Archive for September, 2006

Sholat di Gereja, Misa di Masjid

Saturday, September 30th, 2006

Di Indonesia saudaraku
Sesama saudara seagama saling memaki
Apalagi yang beda agama dan ideologi
Kalau perlu dimusnahkan dari muka bumi
Baik jelek asal beda dicap PKI
Kelakuannya sendiri tidak lebih bagus daripada babi

Di Indonesia saudaraku
Bulan puasa jadi dagangan kapitalis
Islam jadi sarana barter politis
Natal jadi perayaan misionaris evangelis
Proselitisasi dan Konversi dijadikan bisnis

Itu yang beragama Islam
Maukah mereka seperti Muhammad
Mempersilahkan orang Kristen misa di masjid…?

Itu orang beragama Kristen
Maukah mereka seperti pendeta Yerusalem
Mempersilahkan Umar bin Khatab orang Islam sholat di gereja..?

Ah, saudaraku
Jangan harap mereka melakukan itu
Beda pendapat sedikit saja dilempari batu
Jangan mimpi mereka sehebat itu
Beda ritual sedikit saja dianggap gila dan dungu

Ya, saudaraku
Itulah bangsaku dan bangsamu
Kalau engkau mau mendengarkan ajakanku
Mari undang semua agama dan ideologi untuk bercumbu
Agar kebodohan ini tidak kita wariskan ke anak cucu

Maafkan Aku Paris Hilton

Friday, September 29th, 2006

Tiba-tiba engkau datang dengan sepeda khas Amsterdam
Berjalan masuk seolah engkaulah satu2nya manusia di alam

Tiba-tiba aku menbencimu
Sangat membencimu
Ingin mengataimu

Engkau datang dengan sikapmu yang jalang
Memborong semua yang disukai matamu yang temaram

Tiba-tiba aku ingin meludahimu
Tidak melayanimu walaupun aku penjual di toko itu
Muak aku melihat mukamu yang keriput kelupaan digincu

Dan setelah semua barang dimasukkan
Engkau pergi tanpa dosa lupa membayar belanjaan
Kupanggil dirimu dan kau lemparkan beberapa lembar uang
Dan kau pun pergi tanpa meminta kembalian

Tiba-tiba aku merasa mau muntah
Menyaksikan tingkah yang tak lagi indah
Harta dan Nama yang membuatmu berulah

Tiba-tiba aku termangu
Aku tidak boleh membencimu
Aku tidak boleh mengataimu
Aku tidak boleh muak melihatmu

Aku harus mengasihanimu
Aku harus menghormati kesombonganmu
Aku harus tawadhu’ atas sikapmu

Ah, kenapa Bunda Theresa tidak menjadi ibumu
Kenapa Yesus tidak menjadi bapakmu
Kesalahan ternyata pada diriku
Belum bisa mencintai makhluk sepertimu

Maafkan Aku Paris Hilton

Amsterdam, 28 September 2006
NB : Sepenggal kisah bertemu Paris Hilton di toko suvenir tempatku part time bekerja.

Balada Pak Kiai

Thursday, September 28th, 2006

Suatu ketika seorang kiai kepala pondok pesantren mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi negeri Paman Sam atas undangan seorang muridnya yang kebetulan belajar di sana. Bagi Pak Kiai, hal itu adalah sesuatu yang sama sekali baru, selama hidupnya dia belum pernah keluar negeri, keluar kota pun hanya beberapa kali.

Bagi Pak Kiai, ini adalah kesempatan dia untuk mengenal setan itu. Setan yang selama ini dimusuhinya, yang telah memporak porandakan umat Islam. Umat yang tidak punya hormat sama sekali akan ajaran Tuhan yang mulia. Maka sebelum berangkat Pak Kiai sholat dan berdoa siang malam, memohon petunjuk untuk bisa melakukan yang terbaik selama kunjungannya di negara yang sangat dibencinya itu.

Pada hari yang ditunggu-tunggu, berangkatlah Pak Kiai menuju Amerika Serikat, negeri penjajah dunia itu. Perjalanan yang sehari semalam naik pesawat dijalani Pak Kiai dengan sabar, demi mengenal musuh-musuh Islam, begitu pikir Pak Kiai.

Sesampai di Amerika Serikat, Pak Kiai langsung dijemput oleh muridnya yang bernama Pairan. Dan tanpa ba bi bu langsung diajak Pairan keliling dulu sebentar di kota sebelum akhirnya diajak pulang ke rumah sewaan Pairan. Pak Kiai akan menghabiskan waktu sebulan di Amerika Serikat.

Suatu sore Pak Kiai menonton TV, waktu itu dia melihat ada wawancara dengan tiga orang, dua laki-laki dan satu wanita. Lama sekali wawancara itu, Pak Kiai sampai bosan melihatnya, ketika dia memindahkan channel pun, lagi-lagi orang yang sama muncul. Sangking jengkelnya, Pak Kiai memanggil muridnya.

‘ Pairan, kesini kamu..’

‘Nggih Pak Kiai, ada apa..?’

‘Coba kamu jelaskan Pairan, apa yang diperbincangkan tiga orang ini, dari tadi hampir semua channel di TV-mu menayangkan mereka terus menerus, seperti tidak ada yang lain yang lebih menarik.’

Pairan menghela nafas sebentar.

‘ Oh mereka Pak Kiai, mereka itu Bill Gates, Warren Buffett, dan istrinya Bill Gates, Melinda. Itu Pak Kiai, Si Warren Buffett yang tua keriput sebelah kanan itu, akan menyumbangkan 37 milyar dollar kekayaannya untuk amal.’

Pak Kiai hanya diam tanpa ekspresi.

‘ Berapa kau bilang tadi, 37 milyar dollar, itu berapa Pairan. Dirupiahkan saja biar aku mengerti.’

Karena Pairan tak pinter hitung-hitungan, dia segera ke kamar mengambil kalkulator.

‘ Begini Pak Kiai, kalau satu dollar itu kursnya …’

‘Kurs, apa itu kurs..?’

‘ Oh, kurs itu nilai tukar Pak Kiai, jadi satu dollar bisa ditukar berapa rupiah, begitu kira-kira.’

‘ooooohh….’

Pak Kiai manggut-manggut mendengar penjelasan Pairan.

‘ Kalau kurs satu dollar itu Sembilan ribu Pak Kiai, maka jatuhnya akan menjadi tiga ratus tiga puluh tiga trilyun.’

‘hah, berapa…?’

‘Tiga ratus tiga puluh tiga trilyun Pak Kiai.’

‘ Satu trilyun itu berapa ribu rupiah Pairan..?’

Pak Kiai dengan nada ingin tahu terus mengejar Pairan dengan pertanyaan-pertanyaan. Pairan yang ditanyai seperti itu jadi kebingungan.

‘ Pak Kiai, maaf. Tapi kalau diribu rupiahkan akan susah, tapi kalau mau gampangnya satu trilyun itu satu juta juta, jadi kalau Pak Kiai ada duit satu juta ya satu jutanya satu juta itu.

Pak Kiai matanya terbelalak, hampir saja dia berdiri karena kagetnya. Pecinya sampai hampir lepas. Tiba-tiba saja nafasnya memburu, serasa menjadi sesak nafas mendengar jumlah yang tak terkira itu. Pak Kiai jatuh lagi terduduk di kursi, sambil dengan susah payah bernafas.

‘Pak Kiai, kenapa Pak Kiai…?’

Pak Kiai hanya diam saja, matanya masih menerawang tak tentu. Pairan yang kebingungan akhirnya lari ke dapur mengambil air putih untuk gurunya. Pak Kiai segera meminumnya.

‘ Hhhhmmm, agamanya apa si Warren Buffet itu…?’

‘ Dia tidak punya agama Pak Kiai.’

‘ Ah, pasti dia sangat kaya raya, kekayaannya pasti jauh lebih besar daripada yang dia sumbangkan itu. ‘

‘Maaf Pak Kiai, 37 milyar itu adalah 80% kekayaannya. Sisanya pun katanya suatu saat akan disumbangkan.’

‘ Seberapa besar itu 80% Pairan, pasti tak lebih dari zakatnya umat Islam.’

‘ 80% itu seperti ini Pak Kiai, kalau Pak Kiai punya 10 kambing, 8 kambing disumbangkan, itulah 80% . ‘

Lagi-lagi Pak Kiai terhenyak, merasa tak ada gunanya membicarakan si Buffet yang tua renta itu, Pak Kiai mengalihkan pembicaraan.

‘ Itu yang duduk bersama dia, apa yang dia lakukan, apa dia juga mau menyumbang…?’

‘ Oh Bill Gates dan istrinya itu Pak Kiai. Mereka juga akan menyumbangkan hampir semua hartanya untuk kepentingan orang-orang miskin, pendidikan, dan kesehatan.’

‘Yang disumbangkan Gates dan istrinya pasti tak sebesar si Buffet tadi.’

‘ Maaf Pak Kiai, amal Gates justru lebih besar Pak Kiai. Si Buffet tadi malah ingin membantu yayasan yang sudah didirikan oleh Gates dan istrinya.’

Pak Kiai semakin tidak mengerti, apa pula yang dilakukan oleh orang-orang kafir ini begitu rupa.

‘ Pak Kiai, mereka bahkan menginginkan dihapuskannya budaya dan hukum warisan. Semua orang yang kaya, di kala mati semua hartanya harus digunakan untuk kepentingan umum. ‘

‘ Gila mereka itu Pairan, buat apa orang bekerja keras kalau begitu..?’

‘ Katanya mereka sih, itu hanya tugas manusia saja. Bekerja sekeras mungkin, tapi bukan untuk dirinya sendiri, tapi harus dikembalikan ke masyarakat. Karena bagaimanapun semua kekayaan itu juga dari masyarakat juga.’

Pak Kiai mengambil nafas panjang, semakin tidak mengerti kenapa orang-orang kafir setan ini bisa berpendapat aneh seperti itu.

‘Warren Buffet, Bill Gates, dan George Soros. Mereka menolong semua orang, bahkan yang berbeda pandangan dengan mereka. Tanpa memandang agama, tanpa memandang ras, tanpa memandang kebangsaan. Apakah Tuhan kita lebih bermoral daripada mereka…?, sedangkan Gusti Allah kita hanya me-rahim-i yang beragama Islam, Yesus kita hanya men-surga-kan yang memilih jalannya, Yahweh kita hanya menolong keturunan Yahudi. Saya koq kadang-kadang curiga, jangan-jangan mereka ini lebih bermoral dari Tuhan sendiri….?’

‘Hush…’

Pairan ditampar oleh Pak Kiai sekeras-kerasnya sampai hampir terjungkal. Sebelum Pairan tegak kembali, Pak Kiai sudah memburunya dengan pertanyaan.

‘ Apakah mereka tidak beragama Kristen..?’

‘ Tidak Pak Kiai, mereka tidak beragama. Tapi spiritualitas mereka lebih tinggi daripada orang-orang yang beragama.’

Pak Kiai yang mendengar itu menjadi merah matanya, marah bukan main.

‘Pairan, aku mau pulang sekarang. Tiada gunanya lagi aku di negeri ini.’

Segera Pak Kiai ke kamar dan memasukkan semua baju-bajunya lagi ke dalam koper.

‘Aku mau pulang sekarang juga. Tidak akan lagi aku berlama-lama di negeri kafir yang aneh ini.’

Pairan hanya melongo saja, sementara angin dingin musim gugur mulai membelai bumi Amerika Serikat.

Kutukan itu Bernama Indonesia

Tuesday, September 26th, 2006

Paijo sejak kecil telah bercita-cita menjadi seorang guru. Ketika bermain dengan kawan-kawannya pun dia senang bermain guru dan murid. Setelah lulus SMA Paijo pun menempuh pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru. 3 tahun lamanya Paijo belajar di sana. Setelah lulus Paijo luntang-lantung selama 1 tahun melamar jadi guru kemana-mana, tapi walhasil dia tidak diterima.

Setelah hampir putus asa, tiba-tiba datanglah surat, yang isinya bahwa Paijo diterima jadi guru Bantu, tapi tidak di kota seperti yang Paijo inginkan, tapi di luar pulau. Akhirnya cita-cita Paijo pun kesampaian, walaupun di luar dugaannya sebenarnya. Yang lebih di luar dugaan lagi Paijo tidak hanya ditempatkan di luar pulau, tetapi juga di daerah pedalaman yang jauh dari mana-mana. Untuk ke kota terdekat saja butuh waktu sehari semalam naik kendaraan bermotor karena jalan besar belum ada, jadi harus melewati jalan-jalan tanah yang becek dan susah dilalui.

Di desa daerah pedalaman itu, tinggal tak kurang dari 3000 orang, dan mereka mempunyai satu sekolah dasar. Paijo terheran-heran pada awalnya, karena guru untuk 6 kelas itu cuma ada dua orang, jadi setiap orang memegang tiga kelas. Paijo pun dengan senang hati menerimanya. Memang gajinya tak seberapa, bahkan boleh dibilang sangat minim, hanya cukup untuk makan. Tapi Paijo gembira bukan main atas pekerjaan barunya itu. Dia tinggal di rumah kepala desa selama tugasnya di desa pedalaman itu. Begitu sampai keesokan harinya Paijo langsung diminta mengajar, karena memang SD itu sangat kekurangan guru. Karena hanya ada 2 guru di 6 kelas, Paijo yang baru di situ, akhirnya di beri tugas mengajar kelas 1 dan 2.

‘Anak-anak, Indonesia, negeri yang kamu banggakan ini adalah negeri kutukan Tuhan. Dengan hasil alam yang berlimpah, dengan minyak bumi yang tak habis2nya, dengan laut dan hasil laut yang berlimpah, itu semua bukan surga anak-anak. Justru kita telah dikirimi kutukan oleh Tuhan. Dengan semua kekayaan itu kita menjadi bodoh, centang perenang, dan kurang ajar terhadap alam itu sendiri.’

Anak-anak kelas 1 pun menjadi heboh, mereka kebingungan atas guru-guru mereka. Oleh guru mereka sebelumnya mereka diajarkan bahwa Indonesia kaya raya, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Surga yang dipenuhi oleh berbagai macam keindahan, orangnya ramah dan penuh budi pertolongan. Masyarakatnya tentram dan sejahtera. Tapi Paijo membalikkan semua itu menjadi gemah brebah ra migunani, ora tentrem rebutan bondho. (Kaya tapi gak berguna, tidak tentram rebutan harta). Anak-anak di kelas 2 malah lebih heboh lagi, karena tentunya mereka telah diajar oleh guru sebelumnya lebih lama lagi.

‘Dan kau ingat anak-anak, pepatah apa yang paling terkenal dari Ki Hajar Dewantara..?’

Anak-anak itu serentak menjawab.

‘Ing Ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, tut wuri handayani’

‘Kalian telah ditipu anak-anakku yang Pak Guru cintai, tidak ada pepatah seperti itu terjadi di Indonesia sekarang ini. Yang ada adalah Ing Ngarso numpuk bondho, Ing Madya mumpung kuoso, Tut Wuri Nyurigani. (Didepan menumpuk harta, di tengah mumpung berkuasa, di belakang curiga sepanjang masa).’

Anak-anak itu bertepuk tangan, Paijo pun semakin bersemangat.

‘ Negeri ini gudangnya penipu, gudangnya tikus2 pengerat yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Ini negerimu anakku, Bapak harus jujur pada kalian semua sekarang, supaya kalian tahu betapa rusaknya negerimu ini. Sehingga kalian tidak berpangku tangan seakan menerima warisan harta kekayaan yang berlimpah, tetapi warisan kalian adalah negeri yang akan bangkrut kebanyakan hutang, negeri yang penuh masyarakat kelaparan, negeri yang rawan bencana tetapi penduduknya malah sering menciptakan bencana tambahan. Ya, mau tidak mau, itulah warisan yang akan kalian terima dari kami para orang tua.’

Anak-anak kelas 1 dan 2 SD itu menjadi semakin bingung, tetapi mereka suka sekali dengan cara mengajar Paijo. Sabar dan penuh pengertian. Anak-anak dibiarkan sendiri mengekspresikan keinginan mereka dalam belajar. Bahkan Paijo sendiri tidak terlalu sering mengajar anak-anak di dalam kelas, Paijo sering mengajak mereka berjalan-jalan di hutan yang memang tak jauh dari lokasi SD itu.

Di hutan sepanjang mereka berjalan, mereka bernyanyi mars lagu-lagu kebangsaan yang diplesetkan. Salah satunya :

‘Garuda Pancasila
kamilah pengkhianatmu
pengkhianat proklamasi
selalu mengorbankanmu

Pancasila dasar negara
Rakyatnya lapar menderita
Bangunlah bangsaku
Ayo maju maju ayo maju maju ayo maju majuuuu……..’

Lama kelamaan sampai pulalah kabar berita tentang Paijo itu di telinga para orang tua yang ada di kampung itu. Anak-anak itu dengan riang biasanya menceritakan perjalanan mereka ke hutan sambil belajar. Dan tentu sekali dua kali mereka menceritakan bahwa negeri Indonesia adalah negeri kutukan Tuhan. Para orang tua yang mendengar seperti spontan kaget bukan main. Banyak di antara mereka yang mendatangi sekolah untuk minta penjelasan. Tetapi oleh Paijo dijelaskan baik-baik walaupun mereka tetap tidak puas. Mereka tidak terbiasa dengan cara mengajar Paijo, bahkan mereka merasa tidak suka. Di rumah, anak-anak mereka menjadi sering bertanya tentang banyak hal. Dulu orang tua-2 itu dengan gampangnya menyuruh diam, tapi akhir2 ini mereka tidak mau diam dan bertanya terus. Ditambah dengan beberapa kalimat yang anak-anak itu dapatkan dari Paijo. ‘Pertanyaan anak kecil adalah keingintahuan yang harus dijawab’ begitu mereka menirukan Paijo.

2 rekan Paijo guru di SD itu juga tidak senang dengan Paijo, karena murid-murid kelas 3 sampai 6 pun mulai ikut-ikutan ingin diajar seperti murid-murid di kelas 1 dan 2. Dan sifat Paijo yang demokratis dan tak pernah marah dengan anak-anak itu membuat mereka semakin jengkel, karena mereka sudah terbiasa menjadi dewa di kelas. Apapun yang dikatakan bapak ibu guru adalah benar, sabda pandita ratu. Tidak ada yang bisa dan mampu membantahnya. Mereka sudah sering menyindir Paijo untuk berhenti dengan caranya mengajar yang menurut mereka aneh itu. Tapi Paijo tak bergeming. Diam-diam 2 guru itu mengirimkan surat ke Dinas Pendidikan yang menugaskan Paijo untuk mengajar di kampung itu.

Tak lama kemudian Paijo dikeluarkan dari profesinya sebagai guru Bantu , bukan hanya dikeluarkan tetapi juga disertai ancaman untuk tidak lagi mengajar dalam bentuk apapun. Paijo dengan sangat berat hati meninggalkan pekerjaan yang amat dicintainya itu, tapi terlebih lagi Paijo kasihan melihat anak-anak tunas bangsa yang dicekoki oleh kebohongan-kebohongan tiap harinya.

Wasiat Untuk Anakku

Monday, September 25th, 2006

Anakku…
Badanku sudah seperti serabut
Nyawaku akan sebentar lagi tercabut
Jiwaku akan mengarungi alam malakut

Kini kutuliskan wasiatku wahai anakku
Jangan harapkan serupiahpun warisan
Jangan bayangkan rumah, mobil, ataupun uang bergelimangan
Jangan inginkan sedikitpun dari bapakmu yang akan menghadap Tuhan
Tidak ada yang akan kuwariskan selain pendidikan
Warisan hanya akan membuatmu keenakan
Semua harta akan disumbangkan ke yayasan

Wahai buah hatiku,
Warisan harta adalah kebodohan masa lalu
Membuat manusia seolah hidup tak terbatas waktu
Membuat manusia mengubur dirinya dalam semu

Wahai anakku,
Maafkan aku sepenuh hatimu
Karena kumasih meninggalkan bumi yang pilu
Semoga bumi bisa menjadi baik di pundakmu

Wahai anakku,
Harta tidak akan membuatmu bahagia
Tetapi kau harus jadi orang kaya
Jadilah seperti kran air raksasa
Air berlimpah tapi bukan untuk dirinya
Untuk siapa saja yang membutuhkannya

Sekarang anakku,
Kapalmu sudah kubakar
Di tepi pantai dirimu sudah kuantar
Jadilah manusia tegar dan sabar

Sajak Rindu*

Tuesday, September 19th, 2006

Aku rindu pagi hari
Ketika kuinjakkan kaki
Di sawah penuh hamparan padi
Melihat makhluk bersetubuh dengan bumi
Dan kulihat senyum bapak ibu petani
Senyum tulus bagaikan sinar mentari

Aku rindu sore hari
Ketika kubimbing anak2 kecil belajar mengaji
Ketika kubelajar dari mereka bagaimana menikmati dunia ini
Ketika kubermain dengan keceriaan mereka yang abadi
Ketika mereka gembira menjadikanku kawan sejati
Ketika kubahagia memberikan ilmu tak seberapa yang kumiliki

Aku rindu malam hari
Ketika kutapaki jalan sepi
Di bawah sinar rembulan yang sunyi
Dan kubertemu dengan seorang guru sufi
Yang mengajariku menyatu dengan Ilahi
Yang mengajariku melebur dengan roh bumi
Yang mengajariku mandi dalam bara api

Aku rindu dini hari
Ketika dingin merasuki tulang ini
Kuterisak dalam sujud meniadakan diri
Di lantai musholla desa yg tanpa alas sama sekali
Dan bergetar larut dalam kesadaran arti
Bahwa tugas besar masih menanti
Perjuangan tak akan pernah berhenti
Sampai seluruh penderitaan hilang dari lubuk hati
Sampai seluruh anak bumi mewarisi hakikat cinta sejati

* sedikit kenangan yg tersisa dari kampungku

Merampok Muhammad, Menyumbang Firaun

Tuesday, September 19th, 2006

Syahdan suatu ketika di jaman itu, terdapat dua orang bersaudara bernama Muhammad dan Firaun. Muhammad 4 tahun lebih muda daripada Firaun, tetapi walaupun begitu mereka berdua bergaul layaknya mereka saudara kembar saja. Muhammad adalah anak pendiam tapi sangat cerdas, dia senang mengamati segala sesuatu dan salah satu kegemarannya adalah membaca. Apabila Muhammad sudah membaca, dia bisa lupa makan dan minum seharian. Sedangkan Firaun adalah anak yang ekstrovert, periang, dan sama seperti Muhammad, Firaun juga adalah anak yang sangat cerdas. Kegemarannya agak lain dengan Muhammad, Firaun lebih suka berburu ke hutan, dan sering membawa hasil buruannya ke rumah untuk dijadikan santapan keluarga.

Setelah mereka agak dewasa, mereka dikirim ke kota untuk belajar. Beberapa ternak yang dipunyai dijual, dan hasil penjualan itu digunakan untuk membiayai perjalanan serta membiayai sekolah. Di kota, Muhammad memilih untuk belajar ilmu perdagangan, sedangkan Firaun memilih untuk belajar ilmu politik.

Karena pada dasarnya mereka berdua cerdas, prestasi yang mereka dapatkan di sekolah masing-masing sangatlah bagus, bahkan mereka sering mendapatkan penghargaan akademis. Selama sekolah Muhammad aktif menjadi pedagang kecil-kecilan di kampusnya, hasil dagangan itu dia gunakan untuk menabung, walaupun sebagian besar disumbangkan pula ke beberapa tempat penampungan anak-anak yatim. Sedangkan Firaun sangat aktif dalam gerakan mahasiswa, bahkan sempat pula menjadi kepala perkumpulan mahasiswa seluruh negeri.

14 tahun masa sekolah selesai sudah, Muhammad akhirnya memutuskan untuk membantu usaha kecil yang ada di desa-desa. Muhammad membantu mendirikan usaha bersama yang keuntungannya pun untuk kepentingan bersama, datanglah dia ke desa-desa terpencil dan memberikan pengarahan dan pelatihan bagi penduduk. Dengan sabar dia bergaul dan mengarahkan mereka untuk mandiri dengan usaha bersama daripada terjerat oleh lintah darat yang pada waktu itu banyak sekali beroperasi di desa-desa. Muhammad sendiri akhirnya hidup pula di salah satu kampung terpencil itu. Muhammad punya rumah sepetak 3×3 meter, dindingnya tanah liat, atapnya daun kelapa yang dikeringkan. Isi rumahnya hanya pelepah kelapa untuk bantal tidur, sebuah selimut lusuh, dan sebuah guci berisi air. Muhammad sebenarnya punya uang berlebih, tetapi dia memilih untuk hidup sederhana.

Lain lagi dengan Firaun, setelah selesai sekolah dia semakin aktif dalam bidang politik. Dengan segala cara akhrinya dia menjadi salah satu tokoh politik penting di negeri itu. Sampai suatu ketika huru-hara politik terjadi, karena Firaun melakukan kudeta terhadap pemerintahan negeri itu. Firaun mengambilalih kekuasaan dengan kekuatan militer yang memang telah dibujuk Firaun untuk mendukungnya, dengan janji berupa akses ekonomi yang lebih gampang.

Setelah menjadi raja tunggal negeri itu, Firaun langsung membangun kerajaannya atau tepatnya membangun kerajaan pribadinya. Firaun membangun istana puluhan bahkan ratusan, mengumpulkan timbunan emas dan berliannya sampai tak terhitung, sampai kendaraannya pun berlapis emas dan bertahtakan berlian. Bajunya terbuat dari sutra Cina terbaik, yang halusnya bisa bikin lalat terpeleset.

Waktu itu di ujung negeri, ada dua bersaudara perampok yang juga cukup terkenal di dunia kejahatan, mereka adalah Imof dan Badu. Firaun mengetahui adanya dua bersaudara itu mengendus firasat baik, akhirnya Imof dan Badu dijadikan anak buah Firaun. Tentu pekerjaan merampoknya tidak lagi terang-terangan, tetapi sistematis. Firaun menjadikan Imof dan Badu sebagai centeng bisnis perusahaan Firaun.

Imof dan Badu mulai melumpuhkan usaha-usaha yang telah dibangun Muhammad bersama penduduk desa dengan strategi yang rapi. Mula-mula mereka dikenakan pajak yang tinggi atas hasil-hasil usaha itu, kemudian akses ke kota ditutup untuk usaha mereka dengan berbagai alasan, dari alasan kesehatan sampai alasan prosedural. Di saat yang sama Firaun membangun usaha-usaha raksasa untuk memenuhi permintaan kebutuhan masyarakat kota.

Ternyata strategi yang serapi itu tidak juga melumpuhkan usaha-usaha di desa itu. Akhirnya Imof dan Badu merasa frustasi, dan mereka pun menggunakan taktik kekerasan. Mereka merampok Muhammad dan perusahaan di desa-desa itu untuk diberikan ke Firaun, walaupun jarang yang tahu itu. Bagi Muhammad sendiri, perampokan itu tidak terlalu dipikirkannya pada awalnya. Muhammad memang dermawan, walaupun dia sering kelaparan. Walaupun sering dirampok, dia tetap mendiamkannya saja. Dia selalu beranggapan bahwa mungkin perampok itu memang membutuhkan harta hasil rampokan. Muhammad beranggapan bahwa orang yang paling kaya adalah orang yang kebutuhannya paling sedikit, sedangkan Firaun adalah raja murni penumpuk harta sebanyak-banyaknya. Semua orang tentu boleh kaya, bahkan harus kaya, tapi kekayaan itu berguna bagi orang lain, dan bukannya malah didapatkan dari kesusahan orang lain, begitu prinsip Muhammad.

Lain di desa, lain pula di kota. Masyarakat kota merasa senang dengan kebijakan Firaun karena mereka telah dijejali oleh propaganda melalui selebaran ataupun mulut ke mulut atas kebaikan program2 yang dijalankan Firaun. Mereka jarang sekali tahu kesulitan-kesulitan yang dialami oleh para penduduk desa untuk bisa bertahan hidup secara layak.

Tapi, lama kelamaan praktek Firaun di desa-desa itu terdengar juga di telinga penduduk kota. Mula-mula dianggap berita bohong, tapi lama kelamaan menjadi santer saja. Di media yang ada waktu itu sering ada berita ‘ Jutaan anak kelaparan’, atau ‘ribuan orang mati terbunuh’ . Permulaannya memang seperti itu, kata-kata pasif selalu digunakan seolah kejadian itu terjadi begitu saja, sehingga seolah-olah tidak ada yang bertanggung jawab atas kejadian itu, dan bisa mencuci tangan atas kelaparan atau pembunuhan struktural itu. Didorong oleh rasa penasaran, akhirnya ketahuan pula oleh penduduk kota bahwa kelaparan itu adalah tidak murni kejadian alam, tetapi faktor-faktor lain banyak bermain. Infrastruktur politik yang lemah dan korup menjadi salah satu penyebab terbesarnya, hak orang-orang desa untuk menentukan sendiri bagaimana mereka ingin sejahtera sangat dibatasi, pilihan berusaha dan bercocok tanam menjadi sangat terbatas. Apalagi ditambah para punggawa dari kota yang sering melakukan pungutan liar dengan paksa.

Muhammad yang berada di tengah-tengah penderitaan di desa-desa itu menjadi sangat prihatin, kemiskinan adalah kata-kata yang paling dibenci Muhammad. Karena sering dengan kemiskinan, permasalahan tambahan muncul layaknya jamur di musim hujan. Pelacuran, perampokan, pertengkaran karena uang, dan banyak lagi yang lain. Tetapi kemiskinan yang melanda saat itu bukan pula kemiskinan biasa, kemiskinan yang terjadi karena disengaja dan dibuat, begitu menurut Muhammad, kalimat-kalimat di media yang pasif itu seharusnya menjadi ‘Kita telah membuat mereka kelaparan’, atau ‘Kita telah membunuh ribuan orang’. Salah satu yang bertanggung jawab menurut Muhammad adalah Imof dan Badu yang secara langsung ataupun tidak langsung telah banyak membuat manusia kelaparan di kerajaan itu. Ketimpangan antara yang miskin dan yang kaya semakin kentara dari waktu ke waktu.

Pada suatu sore, Muhammad didatangi oleh beberapa orang kota ditambah puluhan orang desa yang marah. Mereka menuntut Muhammad untuk bertindak atas kondisi negeri itu. Pada mulanya Muhammad tidak mau menuruti kemauan mereka, tetapi ketika salah satu orang yang datang membawa mayat seorang anak yang baru meninggal karena kelaparan, hati Muhammad tergugah.

Desa-desa pun mulai bergemuruh, Muhammad memantapkan tekadnya. Dia sendiri yang memimpin pemberontakan terhadap saudaranya, Firaun. Termasuk salah satunya yang paling penting adalah menyingkirkan Imof dan Badu yang selama ini telah menjadi centeng Firaun. Suasana semakin panas dari waktu ke waktu, kelaparan masih merajalela, Imof dan Badu semakin bertambah kekuatannya, Firaun semakin kaya dan berkuasa. Apakah Muhammad berhasil melawan mereka..?, hanya waktu yang mampu menjawabnya.

Tuhan ingin bermain dadu, Manusia ingin tarik tambang

Saturday, September 16th, 2006

Tuhan lagi asyik-asyiknya berjalan di taman surga, ketika tiba-tiba surga berguncang keras. Tuhan sampai sempoyongan dibuatnya. Kedengaran gemuruh, goncangan itu begitu keras sehingga beberapa bangunan surga retak-retak. Pohon-pohon surgapun bergoyang kesana kemari, Tuhan pun bertanya-tanya, ini pertama kalinya ada gempa bumi di surga. Tapi untung, gempa itu tak bertahan lama, hanya beberapa detik, walaupun meninggalkan beberapa kerusakan disana-sini. Memang bangunan surga tidak dirancang untuk anti gempa, karena memang seharusnya tidak ada gempa.

Tak lama kemudian Jibril datang tergopoh-gopoh dengan muka benjol, matanya yang kiri biru seperti habis dipukuli preman. Langkahnya agak terseret.

‘ Tuhan, tuhan, aku ada hal penting yang akan kulaporkan.’

Dengan nafas masih terengah-engah Jibril tak sabar ingin memberikan laporan.

‘ Sebentar ambil nafas dulu, duduk dulu…’

Tuhan langsung bergegas mengambil air minum buat Jibril. Setelah air minum itu diserahkan kepada Jibril, Jibril langsung meminumnya tandas tak bersisa sama sekali. Rupanya Jibril kehausan pula. Tuhan tersenyum-senyum, mukanya Jibril yang benjol disana-sini lucu sekali terlihat. Sayap Jibril pun kelihatan kusut, bahkan terlihat beberapa bulunya tercerabut. Jibril yang tahu disenyum-senyumi Tuhan jadi bersungut-sungut, Jibril bete banget ama Tuhan.

‘ Nah Jibril, sekarang kamu ceritakan dulu, kenapa mukamu sampai kaya becak ditubruk angkot begitu..?’

‘ Ini nih Tuhan, GPS ku lagi ngadat, aku rencananya mau laporan secepatnya, sehingga kugenjot aja aku terbang ke surga. Karena ngadat, aku tidak tahu kalau surga sudah dekat, sehingga dengan kecepatan tinggi kutabrak surga dari bawah. Ya beginilah jadinya, mukaku jadi benjol kemana-mana, bulu-bulu sayapku pada patah, malah kakiku terkilir juga. Dasar nasib…’

Tuhan mendengar cerita Jibril itu merah mukanya, bukan kasihan ternyata.

‘Jadi yang bikin gempa itu kamu to, dasar semprul. Istanaku jadi rusak dimana-mana, padahal para kuli bangunan lagi libur pulang lebaran lagi. Dasar tolol kau Jibril.’

Bogem mentah mendarat di muka Jibril, kali ini matanya sebelah kanan yang mendapatkan giliran. Lengkaplah sudah, dua mata Jibril berwarna biru di sisi-sisinya. Jibril sempoyongan dibuatnya, Tuhan yang rencananya mau menambah bogem mentahnya, tidak jadi melakukannya, tapi malah ketawa ngakak. Jibril seperti biasanya tidak berani sama Tuhan, hanya hatinya aja yang gondok. Setelah pusingnya hilang, Jibril langsung mendekati Tuhan lagi.

‘ Yang Mulia Tuhanku, aku mau melaporkan prestasi yang diciptakan manusia bumi Tuhanku. Mereka telah mulai lagi mengagungkan namamu.’

Tuhan yang pada dasarnya narsis, langsung tertarik atas berita yang dibawa Jibril.

‘Teruskan, teruskan…’

Jibril pun semakin bersemangat bercerita.

‘ Ilmuwan paling masyhur di bumi saat ini, Albert Einstein dengan lantang berbicara ‘ Tuhan tidak bermain dadu’ . Ini langkah besar Tuhanku Yang kumuliakan. Peletak dasar kepercayaan akan determinisme yang mengarah ke kepercayaan akan takdir. Ya memang Einstein tidak mempercayai keberadaanmu Tuhanku, karena baginya Tuhan itu hukum alam, tapi kalimatnya bahwa tuhan tidak bermain dadu itu telah digunakan oleh orang-orang beragama dan percaya keberadaanmu, bahwa memang takdir itu ada. Ini tanda kebangkitan keterkenalanmu di bumi Tuhanku, setelah sekian lama dihina dan diejek oleh Marx, Feuerbach, Sartre, dan Freud.’

Tuhan manggut-manggut, ada semacam kebanggaan dalam dirinya namanya mulai terkenal lagi di bumi. Tapi kemudian keningnya berkerut.

‘ Goblog kau Jibril. Malaikat gebleg, edan.’

Tuhan dengan suara kerasnya nyemprot di muka Jibril. Jibril sampai terkencing-kencing dibuatnya.

‘ Itu tanda buruk tolol, semakin lama manusia akan semakin melupakanku dengan kalimat Einstein itu.’

Jibril yang masih kaget atas reaksi Tuhan yang berlawanan dari apa yang diharapkannya hanya diam seribu bahasa. Muka Tuhanpun semakin memerah, Jibril menundukkan muka sembari agak menjauh dari Tuhan.

‘ Sini mendekat malaikat debil, kau tahu apa artinya ucapan Einstein itu bagi masa depan namaku di bumi. Namaku akan semakin ditinggalkan manusia, karena alam semesta justru membuktikan bahwa aku memang bermain dadu. Dan orang-orang yang semakin sadar ilmu pengetahuan, rasio dan teknologi malah akan justru menertawakanku.’

‘ Tapi Tuhanku, banyak sekali manusia yang masih mengagungkan namamu, sembahyang dan berdoa tiap hari, menangis ingin bertemu dengan Engkau Tuhanku.’

‘Jibril, aku tidak sedang berbicara tentang mayoritas manusia yang sekedar menjadi bebek itu, dogmatis dan normatif, tidak mampu berpikir merdeka. Aku berbicara tentang pemikir-pemikir bumi yang lambat laun akan semakin mengajarkan bahwa kehadiranku tidak penting. Dan lambat laun pula, bebek-bebek itu akan mengikutinya.’

Jibril manggut-manggut dijelaskan Tuhan.

‘ Kau tahu kenapa aku bilang bahwa aku bermain dadu..?’

Jibril yang habis manggut-manggut kini menjadi kebingungan mendapat pertanyaan seperti itu. Malah Jibril jadi menggeleng.

‘Nggak tahu Tuhan.’

‘ Ya, aku tahu kau memang tolol Jibril. Tidak mau belajar berpikir. Tapi itu tidak penting, jadi begini, dengan kuantum mekanik dan teori ketidak pastian yang sekarang telah banyak terbukti, determinisme itu tidak ada, atau kalaupun ada kemungkinannya kecil. Manusia tidak bisa mengukur kecepatan dan posisi partikel disaat yang bersamaan, jadi memprediksi sesuatu di masa mendatang akan sangat susah. Yang masih percaya takdir masih bisa bilang ada variabel tersembunyi, tapi variabel tersembunyi tidak pernah terbukti ada. Yang ada adalah partikel yang menyerupai gelombang, yang justru semakin susah diprediksi.’

Jibril pun hanya pura-pura mendengarkan, dia sebenarnya tidak tahu tuhan sedang ngomong apa. Tapi daripada dibogem lagi dia harus mendengarkan dengan baik, kalau perlu bertanya.

‘ Berarti masih ada kemungkinan untuk percaya takdir kan Tuhan, walaupun kecil..?’

‘ Itu belum titik, konsep ruang-waktu ala Einstein telah membuka jalan ditemukannya lubang hitam atau black hole. Dengan lubang hitam, kemungkinan takdir lebih kecil lagi, bahkan hampir nol. Apapun yang masuk lubang hitam, akan hilang disana karena tidak cukup energi untuk mengeluarkannya lagi. Mungkin dia masih ada, tapi kita tidak akan bisa lagi mendeteksi keberadaannya. Jadi kemampuan takdir sekali lagi malah mendekati nol. Jika pun energi cukup, apa yang keluar dari lubang hitam manusia tidak akan pernah bisa memprediksi, karena apa yang dalam lubang hitam kita tidak pernah tahu. Ini yang kumaksud bahwa aku bermain dadu, bukan hanya bermain dadu biasa, tapi bermain dadu di saat manusia tidak bisa melihatnya.’

Jibril semakin bingung, kalimat-kalimat Tuhan sudah diluar kosakata pemikirannya. Tuhan sadar kalau Jibril bingung, tapi membiarkan saja.

‘ Tapi untuk manusia di bumi Tuhanku, mereka kan terikat takdir kematian, jodoh, kelahiran, dan pekerjaan..?’

‘ Ah Jibril, itu bukan takdir. Itu keputusan manusia sendiri sebenarnya, terikat hukum sebab akibat yang kompleks, memang tidak bisa diprediksi dengan tepat, tetapi bukan pula determinisme takdir yang bermain. Tuhanmu ini telah menyerahkan semuanya ke hukum alam dan usaha makhluk sendiri. Manusia ingin tarik tambang denganku, seolah aku masih menentukan sebagian hidup mereka, sehingga mereka masih bisa punya sandaran vertikal. Tidak, aku tidak mau tarik tambang, aku ingin bermain dadu.’

Jibril manggut-manggut lagi. Tapi tiba-tiba Tuhan beranjak dari tempat duduknya, kemudian ke belakang. Tak lama kemudian Tuhan sudah membawa sebuah alat kecil.

‘ Ini GPS baru buat kamu, lebih modern dari yang aku beri dulu. Awas kalau kau nabrak surga lagi, tak pecat jadi Menteri Informasi Semesta. Sudah sana, cari informasi lagi, kali ini jangan dari bumi lagi, bosan aku dengar laporanmu dari makhluk-makhluk bodoh di bumi itu. Cobalah ke planet-planet di galaksi Andromeda, sepertinya penghuninya lebih pintar.’

‘Daulat Tuhanku.’

Jibril segera beranjak dari surga, terbang ke galaksi Andromeda.

Hologram Oksimoron

Saturday, September 16th, 2006

Bodohnya orang-orang pintar itu
Lucunya orang-orang serius itu

Yang katanya dipandu Roh Kudus ternyata picik
Yang katanya khalifah Allah di bumi ternyata panik

Pausnya nggak ngerti Islam
Islamnya buta sejarah borok kenabian

Muhammad memang pernah menebarkan agama dengan pedang
Tapi pendahulunya Paus pun tak kalah kejinya menebarkan penderitaan

Jika semua ini berkelanjutan
Perang Peradaban tak lagi terelakkan

Monyet-monyet narsis kehausan darah
Kumpulan para fasis memprogandakan perang ummah

Romantisme historis yang salah sasaran
Visi konservatif hitam putih yang dituhankan

Dua agama terbesar yang lahir sesar
Hingar bingar tapi kehilangan makna dasar

Sedekah Untuk Bill gates

Thursday, September 14th, 2006

Paijo gembira sekali
Hari ini baru terima gaji
Tapi dia jadi sedih hati
Celana belel saja tak tak terbeli
Apalagi Dolce Gabbana ataupun Gucci
Paling-paling bisa untuk beli nasi

Paijack rapat di Singapura
Polisi dengan pentungan menjadi penjaganya
Gadis Gelang menawarkan vaginanya
Paijack pun semakin bergelora
Membahas perputaran kesejahteraan orang berada
Bagaimana yang kaya menjadi semakin kaya
Bagaimana yang miskin tak berdaya dan diam saja

Paijo pun akhirnya menyadari
Bahwa duitnya tak lagi berarti
Makanya sebelum dia mati
Disumbangkannya duit itu lagi
Kepada orang kaya yang dianggapnya baik hati
Suatu hal yang amat susah ditemui

Paijack sepakat dengan kawan2nya
Bersama-sama merampok rakyat jelata
Bekerja sama menghisap darahnya
Kemiskinan mayoritas adalah niscaya
Penderitaan proletariat adalah hal biasa

Paitong bertindak sebagai centeng
Petentang-petenteng seperti celeng
Siapa mengganggu bakal dijadikan oseng-oseng
Paijack dan Paitong, sunnguh malaikatpun bakalan mupeng

In commemoration of IMF n World Bank meeting in Singapore 2006