlukan disini, karena biasanya dukungan itu sektarian dan parsialis. Apabila yang didzolimi seagama, maka ramai2 berteriak, tetapi jika tidak seagama maka akan ramai2 diam seribu bahasa dan acuh tak acuh ( bandingkan antara kasus Palestina dan Kasus Darfur).

Untuk mencapai perdamaian abadi, ada 4 tahap penyelesaian konflik Israel-Palestina :

1. Penguatan institusi pendukung perdamaian di kedua belah pihak.
Di Israel ada kelompok besar yang menamakan dirinya “Israeli Peace Camp” yang bertujuan untuk hidup damai berdampingan dengan Arab, mereka banyak melakukan kampanye pro perdamaian di antaranya menentang pendudukan dan pemukiman Israel di Gaza dan Tepi Barat, meng-impeach Ariel Sharon atas kekejaman pembunuhan massal, dsb. Di Palestina pun mempunyai grup2 besar yang mendukung solusi dua negara berdampingan, salah satu diantaranya Fatah.

2. Mematuhi kembali Perjanjian Oslo 2003
Perjanjian Oslo 2003 mengharuskan Israel menarik diri dari Gaza dan Tepi Barat, dan ditingkatkannya kerja sama perdagangan, energi, keuangan, transportasi, komunikasi, dsb. Tujuan akhir dari Perjanjian Oslo adalah terbentuknya solusi dua negara Israel dan Palestina dengan satu ibukota yaitu Yerusalem.

3. Dukungan Internasional
PBB dan masyarakat Internasional harus bisa memaksa kembali kedua belah pihak untuk duduk kembali ke meja perundingan. Ini bisa dicapai tanpa menggunakan sentimen keagamaan yang justru akan memperuncing masalah. OKI menawarkan pasukan Islam untuk menjaga perdamaian, ini berbahaya karena yang bisa terjadi adalah pasukan perdamaian Islam itu akan berperang melawan Israel yang bisa memulai Perang Dunia III. Bantuan ekonomi sangat diperlukan Palestina untuk menjadi negara yang mandiri secara ekonomi dan bisa lepas dari ketergantungan dari bantuan luar negeri (50% lebih orang Palestina hidup dari bantuan luar negeri), sekaligus bantuan politik untuk memperkuat demokrasi di Palestina.

4. Perlucutan Senjata Kedua Belah Pihak
Program Perlucutan Senjata tanpa terkecuali harus diteruskan. Israel harus ditekan untuk bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan ofensif, dengan sendirinya pihak2 fundamentalis Arab tidak menemukan alasan untuk menyerang Israel. Perlucutan Senjata ini hanyalah awal dari usaha internasional untuk mempunyai tentara bersama yang kuat untuk menjamin perdamaian dunia yang lebih abadi, karena perlucutan senjata parsial hanya akan meningkatkan tensi konflik.

Sebagai akhir dari tulisan ini, perkenankan saya mengutip pernyataan Mahatma Gandhi “Jangan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan, tapi ber-ahimsa-lah akan semua yang kau anggap setan”

Amsterdam, 4 Agustus 2006