Archive for October, 2006

Kontemplasi hari dimana aku dilahirkan

Monday, October 23rd, 2006

Filsafat Piramida

Kumerangkak
Kuberlari menyanyi
Kuberpeluh berdarah
Memanggul batu-2 nutfah
Merekatnya dengan matrix ghirah
Menyusunnya lebih tinggi
Menuju puncak hakiki

Di ketinggian piramida
Terlihat kosmos tawarkan cantiknya
Kumenangis mengagumi nyata
Kubergetar menyelami-Nya
Kontemplasi iluminatif dalam spektrum kosmik
Menembus gamut, menentang jumud
Larut dalam Anatta, tinggalkan dogma
Melenggang bersama quantum, sinari kontinum

Piramida mengerucut mengecil
Di atas kumerasa sangat kerdil
Kulminasi terpatri pada titik nihil

Aku tiada
Tiada aku

30 Ramadhan, hari dimana aku dilahirkan, hari kontemplasi historis futuristis.

Nietzsche Telah Mati

Wednesday, October 18th, 2006

Hari ini adalah hari istimewa, Tuhan telah mengambil keputusan besar. Tuhan dengan tegas telah menyatakan perang dengan Nietzsche, yang selama ini telah melakukan tindakan subversif dengan menjelekkan namanya dan lebih jauh lagi menyatakan diri, bersama banyak yang lain, telah membunuh Tuhan. Di semua koran di seluruh dunia, TV serta internet dipasang iklan besar-besaran. Tuhan kali ini tidak main-main. Dikeluarkannya iklan dengan pesan yang sama persis di seluruh media dunia.

‘ Nietzsche telah mati, dan Tuhan telah membunuhnya.’

Propaganda Tuhan berlangsung selama berbulan-bulan, terutama di negara dunia ketiga, sampai-sampai orang-orang hafal isi propaganda singkat nan ampuh itu. Tentu Tuhan mengeluarkan dana tidak sedikit untuk kampanye besar-besaran itu, bahkan kabarnya Tuhan menerbitkan obligasi untuk menambah dana kampanye. Bunga obligasi ditinggikan, dengan iming-iming tiket ke surga sebagai hadiah tambahannya. Tuhan mendapatkan dukungan besar-besaran terutama dari pemeluk agama, khususnya agama Abraham. Tetapi tak sedikit pula politikus oportunis yang mendukungnya, dengan konsesi apabila kampanye Tuhan berhasil, maka Tuhan mempromosikan politikus berkaitan untuk berkuasa.

Lain dari kubu Tuhan, ada pula kubu yang anti Tuhan. Tidak semua yang anti Tuhan ikut-ikutan sebenarnya, hanya yang radikalis saja yang dengan menggebu-gebu mengadakan kampanye tandingan. Mereka sama sekali tidak percaya apapun yang berkaitan dengan Tuhan.

Di beberapa negara maju, propaganda Tuhan mendapatkan tandingan walaupun ternyata tidak terlalu berpengaruh, karena memang kampanye tandingan itu tidak terlalu besar dananya. Sehingga hasilnya pun sudah ketahuan, propaganda Tuhan lebih mendapatkan perhatian dan simpati publik.

Tema sentral kampanye mereka adalah “ Tuhan telah mati dua kali, pertama dibunuh umatnya sendiri, kedua kalinya dibunuh ilmu pengetahuan.” Tema seperti ini nampak membingungkan terutama bagi rakyat biasa, apalagi yang buta huruf. Apalagi jika ditambahi dengan tesis-tesis dasar Nietzsche yang semakin memojokkan orang kebanyakan. Mereka ini menuduh sebagian besar manusia mempunyai mental budak, yang datang karena manusia berjiwa lemah. Akhirnya kepercayaan manusia bermental budak inipun digantungkan pada sesuatu yang metafisik berupa malaikat dan iblis. Seolah-olah kehidupan mereka selalu dan selalu setiap harinya dikuasai oleh kekuatan supranatural di luar dirinya. Hanya segelintir orang saja yang bisa dianggap Ubermensch, manusia super yang bisa dengan kreatif melabrak dogma-dogma lama dan menciptakan kode moral dan kode sosial baru yang lebih baik.

Semua agama mendapatkan pukulan telak dari kampanye anti Tuhan ini, menyerang pembawa agama dan pemimpin-pemimpin agama. Tetapi khusus di tempat-tempat tertentu yang tingkat pendidikannya rendah, tema sentral dipersingkat menjadi
‘Tuhan telah mati, yang menyembah Tuhan telah membunuh Tuhan’
itupun masih banyak yang tidak mengerti artinya apa. Tetapi cukup mencuri perhatian juga, alasannya sederhana karena sepertinya kalimatnya bertentangan satu sama lain. Yang menyembah Tuhan koq yang membunuh Tuhan, bagaimana bisa sesembahan bisa dibunuh oleh yang menyembahnya. Tidak hanya itu, pertanyaan demi pertanyaan pun muncul di benak khalayak ramai, karena iklan tandingan ini ternyata tidak bertahan lama, sepertinya ada pihak-pihak tertentu yang membredel koran atau media yang menayangkan iklan itu. Koran yang pertama kali memuat iklan itu langsung tutup keesokan harinya, diguncang skandal pencemaran nama baik yang diajukan oleh pengusaha papan atas.

Hanya ada satu media alternatif yang masih tetap menyiarkannya, yaitu internet. Walaupun lingkarannya tidak begitu besar, efek berantai penyebaran iklan pun cukup baik. Banyak yang diam-diam sering melihat iklan itu, walaupun tidak mau terus terang di depan umum. Banyak pula yang menyebarkannya kepada kalangan sendiri, tak ketinggalan banyak pula yang ketahuan dan akhirnya menemui resiko diburu-buru aparat atau orang biasa yang fanatik sama Tuhan.

Untuk beberapa waktu, iklan kampanye Tuhan menjadi ikon media lagi. Sampai suatu ketika tiba-tiba ada kekuatan ketiga yang memasang iklan
‘Tuhan dan Nietzsche sama-sama mati, saling membunuh.’ Dunia pun gempar.

Tuhanpun ber-Friendster (bag.2)

Tuesday, October 17th, 2006

Kemarahan Tuhan sungguh tiada terkira kepada Yesus. Salah satu makhluk kesayangannya itu sudah mbalelo, memang satu dua hal disebabkan oleh Tuhan sendiri, tapi toh keberaniannya mengeluarkan pernyataan frontal itu diluar dugaan Tuhan dan membuatnya sangat marah.

Tuhan lalu mengalihkan perhatiannya supaya kemarahannya berkurang. Dia lalu mengirim message kepada Musa. Musa juga gampang ditemukan karena juga ada di friendlistnya Muhammad.

‘ Musa, wah lama nian tiada kabar, sedang apa dirimu..?, masih hidupkah..?. Apakah sepuluh perintahku sudah dilaksanakan dengan baik oleh umat..?. Ah ya, yang sepuluh itu kan dasar, aku ingin tahu sekalian dengan 613 keseluruhan perintahku itu, mana saja yang berhasil terlaksana mana yang tidak…?. Wah maaf, aku bertanya terlalu banyak ya. Anyway, aku bahagia bisa bertemu kamu lagi.

Tertanda,
Tuhan.’

Tuhan memperbaiki caranya berkomunikasi dengan berhati-hati berucap dan berbasa-basi meminta maaf dulu kepada Musa. Dia tak mau kejadian dengan Yesus terulang lagi.

‘ Eh Tuhan, tumben ingat sama kita-kita lagi. Aku baik-baik saja, tak kekurangan suatu apa. Biasalah pekerjaanku sekarang ini, bengong melihat pertarungan antar manusia yang semakin lama semakin gila saja. Makhlukmu yang bernama manusia itu sudah canggih benar teknologinya, tapi jiwa binatangnya masih melekat rapat. Bumimu ini dengan gampangnya bisa hancur lebur kalau pertarungan2 cengeng ini terus berlanjut.

Anyway, begini Tuhan. Terus terang aku bangga engkau utus aku untuk kaum Yahudi, karena saat ini merekalah yang menguasai baik secara langsung maupun tidak langsung politik bumi. Tapi kalau masalah perintahmu yang 613 itu, jangan tanyalah yang kaya gitu. Berbohong, mencuri, menduakanmu, dan banyak kejahatan lain yang engkau larang itu semua tentu mereka lakukan bahkan kini dengan metode yang lebih rapi dan indah. Tapi itu semua bukan kesalahanku, aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi tahu sendirilah Tuhan, manusia itu tidak diawasi sebentar saja, sudah berbuat yang tidak-tidak pasti. Ingat kejadianku dulu kan Tuhan, waktu mereka pada menyembah sapi padahal baru sebentar kutinggal. Sekarang yang disembah uang dan kekuasaan. Ok Tuhan, aku mau melanjutkan kebengonganku.

Kind Regards,
Musa.’

Hhmmm, Tuhan manggut-manggut. Laporan yang tidak begitu bagus tapi disampaikan dengan gaya yang sopan dan runut. Tuhan suka dengan Musa ini, akhirnya ada lagi yang kembali ke pangkuanku lagi, begitu pikir Tuhan. Tuhan teringat sama salah satu utusannya yang menurut gosip hilang begitu saja tanpa ada berita. Diingat-ingat namanya, Tuhan agak pelupa memang. Karena masih tidak ingat juga, akhirnya Tuhan browse saja di friendlistnya Musa. Ah akhirnya ketemu juga, Mani namanya. Seorang nabi di abad 4 Masehi yang gagal meneruskan ajarannya mendunia.

‘ My dearest Mani, what’s up fella…?, how’s life there..?. Sungguh kebahagiaan tersendiri bisa mendapatkan accountmu lagi di Friendster ini. Bagaimana perkembangan ajaran yang kau bawa..?. Aku berharap engkau sehat wal afiat dan sejahtera disana.

w/ sincere care,
Tuhan.’

Walaupun Tuhan tahu Mani gagal dengan ajarannya, tapi Tuhan sengaja tidak langsung menabrak dengan fakta, takut kejadian sama Yesus terulang lagi juga.

‘ Hai Tuhan, tak kira kau sudah mati, lama sekali gak terdengar kabarmu lagi. Ajaranku terlunta-lunta Tuhan, bahkan boleh dibilang punah saat ini. Yah bagaimana lagi, tidak ada kekuatan politik kuat yang menjadi backing ajaranku, sebagai akibatnya Tuhan tahu sendiri, yang mendengar nama Mani pun sudah jarang sekali saat ini, apalagi mengikuti ajarannya. Eh tapi ada kabar gembira sih sedikit, Muhammad meniru ajaranku hampir semuanya, mulai dari model ketuhanan, model kenabian, sampai cara penyampaian. Dia kembangkan juga sih, dia lebih kreatif lah sehingga akhirnya bisa seperti sekarang ini Islam yang dia bawa. Jadi aku tidak gagal total lah Tuhan, metodeku setidaknya dipakai oleh salah satu agama tersukses di dunia ini.

Anyway, kutagih janjimu sekarang akan surga yang indah itu, mana koq sampai sekarang belum kau tepati janjimu. Emangnya enak terus-terusan di bumi yang penuh makhluk suka perang ini, aku sudah bosan bener deh. Segeralah kau kiamatkan alammu ini, jadi aku bisa cepat-cepat masuk surga.

Hambamu dalam penantian,
Mani.’

Pintar juga Mani ini pikir Tuhan. Walaupun gagal dicoba mencari penghiburan atas kegagalan itu, ya memang sih Muhammad meniru pola ajaran Mani, tapi gitu saja koq dibangga-banggakan. Tuhan hanya tersenyum-senyum saja.

‘ Wah Mani, jangan cepat-cepat minta kiamat lah, aku masih senang melihat makhluk-makhluk tolol itu ribut satu sama lain, toh tanpa aku kiamatkan, mereka sudah bisa membuat kiamat sendiri dengan pemanasan global, perlombaan senjata nuklir, perlombaan senjata kimia, kemiskinan akut, wah banyak cara menuju kiamat lah. Keep in touch saja, ntar kalau akan kiamat, tak kasih kabar ya.

Love you,
Tuhan.’

Tuhan sudah capek, sudah beberapa hari ini kerjaannya cuma ber-Friendster saja. Dia mau plesiran sebenarnya, tapi sebelum itu ada baiknya ngirim message satu lagi, toh jalan di surga masih agak becek karena hujan tadi, sambil nunggu agak terang. Dia lalu nulis message buat Sidharta Gautama.

‘ Hi Sidharta, aku tahu kau sudah bosan denganku, tapi kuhubungi kau juga sekarang ini. Siapa tahu kau mau lagi berkomunikasi denganku..?.

Yang rindu padamu,
Tuhan.‘

Sidharta kasihan dengan Tuhan akhirnya, dia tahu kalau Tuhan memang kesepian. Di saat jutaan bahkan milyaran manusia menyembahnya, tetapi sebenarnya mereka malah mempreteli sedikit demi sedikit ketuhanan Tuhan.

‘ Hi Tuhan, bukan maksudku untuk mengekskomunikasimu, tetapi aku takut bahwa kehadiranmu salah dimengerti dan lebih banyak jeleknya daripada baiknya. Ketakutanku ternyata terbukti, dan aku meminta maaf atas sikapku yang acuh tak acuh sama kamu. Semoga engkau mau memaafkanku.

Cheerz,
Sidharta Gautama.’

Tuhan berbangga diri, ternyata motif Sidharta mengacuhkannya adalah bukan karena Sidharta tidak percaya Tuhan, tapi karena kehadiran Tuhan lebih banyak berefek negatif. Ah, Tuhan mulai narsis lagi.

‘Oh jadi selama ini kau sebenarnya mengakui keberadaanku, tetapi sebaiknya kau berterus terang pada umat manusia. Akuilah memang kalau Tuhan itu ada, dan itu perintah dariku. Aku tidak ingin semakin banyak manusia meninggalkanku atau terkesan melupakan diriku.

Tertanda,
Tuhan.’

Sidharta mulai bete lagi sama Tuhan, mulai minta macam-macam.

‘ Dengan segala hormat, kau sudah mulai bertingkah lagi Tuhan. Sudah kubilang kehadiranmu lebih membawa kejelekan daripada kebaikan, oleh karena itu aku tidak sudi menaati perintahmu, sekali lagi itu demi kebaikanmu sendiri. Sudahlah, belum ada manusia yang mampu mengerti keberadaanmu secara menyeluruh dan rasional. Daripada namamu disalahgunakan dan di selewengkan, lebih baik kamus Tuhan ditiadakan dari kosakata manusia.’

Yang memperhatikanmu,
Sidharta Gautama.’

Dihilangkan dari kosakata manusia, wah Sidharta ini sudah ngawur pikir Tuhan.

‘Ternyata sikapmu belum berubah oh Sidharta tolol. Baiklah, kuterima penghinaanmu ini. Aku akan buktikan bahwa aku bisa menciptakan makhluk yang lebih tahu berterima kasih daripada kalian-kalian semua di bumi yang semaunya sendiri.

Tertanda,
Tuhan.’

Sidharta tak kurang akal, kali ini dibalas message dengan lugas dan ofensif.

‘Dear Tuhan,
Silahkan saja, toh selama ini memang kami tak membutuhkanmu. Ada tiadanya kamu tidak berpengaruh, sudahlah terimalah takdirmu Tuhan. Kami akan berusaha sendiri semampu kami untuk kebaikan kami sendiri dan makhluk-makhluk yang lain.

Salam Metal,
Sidharta Gautama.’

Lagi-lagi Tuhan merasa di fait acompli , kali ini marahnya sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi. Tuhan ngambek berat, instalasi internet di surga pun diperintahkan untuk dicabut lagi, lebih cepat lebih baik. Tuhan pun plesiran keliling surga untuk mengurangi kekecewaannya.

Tuhanpun ber-Friendster (bag.1)

Thursday, October 12th, 2006

Kesepian Tuhan di surga sendirian, Tuhan akhirnya pasang internet di surga. Sudah lama dia ketinggalan informasi mengenai perkembangan politik semesta. Sebenarnya ini bisa dibilang kesalahan Jibril yang sering telat memberikan informasi aktual kepada Tuhan.

Tuhan daftar di Friendster, rasa-rasanya ini cara bagus untuk bisa keep in touch dengan banyak makhluknya yang selama ini sudah tidak punya hubungan lagi sama Tuhan. Dengan berfriendster ria, Tuhan mengharapkan mampu menjangkau lagi anak-anak muda yang selama ini sudah tidak percaya lagi ritual-ritual kuno apalagi dogma-dogma usang.

Setiap harinya berjam-jam Tuhan duduk di depan komputer browsing Friendster. Melihat tingkah aneh dan lucu makhluk-makhluknya, dengan begitu banyak foto dan video yang dishare. Dan yang juga bikin Tuhan tertegun, ternyata banyak pula makhluk yang ketularan penyakitnya Tuhan, penyakit narsis. Tuhan Maha Narsis, itu sudah keniscayaan, tapi makhluk-makhluk ini sudah ikut-ikutan pula menjadi narsis.

Bosan melihat begitu banyaknya makhluk narsis di Friendster, Tuhan mulai mencari jejak para utusannya di dunia. Yah sekian lamanya dia terpisah dengan makhluk-makhluk yang disayanginya sepenuh hati. Tuhanpun segera teringat salah satu utusannya yang terakhir, Muhammad. Setelah mencari-cari sampai suntuk, karena ternyata banyak sekali makhluk yang bernama Muhammad, kayak tidak ada nama lain saja, akhirnya Tuhan menemukan account Friendster Muhammad. Bahagia sekali hati Tuhan, lega rasanya bisa berkomunikasi dengan kekasih-kekasihnya di dunia. Tuhan mengirim pesan elektronik kepada Muhammad.

‘Muhammad, it’s me, Tuhan. Remember..?. Long time no see, I miss you so much. Anyway, bagaimana tugasmu di bumi, sudah bisakah kamu dan umat Islam menciptakan rahmatallil alamin…?

w/ love
Tuhan’

Muhammad kaget sekali mendapat message yang tiba-tiba itu, apalagi datangnya dari Tuhan. Berdetak jantungnya dengan keras, oh akhirnya bisa bertemu Tuhan lagi. Tapi di saat yang sama Muhammad juga bingung, harus laporan apa kalau pertanyaan Tuhan tentang rahmatallil alamin. Apakah harus ATS (Asal Tuhan Senang) ataukah jujur apa adanya..?. Setelah lama berpikir akhirnya Muhammad memilih untuk jujur. Dijawablah message Tuhan itu dengan agak ketakutan.

‘ Maaf Tuhan, jangan berharap rahmatallil alamin Tuhan, rahmatallilmuslimin saja belum bisa. Umatku sekarang ini bodoh-bodoh, picik berpikir. Tapi ada masa baiknya sih Tuhan, waktu peradaban Islam masih tripolar Baghdad, Cordoba, Kairo. Dengan memanfaatkan dan mengembangkan ilmu yang sudah ada seperti ilmu dari Yunani, Cina, dan India, umat Islam cukup maju dalam peradaban. Kedokteran, Arsitektur, Pertanian, Astronomi, dan Filsafat cukup maju, yah walaupun kebanyakan nyontek, tapi nyonteknya kreatif lah, nyontek tapi dikembangkan lebih lanjut. Tapi sekarang ini Tuhan, umat Islam udah bego, suka banget ama yang namanya kekerasan, tidak mau belajar, maunya dalil naqli terus, dalil aqli ditinggalkan. Sudah gitu, Islam dipake dimana-mana sebagai legitimasi tindakan represif terhadap umat Islam sendiri yang berbeda pandangan apalagi terhadap yang lain agama dan ideologi. Sekali lagi maaf Tuhan, aku telah gagal membawa perdamaian abadi di bumi. Tapi aku senang sekali bisa berkomunikasi lagi denganmu, kebahagiaan yang tiada tara bagiku.

Hambamu yang sedih sekaligus gembira,
Muhammad. ‘

Tuhan ikut merasakan kesedihan Muhammad, segera dia membalas message Muhammad dengan kata-kata menghibur.

‘ Muhammad yang baik, kau sudah berbuat yang terbaik yang bisa kau lakukan. Menjadi pedagang, pembawa agama, presiden, suami sebuah keluarga, filosof, bagiku itu sudah cukup. Jika setelah kematianmu umatmu tidak mengerti pesan yang kau bawa, itu bukan lagi kesalahanmu. Take care yach dimanapun kau berada.

w/ sincere care,

Tuhan.’

Wah, Muhammad yang jenius saja tidak mampu membawa perubahan berarti di dunia, Tuhan sih sedikit kecewa sebenarnya. Tuhan teringat dengan utusan satunya lagi, yang dari desas-desus yang beredar telah bisa mengajak sepertiga penduduk dunia dengan agama kasihnya. Tuhan pun mencari acoount Friendster Yesus Kristus, gampang ditemukan memang, karena ada di friendlistnya Muhammad.

‘ Yesus, lama tidak jumpa hehhee, apa kabarmu, kudengar kau disalib, makanya berjuang itu dengan strategi, jangan asal hantam kromo, jadi utusanku ya mbok jangan bego-bego amat.

Kind Regards,
Tuhan.’

Yesus baru-baru saja memang punya account di Friendster itupun setelah dikasih tahu dan diajari sama Musa, memang dasar Yesus dari dulunya gaptek. Membaca pesan Tuhan yang ofensif kayak gitu, Yesus hanya tersenyum-senyum saja. Memang dia sabar sih, apalagi Cuma diprovokasi dengan ucapan-ucapan penghinaan semacam itu. Tapi Yesus juga ingin berjukstaposisi sama Tuhan sekali-kali. Dia gemas sekali waktu ditinggalkan Tuhan sesaat sebelum kematiannya di Bukti Golgota.

‘Tuhanku yang mulia, akhirnya kita bisa berjumpa lagi setelah berabad-abad terpisah. Dimana dirimu waktu tak panggil-panggil dulu sebelum aku disalib, Elli Lamma Sabakhtani, Elli Lamma Sabakhtani, ……, wah kau ini mengutusku tapi membantu sedikit aja gak mau. Emangnya kau kira tidak sakit apa tanganmu dipaku, dijejali kepalamu dengan mahkota dari duri, diarak keliling kota seperti orang gila pesakitan, sesudah gitu digantung di bukit yang dingin dan gersang. Penderitaanku cukup sudah Tuhan, dan aku tidak mau kau mengejekku, sakit benar untuk ditelan.

Tertanda,
Yesus.’

Tuhan yang memang menjadi pengangguran terselubung sejak big bang langsung membalas surat Yesus yang mengharu biru itu.

‘Oh Yesus, maaf lah kalau menyakiti hatimu, tapi suer maksudnya bukan itu. Aku kan sambil bercanda, ya ok lah kamu memang agak bego dibandingkan yang lain, tapi toh ajaranmu malah dapat jauh lebih banyak pengikut. Coba ceritakanlah hal ihwal kesuksesanmu itu, aku pengen tahu lebih detail. Sekali lagi maaf ya, lahir batin deh minta maaf.

Tertanda,
Tuhan yang menyayangimu. ‘

Yesus menjadi semakin dongkol karena lagi-lagi Tuhan bilang dia bego, membalas dengan cepat. Habis kesabarannya kali ini.

‘ Eh Kunyuk. Jangan sekali-kali bilang gue bego lagi ya, tak masukin jadi blocked user ntar lo. Gue sudah berusaha melawan Romawi, tetapi simply karena gue saat itu sudah ditangkap duluan, akhirnya gue gak bisa menyusun strategi yang lebih matang. Daripada sudah terlanjur ditangkap, ya sudah gue mencoba memanipulasi keadaan seolah gue yang menginginkan penangkapan itu atas dasar cinta kasih. Tuh liat, gue punya strategi matang juga kan walau di kondisi terjepit. Lagian siapa pula bisa melawan Romawi yang sangat besar itu, kalau Muhammad kan lawannya banyak, tapi kroco-kroco suku yang terpecah dan berkekuatan kecil-kecil. Ada hal penting lagi yang musti lo perhatikan Tuhan, lo musti tahu kalau dianutnya ajaran gue oleh sepertiga penduduk bumi itu bukan yang murni ajaranku, yang sekarang itu sudah tercampur aduk oleh kultus individu dan tradisi Hellenisme. Sorry ye Tuhan, mereka kebanyakan nyembah gue, bukannya nyembah lo seperti yang seharusnya. Terserah lo mau menganggap kesuksesan atau tidak, tapi satu hal yang pasti, gue kagak bego, oh satu lagi juga yang pasti, gue lebih terkenal daripada lo Tuhan.

Tertanda,

Yang sudah tidak mengakui Tuhan sebagai Tuhan.’

Tamparan keras untuk Tuhan datang dari Yesus, Tuhan marah bukan main, berani-beraninya Yesus melawan dia sebegitu rupa. Tapi Tuhan akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa, di dunia maya kan tidak bisa bertindak brutal seenaknya. Tapi Tuhan berjanji untuk belajar jadi hacker, biar bisa mengobrak-abrik accountnya Yesus.

Pak Kiai, surganya dimana..?

Tuesday, October 10th, 2006

Pak Kiai
Tolonglah aku di sini
Koq bukan surga yg kutemukan setelah aku mati
Lorong2 gelap ini menyelimutiku sepanjang hari

Pak Kiai
Bom itu sudah kuledakkan sore hari
Kafir2 itu sudah pada mati
Peringatan bagi kafir lain yang tirani
Tapi surganya di mana Pak Kiai

Aku hanya melayang2 kesana kemari
Makhluk2 mengerikan seperti grandong berkeliaran di sana sini
Inikah surga yang kau janjikan itu Pak Kiai
Istriku jatuh bangun mempertahankan famili
Anakku sedang lucu2nya bicara mami papi
Sedangkan aku terjebak di alam yg tak kumengerti

Pak Kiai
Adakah jalan untuk kembali
Aku ingin mengakhiri kebohongan ini

Pak Kiai yang kuagungkan
Aku tidak bertemu Tuhan
Yang ada malah bertemu setan2 menyeramkan
Kukira aku mati membela Tuhan
Ternyata aku mati membela kebodohan
Membela keterbelakangan Islam dalam konstelasi kekuasaan
Melawan imperialis bukanlah dengan kekerasan
Tetapi dengan filsafat pemikiran dan sosialisme peradaban

Pak Kiai
Nasi sudah menjadi bubur
Tubuhku sudah masuk liang kubur
Tolong jangan biarkan dunia ini hancur
Oleh kepicikan berpikir ulama jumhur

Sampaikan peluk cium untuk anak istriku,

Muridmu

I Need You

Monday, October 9th, 2006

Intro : Am Em F C G

Am Em
Since those days, when the sun walked away
F C
I got you in my arm, and never let you fade away

C Am Em G
Truly I need you to get these things through
C Am Em G
Without you I’m just such a fool I can’t do

Reff:
Am Dm C G
Babe, you make me feel complete like no one else can compete
Am Dm C G
Don’t say that you will make another journey without me in your side

C Dm Am G
Hold me baby

Am Em
You set to light the ground, when the sky’s roaring around
F C
You act like a snow white, turning pale into very bright

C Am Em G
Truly I owe you bunch of softest care
C Am Em G
Without you my world would be full of nightmare

Reff :
Am Dm C G
Babe, you make me feel complete like no one else can compete
Am Dm C G
Don’t say that you will make another journey without me in your side

C Dm Am G
Hold me baby

‘Kartini’ modern, kekasihku

Friday, October 6th, 2006

‘Kartini’ modern, kekasihku
Aku tidak mau engkau menjadi Kartini masa lalu
Membuang hasrat belajar ke negeri jauh melewati laut biru
Melabuhkan jangkar di tepi pantai negeri sendiri yang kelabu

Aku tidak ingin engkau terjebak seperti Kartini masa lalu kasihku
Menyerah pada institusi pernikahan yang masih gagu
Hanya menjadi warga kelas dua yang tunduk kaku

Jika tujuanmu pendidikan pembebasan
Jangan pernah berhenti belajar membebaskan
Kaummu membutuhkan bidadari pembebas yang elegan

Jika tujuanmu persamaan hak laki-laki dan perempuan
Jangan pernah tunduk pada kooptasi laki-laki dominan
Tetapi jangan pula menjadi seorang perempuan arogan

Jika cita-citamu seperti Kartini masa lalu
Jangan pernah menyerah sampai maut menjemputmu
Bahkan jika orangtuamu dengan manis memaksamu
Bahkan jika aku dengan rayuan menghentikanmu

Aku mohon kau menjadi Kartini yang tidak menyerah
Aku ingin kau menjadi Kartini yang terbang indah
Aku harap kau menjadi Kartini yang penuh ghirrah

‘Kartini’ modern, kekasihku
Biarlah Kartini masa lalu terkubur batu
Terbunuh oleh bapak dan suaminya yang rancu
Tidak mengulangi kesalahan Kartini adalah tugasmu
Aku hanya bisa mendukungmu sepenuh hatiku
Tapi lawanlah aku jika suatu saat ingkar janjiku

Deklarasi Universal Hak Asasi Monyet

Friday, October 6th, 2006

Seekor monyet sedang berjalan2 di tengah hutan belantara, asyik melompat-lompat tanpa memperhatikan sekeliling. Hatinya bahagia tiada tara, baru saja dia dapat pacar. Seekor monyet betina dari kelompoknya telah mengatakan iya pada ajakannya untuk berasyik mahsyuk ria. Kini dia tidak lagi sendirian dan juga dapat segera mempunyai keturunan.

Di belakang semak-semak, seekor kambing sedang memperhatikan monyet yang melompat-lompat kesana kemari itu. Sebenarnya dari tadi kambing itu mau tertawa, geli melihat tingkah monyet yang gak karuan, tapi keinginan itu dipendamnya agar monyet bisa leluasa menumpahkan emosi kegembiraannya. Si kambing sebenarnya pengen tahu kemana perginya si monyet muda tadi, karena dia mendengar bahwa di tempat tersembunyi di tengah hutan belantara, bangsa monyet akan mengadakan rapat besar.

Monyet muda itu tidak tahu sama sekali kalau dia dibuntuti, maka diapun tetap melompat-lompat kegirangan selama perjalanannya menuju tempat rapat. Setelah melewati pohon-pohon kanopi besar, baru terdengar suara gemuruh, ternyata telah ada ratusan monyet berkumpul di situ. Si kambing sampai terperangah tak percaya, ternyata ada gerakan underground juga di hutan belantara ini. Selama ini memang bangsa kambing tidak pernah rapat-rapat seperti ini, paling-paling hanya acara makan bersama. Dia pun mendengar informasi rapat besar monyet ini dari seekor monyet yang secara tidak sengaja dia dengarkan membicarakan tentang rapat besar bangsa monyet.

Berbagai jenis monyet ada di situ, mulai dari gorilla, bonobo, makak, simpanse, orang utan, semuanya terwakili paling tidak satu dari jenisnya masing-masing. Setelah perwakilan monyet itu berkumpul semua, rapatpun dimulai.

‘ Kawan-kawan semua bangsa monyetku yang tercinta, kita berkumpul di sini untuk membicarakan nasib bangsa kita, bangsa besar monyet yang bersuku-suku, tetapi selama ini menjadi jajahan bangsa monyet yang mengaku bukan monyet, tapi manusia.’

‘ Kawan2 semua, aku rasa tidak adil kalau kita hanya menuntut hak-hak bagi kita bangsa monyet saja, semua bangsa binatang berhak mempunyai hak yang sama dengan kita juga. Artinya kita semua binatang, baik yang mengaku manusia, mengaku monyet, mengaku kambing, mengaku kerbau, atau apapun, kita adalah makhluk hidup yang mempunyai hak untuk bahagia sesuai dengan keinginan masing-masing.’

‘Aku menemukan tulisan bagus di koran manusia kemarin, bunyi tulisannya begini “Jangan pernah bertanya bisakah kami bicara, atau bisakah kami berpikir, tapi tanyalah kepada kami, bisakah kami menderita…?, dan jawabnya iya, kami bisa menderita”, aku rasa tulisan ini patut menjadi slogan kita untuk melawan arogansi manusia kawan-kawan.’

‘ Ya aku setuju, melawan manusia harus menggunakan titik lemah mereka. Kelemahan terbesar mereka saat ini adalah anggapan mereka sendiri bahwa mereka adalah bangsa binatang yang beradab dan bermoral, kita gunakan itu untuk mempertanyakan perilaku mereka yang mendominasi secara semena-mena bangsa binatang yang lain. Semua binatang memerlukan revolusi besar-besaran untuk mengubah sikap monyet manusia yang arogan, mengubah budaya makan mereka, mengubah metode peternakan mereka, menghilangkan semua bentuk kebun binatang, sirkus binatang, dan perburuan binatang. Kerja masih banyak saudara-saudaraku, dan kita harus estafetkan itu kepada anak cucu kita, karena toch yang akan menikmati hasilnya kelak mereka juga.’

Seekor monyet yang tampak sudah cukup tua langsung berdiri.

‘ Saudara-saudaraku sekalian bangsa monyet, apa yang disampaikan salah satu saudara kita tadi memang bagus, tapi tidak realistis. Berdasarkan hasil evolusi kita masing-masing, makan memakan pada saat ini masih merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Tentu cita-cita idealis perlu, asal pragmatis sesuai keadaan sekarang. Aku kira yang perlu mendapatkan hak sama dengan manusia saat ini adalah binatang-binatang yang secara genetik dekat dengan manusia saja, tentunya kita bangsa monyet yg paling dekat.’

Dari arah belakang, seekor monyet betina mengacungkan tangan.

‘ Sepertinya anda terlalu rasis, jika anda menginginkan masyarakat yang egaliter, maka itu harus berlaku untuk semuanya. Memang binatang manusia saat ini superior dalam banyak hal daripada binatang yang lain, tetapi kesuperioran tidak berarti hak mereka lebih banyak daripada kita. Itu sama saja anda bilang bahwa manusia yang berkulit putih lebih mempunyai hak daripada manusia berkulit hitam, kesalahan manusia dalam hal rasialisme tidak perlu kita ulangi lagi.’

‘ Ya, saya setuju dengan ucapan saudari tadi. Semua binatang bisa merasakan sakit, merasakan derita, merasakan sedih, tentu mungkin dalam kapasitas yang agak berbeda dengan manusia, tapi itu adalah landasan bahwa kekerasan dalam bentuk apapun terhadap binatang harus diakhiri sekarang juga.’

Forum rapat menjadi gemuruh, monyet-monyet pada berteriak-teriak tanda setuju atas ucapan tadi. Pimpinan rapat meminta mereka untuk tenang.

‘Tenang, tenang, saudara-saudaraku sekalian. Tidak salah memang bahwa hak semua binatang itu sama, dan kewajibannya pun sama yaitu menjamin bahwa semua binatang lain menerima haknya. Ada satu hal yang patut kita renungkan, perubahan yang dicapai tidaklah mungkin radikal dan menyeluruh dalam waktu singkat. Harus ada pendekatan tahap demi tahap, yang memang akhirnya menuju kea rah egalitarianisme semua binatang. Saudara-saudara, di dunia monyet manusia pun sudah ada usaha-usaha sejenis kita ini untuk memberikan hak yang sama untuk semua binatang. Di agama-agama tertua seperti Hindu dan Budha usaha ini sangat kentara, walaupun sayangnya justru di agama-agama baru yang katanya dari langit seperti Yahudi, Kristen, dan Islam malah melanggengkan kooptasi monyet manusia atas spesies yang lain. Usaha-usaha seperti ini yang juga harus kita manfaatkan, tetapi sekali lagi sementara ini hanya untuk kepentingan kita bangsa monyet. Kita tidak bisa mengklaim bahwa kita mewakili semua bangsa binatang.’

Tiba-tiba monyet muda nyeletuk.

‘Ya seperti singa pasti tidak mau makan rumput kayak kambing.’

Gerrrrrrrrr, forum menjadi gemuruh lagi mendengar celetukan itu.

‘ Ok lah, kalau tidak semua hewan harus disamakan haknya dengan manusia, paling tidak ya kitalah para monyet yang spesies terdekat yang disamakan haknya. ‘

Tiba-tiba dari atas pohon seekor gorilla urun rembug juga.

‘Sudahlah, kita ini memang kalah sama manusia, diterima saja nasib itu. Toh semua dari kita ini diciptakan untuk kepentingan manusia. Kita harus bahagia kalau manusia bisa memanfaatkan kita. ‘

Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, terdengar koor cemoohan forum atas komentar gorilla tadi.

‘ Aku tidak tahu darimana saudara gorilla mendapatkan pendidikan semacam itu. Mungkin karena anda sudah terlalu lama hidup dengan monyet manusia, sehingga secara tidak sadar tercuci otaknya oleh pandangan manusia yang egosentris itu. Tapi satu hal yang pasti saudara gorilla, sebuah pandangan harus selalu dipertanyakan, sesering mungkin, tanpa ketakutan apapun. Pandangan yang tidak bisa dipertahankan dengan rasio dan pembuktian adalah dogma mati, bukan kebenaran yang hidup. Dan anda yang punya hubungan dengan monyet manusia, seharusnya mempertanyakan dogma-dogma manusia yang sudah usang itu.’

Lagi-lagi semua monyet teriak-teriak bahkan ada yang berguling-guling tanda setuju atas sanggahan pendapat si gorilla tadi. Pemimpin rapat meminta mereka untuk tenang lagi.

‘Kawan-kawan semua bangsa monyet, untuk mencapai konsensus semua binatang aku rasa akan sangat susah, tetapi paling tidak di sini hampir semua jenis monyet sudah terwakili, dan kita harus membuat deklarasi bersama. Deklarasi ini penting untuk mengencangan tekad kita bersama untuk kesejahteraan semua binatang dalam jangka panjang, tapi kesejahteraan bangsa monyet sebagai tujuan jangka pendek dan menengah.’

Semua monyet berdiri tanda setuju atas apa yang diucapkan oleh pimpinan rapat yang seekor simpanse itu. Setelah beberapa lama diskusi intens atas materi deklarasi, akhirnya kesepakatan bulat dicapai dan ditandatangani oleh semua perwakilan bangsa monyet, baik simpanse, bonobo, makak, orang hutan, dan semua yang lain.
Akhirnya para monyet itu mendeklarasikan apa yang mereka sebut ‘Deklarasi Universal Hak Asasi Monyet’, rapat gemuruh oleh teriakan gembira ketika deklarasi dibacakan.

Tentu perjuangan mereka masih panjang, tapi langkah pertama telah dimulai, sementara si kambing mengangguk-angguk mendapatkan inspirasi, dia akan pula mengajak bangsa kambing untuk deklarasi hal yang sama.

Amsterdam, 4 October 2006 , dedicated to all animals on the planet