Archive for January, 2007

Dog Bless America

Wednesday, January 31st, 2007

Jam 4 malam, kota Washington masih diselimuti kabut tipis. Sebagian besar penghuninya masih terlelap tidur. George Washington (GW) pun masih ngorok di tempat tidurnya. Sementara Thomas Paine (TP) tidur di kamar sebelahnya, sedangkan Thomas Jefferson (TJ) tidur di ruang tamu. GW dan TP tinggal serumah, malam ini TJ nginep di tempat mereka.

‘Oooh, Aaah, No…No….Oh No…Gak Mungkin…Jangan…Jangan..’

Tiba-tiba GW berteriak-teriak seperti orang kesurupan dalam tidurnya. TP yang tidur di kamar sebelah langsung terbangun, sambil bersungut-sungut sebel karena masih ngantuk, TP datang menghampiri GW, dan segera membangunkannya. Kepalanya digoyang-goyang oleh TP, tapi karena tidak juga bangun tersadar, diambilnya bantal dan dipukul-pukulkannya ke kepala GW.

TP : ‘George, bangun bangun bangun. Udah ngorok, ngelindur pula. Dasar..!!!’

GW menggeliat-geliat mulai bangun. Setelah agak lama duduk di tempat tidurnya, GW mulai sadar kalau dia baru saja mimpi buruk. Dan TP masih duduk dengan muka bete tak jauh darinya.

GW : ‘ Sorry..sorry Thomas. Gue bangunin lo lagi, kagak tau nih. Beberapa hari terakhir ini gue ngimpi yang jelek-jelek mulu. Gue ngimpi negara kita ini jadi seperti negara barbar. Semua orang saling berbunuhan karena berbeda pendapat atas hal-hal yang sepele. Kerusakan dimana-mana. Malah gue dikejar-kejar mau dibunuh karena gue gak mau ke gereja. Ini mimpi ketiga gue berturut-turut. Maaf ya Thomas, mbangunin kamu lagi.’

TP : ‘ Tai lo, makanya kalau mo tidur jangan mikir macem-macem. Tambah deh penyakit lo, dulunya cuman ngorok, sekarang tiap malem ngelindur. ‘

GW : ‘ Tapi ini bukan mimpi biasa, masak mimpi yang sama terjadi tiga hari berturut-turut.’

TP : ‘ Ya sudah, besok siang kita bicarakan. Gue mo tidur lagi ah, gue kan libur kerja besok. Bisa mbangkong hehehe…’

TP segera pergi ke kamarnya lagi, sementara GW masih tercenung mencoba mereka-reka arti mimpinya. GW sudah susah memejamkan matanya lagi, maka sembari menunggu siang dia main PS. Berjam-jam main PS sampai bosen, GW akhirnya mengambil koran pagi dan dibacanya.

Sekitar jam 11, TJ bangun. Tak lama kemudian TP pun bangun. Mendengar kawan-kawannya sudah bangun, GW segera berjingkat menyambut mereka.

GW : ‘ Hey bro, sepertinya mimpi buruk gue kagak cuman mimpi biasa. Lihat ini Bush Jr. bilang di koran “Atheis tidak bisa digolongkan sebagai warga negara. Karena bangsa ini adalah bangsa dibawah Tuhan”. Gue sebagai atheis sepertinya memang akan disingkirkan dari negara yang susah payah gue dirikan.’

TP : ‘ George, itu bukan hanya dalam mimpi burukmu. Itu akan benar-benar terjadi di negeri yang susah payah kita dirikan ini. Fundamentalisme Kristen telah merasuk ke sendi-sendi bernegara, dan telah berselingkuh dengan kekuasaan. Jika ini terus berlanjut, akhir dari kejayaan bangsa Amerika sudah dekat. Dan itu mah kagak ada apa-apanya. Lo dah tahu belum kalau anak-anak akan diajari bahwa bumi itu datar bukannya bulat, anak-anak akan diajari bahwa yang membuat benda jatuh ke bumi adalah keinginan tuhan bukannya gravitasi. Anak-anak akan diajari bahwa evolusi adalah khayalan belaka, semua hal di bumi ini diciptakan dengan desain oleh Tuhan. Bumi berumur 6000 tahun bukannya milyaran tahun. ‘

GW langsung melongo, sementara TJ masih asyik mengoles rotinya dengan selai tapi mendengarkan percakapan kedua temannya dengan seksama.

TJ : ‘ Nah tuh kan, udah gue bilang dari dulu. Kristen adalah agama paling disalahgunakan sepanjang sejarah manusia. Dan sekarang terjadi lagi, setelah ratusan tahun menjadi sumber bencana. Gue mah kagak percaya Tuhan versi Kristen. Karena jikapun ada Tuhan, dia pastilah lebih setuju manusia yang berpikir daripada yang taat buta seperti umat Kristen yang ada di Amerika sekarang ini. ‘

TP : ‘ Makanya John Adam bilang kalau sebaik-baik dunia jika dunia ini tanpa agama. ‘

TJ : ‘Apalagi bicara tentang adanya jiwa, malaikat, tuhan. Semuanya imaterial. Membicarakan hal itu sama dengan bilang bahwa tidak ada itu jiwa, malaikat, atau tuhan. Aku tidak bisa berlogika sebaliknya, tanpa harus berfantasi dan bermimpi. Aku tidak bisa berlogika tanpa ada bukti.’

GW : ‘Hah, aku ada ide. Bangsa Besar di Ambang Kehancuran. Sepertinya aku akan menulis artikel dengan judul itu di New York Times.’

TP : ‘ Kita tapi masih bisa berharap kawan-kawan. Semoga penyelamat-penyelamat segera bertaburan di Amerika Serikat ini. Jika tidak, bangsa paling perkasa abad 20 dan 21 akan menjadi bangsa pecundang di abad-abad selanjutnya. Karena bangsa manapun yang meninggalkan dan menentang ilmu pengetahuan, akan menemui ajalnya sendiri.’

TJ : ‘Ya sepakat, bangsa Yunani menemui kematiannya setelah Universitas Athena yang terkenal oleh filosof-filosofnya yang termasyhur itu ditutup. Bangsa-bangsa Islam memulai jaman kegelapannya sendiri ketika mereka meninggalkan rasio dan ilmu pengetahuan di abad 12. Dan bangsa Amerika pun akan begitu, menggali kuburannya sendiri ketika mendewakan teks-teks agama dan meninggalkan ilmu pengetahuan. Gue setuju harus ada penyelamat, Tapi penyelamat-penyelamat itu bukanlah nabi ato bahkan Yesus sendiri yang akan datang ke bumi, takhayul yang dijadikan pegangan.’

GW : ‘ Lho kenapa memangnya kalau ada nabi baru, mungkin nabinya lebih baik daripada nabi-nabi sebelumnya..?’

TP : ‘ Ah, kayak dirimu tidak tahu saja George, nabi-nabi adalah penipu profesional. Mereka adalah penipu yang berhasil, kalau mereka gagal, nasib mereka akan sama seperti para dukun ato sejenisnya.’

GW : ‘Memang sih, tapi kalian tahu nggak, gue pikir Kristen ini dalam sejarah jauh lebih parah daripada Islam. Korban dari fundamentalisme Kristen jauh lebih banyak daripada fundamentalisme Islam. ’

TJ : ‘ Ah tidak juga George, dua agama terbesar ini adalah agama terkorup sepanjang sejarah, tau lo kenapa dua agama ini banyak pengikutnya…?. Karena dua agama ini mendasarkan ajarannya pada ancaman neraka bagi yang tidak mempercayainya, sehingga turun temurun akan semakin banyak manusia termakan ancaman itu. Belum lagi ditambah usaha mereka untuk menarik orang luar untuk masuk menjadi bagian dari agama Kristen dan Islam. Tidak ada agama lain yang sangat aktif merayu atau memaksa orang memeluknya selain Islam dan Kristen. ’

TP : ‘ Sebentar, sebentar. Ada hal yang tidak kumengerti dari koran yang kau baca itu George, bisakah orang dari kalangan elit yang berpendidikan tinggi seperti Bush Jr. terjebak dalam fundamentalisme seperti itu. Jangan-jangan dia seperti Bill Clinton, yang walaupun bukan benar-benar orang Kristen tapi demi politik setiap minggu pergi ke gereja.’

GW : ‘ Memang, jangan kau pernah percaya kalau Bush Jr. ini benar-benar Kristen, dia hanya memanfaatkan Kristen untuk kepentingan politik. Dan pada dasarnya kita semua sama, presiden Amerika dari pertama Amerika berdiri sampai sekarang, terpaksa harus beragama demi kepentingan politik. Dan aku rasa itu harus dirubah, kita harus kembali ke semangat awal bahwa negara ini adalah negara sekuler. Orang jujur dan pekerja keras, bisa datang dari Asia, Afrika, atau Eropa. Mereka bisa saja Muslim, Yahudi, Kristen, atau atheis. Dan aku yakin bahwa ilmu pengetahuan adalah sumber kebahagiaan yang utama dan harus mendapatkan perhatian utama dalam masyarakat, bukan agama atau ideologi tertentu.’

TP : ‘Seharusnya semua orang punya slogan ini dalam hidup mereka. Dunia adalah negaraku, kebaikan adalah agamaku. Tapi aku setuju George, bahwa teologi sejati adalah science.’

TP: ‘ Betul, negara ini adalah negara sekuler, sebagaimana yang kita cita-citakan bersama. Atheis, Homo, Deis, dan orang yang beragama selain Kristen pun harus bisa menjadi presiden. Masak kita kalah sama India, presidennya Muslim, perdana mentrinya Sikh, belum pendiri negaranya juga bukan Hindu. Perdana menterinya yang pertama, Si Nehru kan juga atheis. Pemimpin perjuangannya, si Gandhi juga agamanya gak jelas, semua agama dicampur aduk. Kita ini berkoar-koar sebagai kampiun demokrasi, tapi presiden wanita belum pernah ada, presiden kulit hitam juga belum pernah ada, apalagi presiden atheis ataupun agama selain Kristen. Amerika harus bisa seperti India, tidak perlu lagi pemimpin yang harus berpura-pura beragama Kristen demi suara konstituen.’

GW : ‘ Sepakat, bahkan lebih jauh dari itu. Agama apapun yang mengatasnamakan Tuhan akan selalu menjadi monumen abadi yang menakutkan, yang selalu menjadi bukti bahwa institusi sebaik apapun akan mudah disalahgunakan. Jadi lobi-lobi berdasarkan agama di pemerintahan juga harus dihapuskan.’

TJ : ‘Eh tahu gak, sepertinya semboyan ‘God Bless America’ itu absurd deh, tuhan yang mana coba…?.’

GW : ‘ Semboyan negara kita ini lebih cocok kalau ‘Dog Bless America’. Lambang negara perlu diganti anjing sepertinya hahaha….’

Dan mereka pun tertawa-tawa, sambil menenggak bir yang masih tersisa, sementara bumi Amerika sedang dilanda demam pemilihan umum 2008.

Sumber :
1. Notes on Virginia, karangan Thomas Jefferson
2. Age of Reason, karangan Thomas Paine
3. Kumpulan surat George Washington, oleh Paul Sadover

Museum Kemiskinan

Tuesday, January 30th, 2007

21 Januari 2115, pagi yang cerah…..

Murid-murid TK Anak Negeri bermain-main dengan riangnya. Ada yang berkejar-kejaran, ada yang main tali, ada yang main tembak-tembakan, ada yang petak umpet, semuanya sibuk dengan permainan mereka masing-masing.

Ibu guru tampak sedang memandangi anak-anak yang bermain itu dari jauh. Sedangkan orang tua yang sempat mengantarkan anaknya ke sekolah juga sudah mulai mengucapkan selamat tinggal kepada anaknya, untuk kemudian dijemput sore harinya.

Bunyi lonceng membahana di seluruh lingkungan sekolah. Anak-anak berhamburan masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba suasana halaman sekolah menjadi lengang. Satu persatu anak-anak masuk ke dalam kelas.

‘Anak-anak, hari ini ibu guru akan mengajak kalian ke pembukaan sebuah museum baru di kota kita.’

Anak-anak itu bersorak sorai gembira, karena hari ini mereka akan diajak berjalan-jalan. Mereka sudah tidak sabar lagi untuk segera berangkat. Tapi mereka harus mengumpulkan hasil pekerjaan rumah mereka dulu sebelum berangkat. Kelas menjadi gaduh, karena berita diajak keluar kelas dan jalan-jalan ternyata telah memenuhi pikiran anak-anak. Mereka hanya ribut sendiri membicarakan perjalanan mereka ke museum.

Tak lama kemudian sebuah bus besar berwarna putih kehijauan berhenti di depan sekolah. Anak-anak sudah semakin tak sabar dan menjadi semakin gaduh. Ibu guru pun mengarahkan mereka untuk segera membawa tas masing-masing dan segera naik bus. Mereka pun satu persatu menaiki bus.

Setelah setengah jam perjalanan naik bus sekolah yang besar itu, sampailah mereka di museum yang disebut-sebut ibu guru. Sebuah museum megah dengan arsitektur art nouveaou yang kental. Dikelilingi 5 minaret melengkung yang indah, ruang utama museum berada di tengah dan membentuk segilima dengan sisi-sisinya dibatasi oleh ujung bawah minaret. Ruangan utama museum itu dilapisi kaca mengkilat di sekujurnya, dan semakin mengkilat karena pagi itu matahari bersinar sangat cerah.

‘Anak-anak, kita akan melihat-lihat museum ini bersama-sama, jangan sampai ada yang terpisah dari rombongan.’

Banyak sekali koleksi museum ini, tetapi yang menarik bagi anak-anak tentunya adalah koleksi visualnya. Perhatian mereka langsung banyak tertuju ke beberapa foto-foto besar yang tergantung di dinding. Satu persatu foto-foto dipandangi dengan penuh rasa ingin tahu dan penasaran.

Foto pertama adalah foto seorang anak kecil yang sampai meminum kencing seekor sapi karena sangking hausnya, kekeringan rupanya melanda daerah itu. Anak-anak menjadi terdiam karena pemandangan yang disajikan foto itu rupanya langsung merefleksi ke diri mereka, mungkin membayangkan kalau diri mereka sampai di kondisi seperti itu. Ibu guru pun mengajak ke foto selanjutnya. Foto kedua adalah foto gabungan dari anak-anak meninggal karena penyakit AIDS, polio, demam berdarah, dan malaria. Setelah itu berlanjut ke foto anak-anak kecil bertelanjang dada yang kelelahan karena harus bekerja setiap hari, dan mereka juga tidak mengenyam bangku sekolah. Foto selanjutnya adalah foto beberapa ibu-ibu sedang memunguti plastik dari tempat pembuangan sampah, mukanya ditutupi oleh kain, sepertinya untuk menahan bau yang tentunya menyengat dari sampah yang menggunung itu.

Foto-foto besar di hall utama sudah selesai dilihat, mereka pun naik ke tingkat satu. Pemandangan pertama di tingkat satu adalah foto beberapa orang yang kurus kering kelihatan kedinginan sedang memeluk selimutnya di pinggir jalan, sepertinya mereka adalah para tunawisma. Kemudian ada seorang ibu sedang mencuci di tepi sungai yang berwarna coklat kehitaman, sedangkan latar belakangnya adalah pemukiman kumuh.

Tiba-tiba ibu guru kelihatan sedang mencari-cari sesuatu.

‘Dimana Alex..?’
Anak-anak langsung memandangi sekelilingnya, tapi Alex ternyata tidak ada. Namanya anak-anak, sudah diperintahkan tidak memisah pun tetap saja ada yang keasikan melihat-lihat sampai tertinggal di belakang.

‘Tunggu sebentar disini anak-anak.’

Ibu guru segera ke lantai hall utama lagi, dan di ujung tangga si Alex ternyata sudah di anak tangga mau menyusul teman-temannya.

‘Dimana kamu tadi Alex, kan sudah ibu bilang untuk tetap bersama-sama dan jangan misah dari rombongan.’

‘ Maaf Bu, aku tadi di sebelah sana, aku melihat foto orang bercadar yang tidak terlihat sama sekali bagian tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki…?, apa maksudnya itu bu…?’

Ibu guru tampak berpikir sejenak, sepertinya tersadar bahwa ada satu foto di pojokan yang terlupa tidak dilihat bersama-sama. Dia langsung ke atas lagi untuk mengajak anak-anak melihat foto yang terlewat itu.

‘Anak-anak, maaf ibu tadi lupa menerangkan foto yang ini. Alex tertarik melihat foto ini, dan ibu guru kira kalian juga. Ini gambar seorang ibu bersama anaknya yang berperut buncit, tapi jangan takut dengan ibunya, ibu ini memakai yang namanya hijab, penutup seluruh badan, bagian dari budaya gurun. Tapi sayangnya waktu itu dimasukkan sebagai bagian dari agama tertentu. Wanita waktu itu dipisahkan dari dunia luar dengan peraturan-peraturan yang tidak adil, yang hanya menguntungkan pria, termasuk diharuskannya mereka memakai hijab ini. Anak-anak, kemiskinan melanda siapa saja, laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, tetapi perlu diingat bahwa yang paling menderita di antara para miskin adalah wanita dan anak-anak, karena mereka tidak hanya miskin kebutuhan tetapi juga miskin hak.’

‘Ibu guru, aku mau tanya kenapa museum ini dibuka hari ini…?’

‘Oh pertanyaan yang bagus sekali. Hari ini adalah hari bersejarah anak-anak, cita-cita untuk mengurangi kemiskinan dunia sampai setengah dari semula tercapai. Kini seratus tahun setelah pencanangan pengurangan kemiskinan dunia sampai setengahnya, barulah hal itu tercapai. Lebih dari seratus tahun lalu anak-anak, Amartya Sen dan Muhammad Yunus telah meletakkan dasar mengentaskan orang-orang miskin ini untuk bangkit sendiri, hanya dengan sedikit bantuan. Tapi orang-orang masih buta, tidak mau membuka hati mereka akan kondisi sosial ekonomi sebagian besar masyarakat.

Bayangkan anak-anak, satu di antara empat orang yang ada di dunia saat ini masih sangat miskin. Jangankan bisa hidup tenang dan bisa belajar seperti kalian, untuk makan dua kali sehari saja mereka harus berjuang keras.

Baru saat ini, kesadaran bahwa jika engkau kaya tidak mungkin kalau kau kaya sendiri, bahwa bumi ini adalah satu. Semua dari makhluknya harus saling membantu sampai sama-sama mengecap kesejahteraan bersama. Jika pembagian kesejahteraan tidak merata, maka ketentraman akan terganggu, dan akhirnya tidak ada yang bisa benar-benar sejahtera lahir batin dalam damai.’

‘Mengapa orang-orang jaman itu tidak mengurangi kemiskinan sejak dulu ibu guru…?’

‘Itulah kegagalan mereka anak-anak. Kegagalan kakek nenek kita di awal abad adalah kegagalan yang sangat memalukan. Pemimpin dunia pada waktu itu anak-anak, tidak banyak yang punya kemauan politik yang tinggi untuk menyelamatkan dunia dari kemiskinan. ’

‘Berarti kita sekarang sudah berhasil ya Bu..?’

Ibu guru tersenyum, bangga karena anak-anak kecil ini banyak pertanyaan dan penuh rasa ingin tahu.

‘Kita baru berhasil mengurangi kemiskinan anak-anak. Perjalanan masih cukup jauh, yang lain perlu segera dientaskan dari kemiskinan akut. Dan jangan sampai putus asa, karena kekuatan harapan adalah kekuatan abadi. Dan salah satu harapan kami orang-orang tua ini adalah kalian semua. Kalianlah masa depan kami. Tapi hayo kita ke atas lagi, masih banyak yang perlu kita lihat.’

Anak-anak pun mengikuti ibu guru dan mendengarkan ibu guru dengan seksama. Tak terasa waktu sudah cukup sore, apalagi dikurangi oleh istirahat makan yang agak lama, bagi anak-anak kunjungan ke museum itu terasa singkat.

‘Ibu guru, bolehkah lebih lama disini..?, masih banyak yang belum kami lihat.’
Tiba-tiba ada yang nyeletuk.

‘Ya ibu guru, yang di sebelah sana belum dilihat, mumpung sudah disini Bu Guru.’

‘Ya Bu, lebih lama Bu, lebih lama disini.’

Suara anak-anak menjadi ribut, semua sepertinya sepakat untuk ingin lebih lama di museum itu.

‘Anak-anak, tentu kalian boleh lebih lama disini, tapi kalian juga harus ingat, kalau orang tua kalian menunggu kalian di sekolah. Kasihan mereka kalau mereka sudah datang menjemput kalian, kalian malah tidak ada. Tapi ibu berjanji untuk mengajak kalian kesini lagi. Tapi sekarang kita harus kembali ke sekolah, sebelum bapak ibu kalian resah karena anak-anaknya yang manis, lucu dan pinter tidak ada di sekolah.’

Akhirnya mereka manggut-manggut mendengar alasan ibu guru, anak-anak meninggalkan museum dengan berat hati, karena mereka ingin melihat lebih banyak lagi. Tapi karena sudah sore, mereka harus segera pulang. Sebelum mereka pulang, mereka didaulat untuk membuka monumen kecil di depan museum yang masih terselimuti kain putih. Mereka membukanya bersama-sama, dan monumen kecil bertuliskan :

‘Orang miskin adalah pejuang sejati, mereka tidak perlu dikasihani, mereka hanya butuh kesempatan untuk lepas dari kemiskinannya.’

Makan Malam Bersama Ghazali dan Aquinas

Saturday, January 27th, 2007

Ghazali sedang sholat dhuha pagi itu ketika pintunya diketuk beberapa kali, dikeraskannya bacaan Qurannya agar si pengetuk pintu tahu bahwa dia sedang sholat. Di luar, si pengetuk pintu tahu kalau yang punya rumah sedang sholat, maka dia duduk di balai-balai sambil menunggu. Tak lama kemudian, Ghazali selesai dengan sholatnya dan segera membuka pintu.

‘Oh saudaraku Aquinas, apa kabar…?, lama sekali tidak jumpa akhi..’

‘Baik saudaraku Ghazali, setelah operasi karena cedera bulan lalu itu, kondisiku semakin membaik. Aku datang untuk mengundangmu makan malam besok kalau engkau ada waktu luang.’

‘Oh tentu, tentu saudaraku Aquinas. Sepertinya aku tidak ada acara besok malam, jadi aku akan kesana setelah sholat Isya’. Bagaimana…?.’

‘Baik kalau begitu, aku akan belanja hari ini untuk besok. Sampai jumpa besok malam kalau begitu. Assalamu alaykum.’

‘Waalaykum salam.’

Aqunias segera pergi menuju ke arah pasar, sedangkan Ghazali bergegas ke belakang melanjutkan sholat dhuha lagi. Hari itu adalah hari Arafah, hari kesembilan bulan haji, Ghazali melakukan puasa sunnah. Besok adalah hari besarnya, kebetulan perayaan Hari Natal dan Idul Adha tahun ini bersamaan.

Pagi besoknya, Ghazali dengan pakaian lengkap segera pergi ke lapangan tempat diadakannya sholat Idul Adha, sudah puluhan orang berlalu lalang mempersiapkan tempat sembahyang. Segera setelah melihat kedatangan Ghazali, orang berebut menyalaminya dan mencium tangannya. Risi sebenarnya Ghazali melihat penghormatan berlebihan yang sering diterimanya.

Setelah melakukan sholat Idul Adha, Ghazali segera pulang dan beristirahat. Banyak undangan sebenarnya untuk mendatangi umat, tapi Ghazali memang ingin tidak terlalu banyak acara mengingat umurnya yang cukup uzur.

Malamnya, setelah sholat Isya’ Ghazali segera berjalan kaki menuju rumahnya Aquinas. Aquinas sengaja membuka pintu rumah sejak matahari terbenam, dan membiarkan hawa segar masuk ke rumahnya.

‘Oh selamat datang Ghazali saudaraku, sungguh bahagia aku, dirimu menyempatkan datang malam ini. Selamat merayakan hari raya Idul Adha.’

‘Dengan senang hati, Selamat Merayakan Hari Kelahiran Isa Almasih juga untukmu. Kalau tidak merepotkan, aku ingin kencing dulu, biasalah ini penyakit tua, beser hehehe….’

‘Oh tentu, silahkan masuk, WC berada di belakang dekat dapur, jadi lurus saja kesana.’

Ghazali dengan tergopoh-gopoh setengah lari menuju WC, sudah tak dapat ditahan lagi, terpaksa dia sudah kencing sedikit di celana.

Ruangan sudah didekorasi sedemikian rupa oleh Aquinas. Dimana-mana hiasan natal mewarnai, lampu warna-warni bertaburan di setiap pojok.

Setelah bercanda ngalor-ngidul, Aquinas membuka pembicaraan serius dengan sangat pelan.

‘Ghazali saudaraku, bagaimana pendapatmu tentang kondisi dunia saat ini..?’

‘Apa maksudmu Aquinas, aku tidak mengerti.’

‘Apakah dunia yang seperti ini, seperti sekarang ini yang penuh dengan perang dan mayoritas penduduknya masih miskin. Belum lagi bahwa sebagian besar penduduknya masih belum mengerti betul tentang dirinya dan lingkungan yang melingkupinya…’

‘Sebentar saudaraku Aquinas, aku rasa ada sesuatu yang akan kau sampaikan, jujurlah, engkau tidak perlu menyembunyikannya. Pertanyaanmu hanyalah pembukaan halus untuk menyampaikan sesuatu yang lain. Ingat, aku menguasai ilmu menjaga hati, jadi gampang buatku untuk mengetahui intensi seseorang.’

‘Hahahaha, ya ya kuakui memang aku akan menyampaikan sesuatu yang merisaukanku selama ini. Tapi karena kau sudah tahu maksudku, ya baiklah. Begini Ghazali saudaraku, ada kesalahan besar di kalangan ahli teologi saat ini dengan menganggapmu sebagai ‘Aquinas dunia Muslim’, sedangkan cara kita berpikir amatlah sangat berbeda. Jadi aku ingin meluruskan itu dan makanya aku mengundangmu makan malam.’

‘Ah, kau ini ada-ada saja. Aku tidak pernah memperhatikan hal-hal seperti itu. Dan lagian kenapa kau memperhatikan gosip yang berseliweran. Kau harus sadar saudaraku, sebagai selebritis religius yang terkenal, gosip itu sudah biasa.’

‘Aku rasa ini tidak sekedar gosip Ghazali, aku merasa nama baikku dicoreng moreng dengan julukan itu. Seolah pikiranku sama dengan pikiranmu. Aku menggunakan rasio dan ilmu pengetahuan untuk mendekati kebenaran agama, dan 180 derajat berbalik dengan dirimu yang menolaknya. Aku menggunakan banyak pemikiran Aristoteles, Plato, dan pemikir besar Yunani lainnya, sedangkan engkau menolaknya sama sekali. Pada intinya, aku ini progresif dan kau konservatif.’

Suara Aquinas mulai meninggi, sepertinya masalah ini dipendamnya cukup lama dan dibiarkan hingga mencapai ubun-ubun. Sedangkan Ghazali yang dituduh sedemikian rupa, juga cukup kaget.

‘Jangan sembarangan saudaraku Aquinas, aku punya nama besar di kalangan umat Islam. Dan seharusnya engkau harus berterima kasih karena namamu dicantolkan di namaku, siapa nama intelektual muslim yang lebih besar namanya daripada aku, katakan padaku…, kau jangan sombong di depanku.’

Sepertinya Ghazali merasa dilecehkan oleh Aquinas dan memasang suara meninggi juga, tapi sepertinya Aquinas menyadari kesalahan awalnya dan segera memperbaikinya dengan ucapan tenang.

‘Oh maafkan aku saudaraku Ghazali jika kata-kataku menyinggungmu. Tapi maksudku tadi begini, karena kita adalah teman dekat, aku musti terus terang, dunia muslim yang terbelakang dan mengalami dark age sekarang ini salah satu penyebab terbesarnya adalah dirimu, jadi aku tidak mau dikait-kaitkan dengan namamu, karena itu akan memperjelek namaku. Kau bahkan merusak jalan terjal menuju pencerahan yang telah dibuka oleh Ibnu Sina.’

‘Kenapa kau bilang seperti itu..?’

‘Pendapatmu bahwa semua kejadian di bumi ini adalah kehendak langsung Tuhan, sedangkan dalam kenyataannya semuanya adalah konjungsi material, kejadian alami biasa tanpa campur tangan Tuhan. Penolakanmu kepada filosofi dan rasio adalah preseden buruk sampai sekarang. Dan menurutku, sekali lagi ini menurutku, kau boleh tidak setuju saudaraku Ghazali. Seharusnya pahlawan Islam yang harus dielu-elukan adalah Ibnu Rushdi, yang berkeinginan untuk menyelamatkan Islam dari kehancuran kebodohan dan fundamentalisme buta. Dari Ibnu Rushdi pulalah aku banyak belajar sehingga aku menjadi nama besar di kalangan Kristiani. Bahkan tidak hanya aku, orang Yahudi punya Maimonides yang juga mengakui banyak terpengaruh oleh Ibnu Rushdi. Tapi begitulah saudaraku, aku harus jujur kepadamu. Bahwa dirimu adalah awal kehancuran umat Islam. ’

‘Hey, tapi kau jangan begitu saja menganggap umat Islam terbelakang, toh umat Kristen yang kau bangga-banggakan itu, terutama di Amerika Serikat menjadi umat yang ngawur menentang ilmu pengetahuan.’

‘ Maaf saudaraku, aku akui memang Amerika Serikat adalah contoh jelek fundamentalisme Kristen sama seperti jeleknya fundamentalisme Islam yang kau mulai beberapa abad lalu. Tapi awal dari pencerahan di dunia Barat adalah pencerahan umat Kristen, dan pencerahan umat Kristen ada karena mereka mulai menerima rasio dan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari iman. Memang secara perlahan mereka meninggalkan agama Kristen dan malah sampai meninggalkan sama sekali seiring dengan semakin banyaknya bukti di alam bahwa klaim-klaim agama adalah klaim tak berbukti. Tapi paling tidak, namaku akan cukup harum sebagai pionir yang membawa peradaban menuju pencerahan. Dan itu sekali lagi berbalik 180% dari dirimu yang menjadi pionir bagi umat Islam menuju masa kegelapan.’

Diserang habis-habisan dengan bukti sejarah yang tak terbantahkan seperti itu membuat Ghazali menjadi jatuh pertahanan dirinya. Apalagi kehalusan hatinya menjadikannya merasa semakin bersalah atas apa yang dilakukannya dalam hidupnya yang dulu. Dia mulai menangis, dari setitik, dan akhirnya menjadi tersedu-sedu. Aquinas menjadi merasa bersalah melihatnya. Dia lalu memeluk Ghazali.

‘Saudaraku yang kukasihi, semua orang pernah melakukan kesalahan. Tapi mari perbaiki kesalahan itu, jangan sampai umat selanjutnya jatuh lagi di jurang kesalahan yang sama. Menurutku kita harus memberikan klarifikasi atas permasalahan ini, sehingga ketidak mengertian yang berakibat gosip ini segera berakhir.’

Ghazali mengangguk-mengangguk sambil mengusap air matanya. Tapi mereka melanjutkan makan malam itu dan Aquinas masih terus membesarkan hati Ghazali. Dalam pembicaraan itu akhirnya mereka bersepakat besoknya untuk mengadakan konferensi pers, untuk meluruskan segala gosip yang beredar. Televisi dan media cetak diundang untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat. Dan julukan ‘Aquinas dunia Muslim’ pun diluruskan, julukan itu diberikan kepada Ibnu Rushdi, bukan Ghazali. Dan Aquinas pun didaulat untuk mendapatkan julukan baru ‘Rushdi dunia Kristen’, sedangkan mereka akan mendekati Maimonides untuk mau diberi julukan ‘Rushdi dunia Yahudi’.

Agama Yakrislam

Sunday, January 21st, 2007

Ibrahim sedang enak-enaknya tidur, ketika tiba-tiba telepon berdering. Kaget banget Ibrahim, karena memang suara telponnya sangat keras. Apalagi malam tadi Ibrahim pesta semalam suntuk, mabuk-mabukan, dan bersuka-suka dengan para bidadari surga.

‘ Halo, ini Ibrahim bukan..?.’

‘ Ehm, eh…iya..’

Ibrahim masih belum sadar penuh, sementara di ranjang Ibrahim bergeletakan beberapa bidadari telanjang yang masih tidur. Ibrahim terheran-heran, setelah dia tahu bahwa suara di ujung sana adalah suara Tuhan. Apa pula maksud Tuhan telpon Ibrahim di pagi-pagi buta. Matahari saja belum terbit di surga.

‘Ada apa Tuhan, pagi-pagi begini..?.’

‘Begini Ibrahim, aku sudah jengkel dan gusar mendengar perang terus menerus antara pemeluk-pemeluk Islam, Yahudi, dan Kristen di bumi itu. Aku ingin kamu turun ke bumi mendamaikan mereka. Please, aku benar-benar sudah gak tahan, umat-umat goblog ini sudah merusak ajaran agama mereka masing-masing yang susah payah telah kuturunkan ke bumi.’

‘ Ya Tuhan, tapi bagaimana sih, aku kan sudah berjuang dulu, sekarang kan mustinya aku menikmati surga yang kau janjikan. Tidak perlu lagi aku menderita di dunia. Anyway, ngapain juga dirimu koq nyuruh aku, kan ada Muhammad, ada Yesus, ada Musa, ada yang lain-lain. Mereka aja lah Tuhan, mereka kan lebih muda, dan lebih mengerti manusia modern. Tugas ini aku rasa kurang cocok buat aku.’

‘ Ibrahim, justru kamu salah satu yang paling tua sehingga aku lebih memilih kamu untuk turun lagi ke bumi. Tiga agama besar berpengaruh di dunia mengakuimu sebagai bapak mereka. Dan ini saatnya bagimu untuk menyatukan mereka dalam satu agama yang akan membawa perdamaian dan kesejahteraan di seluruh bumi.’

‘ Tuhan, please deh. Orang Kristen itu mengharapkan Yesus yang akan datang lagi menyelamatkan dunia. Orang Islam mengharapkan Imam Mahdi. Orang Budha mengharapkan Maitreya. Lho liat, tidak ada di antara mereka yang mengharapkan aku untuk menyelamatkan mereka. Jadi tolonglah pertimbangkan kembali.’

‘Tidak Ibrahim, keputusanku sudah bulat. Posisimu paling strategis untuk menjadi pemersatu mereka. Dan ini perintah tolol, bukan pertanyaan atau tawaran. Sudah cukup kamu beribu tahun berenak-enak, berpesta di surga. Sekarang kamu turun ke bumi melaksanakan tugas yang kuberi sampai kau sukses. Setelah itu kau baru boleh menikmati surga lagi.’

Ibrahim bersungut-sungut menerima perintah tak dapat ditawar dari Tuhan. Dasar memang nasib lagi jelek, tugas berat lagi dia dapat. Dulu ditugaskan membunuh anaknya, sekarang menyatukan manusia yang berjumlah milyaran itu di bawah satu agama. Ibrahim sadar betul bahwa tugas itu adalah tugas yang sangat berat. Tapi bersungut-sungut dan dongkol gak ada gunanya, Tuhan kalau sudah bertitah, kalau tidak dituruti bisa saja dia ditendang dari surga untuk selamanya. Nasib yang justru lebih buruk lagi jika dibandingkan dengan ditugaskan turun ke bumi lagi. Akhirnya Ibrahim dengan tekad bulat turun ke bumi memperbaiki keadaan di bumi yang carut marut.

Dengan pesawat rongsokan yang tersisa di surga, Ibrahim dikirim ke bumi dengan kecepatan cahaya. Pesawat itu karena sangking tuanya turbulensinya gak ketulungan. Ibrahim terpaksa harus berpegangan erat-erat selama perjalanan. Setelah beberapa hari, sampailah Ibrahim dengan pesawatnya di lingkaran orbit matahari. Pesawat segera diperlambat. Karena navigasi yang sudah uzur, Ibrahim sempat nyasar-nyasar dan nabrak batu-batu di cincin Saturnus. Setelah berjuang habis-habisan menghindari bebatuan yang bertebaran di angkasa Saturnus, halangan sudah tidak terlalu parah lagi. Pesawat dipercepat lagi. Ibrahim senyum-senyum, dari kejauhan sudah tampak planet biru dengan bercak-bercak putih. Sudah lama memang Ibrahim meninggalkan bumi. Ada rasa rindu juga sekaligus penasaran sudah seperti apakah bumi yang dulu dikenalinya sekarang.’

Di atmosfir bumi, kesalahan teknis terjadi. Pesawat yang dibawa Ibrahim tidak bisa direm, sehingga geseran dengan atmosfir sangatlah terasa dan sangat mengkhawatirkan. Terjadi kebakaran di pojok-pojok pesawat. Pesawat pun terjun bebas ke bumi dengan kecepatan tinggi. Buummmmm…!!!!, pesawat Ibrahim jatuh menghempas tanah. Ibrahim kehilangan kesadaran.

Begitu bangun, badan Ibrahim sakit semua, dan sudah puluhan orang mengitarinya. Ternyata dia sudah berada di ranjang, dengan orang-orang bersorban. Dengan diam-diam Ibrahim mendengarkan saja percakapan orang-orang yang menolongnya. Kalau dia tidak salah mengerti, dia jatuh di Somalia.

Setelah beberapa hari dalam perawatan, Ibrahim merasa cukup sehat. Dalam istirahatnya itu Ibrahim berpikir keras. Apa yang harus dilakukannya untuk menyatukan milyaran manusia yang berbeda-beda itu. Tiba-tiba Ibrahim mendapatkan ide segar.
‘Aku akan mendirikan agama sendiri, Yakrislam.‘

Dia tidak mau berpanjang-panjang tak bertindak. Dia harus segera bergerak. Atas bantuan orang-orang bersorban itu, Ibrahim bisa mengikuti salah satu kapal mereka menyeberang ke Arab Saudi, dia berharap di negeri tempat bersemayamnya jasad Muhammad itu ajarannya bisa lebih diterima oleh khalayak dan para penguasa. Yang pertama-tama didatanginya adalah Mekkah, kota kelahiran Muhammad. Setelah kesana kemari mencari informasi, Ibrahim mendapatkan informasi bahwa di kalangan Islam tidak terdapat otoritas tunggal. Tapi di Arab Saudi sedang gencar dilaksanakan program Wahabisasi, Islam Sunni versi sangat konservatif yang tidak kontekstual sama sekali. Ibrahim juga kaget pada awalnya, karena wanita sangat tidak dihormati di negara yang seharusnya menjadi pusatnya Islam ini. Tidak punya hak suara, tidak boleh mengendarai, tidak boleh keluar sembarangan, dan banyak lagi aturan lain yang tidak masuk diakal. Karena begitu banyaknya syekh-syekh yang dianggap mumpuni dalam pemahaman agama Islam, Ibrahim memutuskan untuk langsung bertemu dengan raja sekalian. Karena berdasarkan informasi yang diterima Ibrahim, para syekh itu tak lain adalah gedibal raja.

Setelah melalui prosedur berbelit yang melelahkan, Ibrahim bisa bertemu raja, walaupun tidak boleh lama juga.

‘Begini raja yang mulia, aku datang untuk mengajakmu memeluk agama damai dan cinta yang akan menyatukan seluruh umat manusia. Agama Yakrislam ini adalah agama hanif, yang murni datang dari Tuhan.’

‘Siapa kamu, berani-beraninya membawa agama baru kepadaku…?’

‘Aku Nabi Ibrahim, bapak agama-agama besar bumi.’

‘Kenapa kamu bisa disini…?’

‘ Paduka, aku dikirim Tuhan untuk turun ke bumi menyatukan dan mendamaikan dunia di bawah panji-panji Tuhan.’

‘Kamu ketemu Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam di surga….?’

‘ Ya, ya, aku sudah ketemu Muhammad di surga. Aku lah yang datang menyempurnakan semua agama yang pernah ada di bumi.’

‘Goblog, Islam itu sudah sempurna. Kau jangan mengarang-ngarang ajaran baru dari Tuhan.’

‘Paduka yang mulia, aku tidak mengarang-ngarang. Tuhan mengutusku dengan perintah jelas, aku hanya sekedar menyampaikan.’

‘Seandainya agama ini akan kupeluk, bisakah aku tetap berkuasa di sini..?’

‘Tentu paduka, tetap anda akan berkuasa. Tapi saya menyarankan agar demokrasi segera ditegakkan, karena nilai demokrasi adalah nilai universal yang harus dipatuhi semua penguasa tanpa terkecuali.’

‘Lancang sekali mulutmu. Tidak ada yang bisa menggoyang singgasanaku.’

Raja marah sekali, Ibrahim dilempar gelas perak yang tadinya dipegang raja. Ibrahim segera diseret oleh pengawal istana dan dilempar keluar istana.

Dakwah pertama Ibrahim gagal total, tapi Ibrahim tidak menyerah. Di tengah semangatnya untuk melaksanakan misi kenabiannya dengan sukses, dia merancang rencana selanjutnya untuk berdakwah. Ibrahim lalu mendatangi Ayatullah Ali Khomeney, yang dikiranya punya otoritas terutama buat kaum Islam Syiah. Dengan pesan yang sama Ibrahim melancarkan dakwahnya, tapi ternyata reaksi Ayatullah sama saja. Ibrahim segera ditangkap oleh Garda Revolusi, dan diperintahkan untuk segera meninggalkan Iran, atau kalau tidak akan diberi hukuman berat.

Setelah gagal total juga di Iran. Ibrahim memutuskan untuk pergi ke Vatikan. Ibrahim dengan susah payah mendatangi Vatikan. Tapi lagi-lagi oleh Paus dia segera diusir. Tidak perlu terlalu lama untuk Ibrahim ditolak mentah-mentah di Vatikan. Paus langsung bertanya ke Ibrahim apakah Ibrahim percaya bahwa Yesus itu Tuhan. Ibrahim langsung menyatakan tidak. Dia adalah sama seperti Ibrahim, orang biasa. Ibrahim langsung ditangkap. Belum sempat pula Ibrahim menawarkan ide penyatuan segala agama terutama agama Abraham.

Setelah Ibrahim ditawan seminggu di Vatikan, akhirnya diapun dilepaskan. Vatikan tidak menemukan alasan demokratis menahan Ibrahim, seberapapun sesatnya ajaran Ibrahim menurut mereka.

Setelah luntang-luntung beberapa lama, Ibrahim memberanikan diri menuju Israel. Dia ingin menemui orang-orang Yahudi. Dia berharap, dengan kepintaran mereka, orang-orang Yahudi ini bisa menerima ajarannya. Sesampainya di Israel, Ibrahim malah semakin bingung. Orang-orang Yahudi ini sekarang mayoritas malah sudah sekuler. Jangankan percaya agama, percaya Tuhan saja sudah tidak. Hanya sedikit saja yang masih benar-benar bisa dianggap orang Yahudi jiwa raga. Golongan ini adalah pendukung utama penjajahan tidak berperikemanusiaan Israel atas Palestina. Setelah dipikirnya lama-lama, Ibrahim mengurungkan niat untuk mengajak orang Israel ini untuk memeluk Yakrislam. Dia sudah tahu pasti bahwa dia akan gagal. Orang Yahudi yang sekuler pasti akan membantainya habis-habisan dengan rasio dan ilmu pengetahuan. Sedangkan yang Yahudi radikal, tidak akan pula mereka akan mau bersatu dalam satu agama dengan orang-orang Islam. Tapi Ibrahim tetap mencoba ide agama Yakrislam ke kalangan terbatas.

Ibrahim harus kecewa dan kecewa lagi, karena otoritas Islam, Kristen secara terpisah menyatakan bahwa Yakrislam adalah aliran sesat. Belum lagi orang Yahudi yang juga mengacuhkannya. Nyawa Ibrahim bahkan berkali-kali dalam bahaya karena kerasnya reaksi mereka yang ditawarinya ide agama Yakrislam.

Suasana lama kelamaan menjadi sangat tidak menguntungkan buat Ibrahim, karena dia sekarang telah menjadi musuh publik. Di Israel pun, dia sering menjadi sasaran kemarahan baik dari orang Yahudi ataupun orang Islam, dan juga orang Kristen. Di tempat terakhirnya, di Yerusalem, Ibrahim tidak tahu lagi harus kemana, karena ke ujung manapun, dia bertemu dengan orang-orang yang fanatik dengan ketiga agama besar itu tadi. Kebingungan tak tentu arah, akhirnya Ibrahim kirim email keputus asaannya ke Tuhan,

‘Tuhan, sorry neh, kayaknya gue gagal nih, kagak cuman gagal tapi gagal total. Bukannya gue berhasil mempersatukan mereka, tapi ketiga-tiganya menyia-nyiakanku, disesatkannya apa yang aku ucapkan, udah gitu gue dikejar-kejar sama mereka. Ampun deh Tuhan, balikin gue ke surga lagi dong.’

Beberapa hari kemudian Tuhan membalas email Ibrahim. Ibrahim sudah tidak sabar lagi sebenarnya. Hatinya sudah deg-degan saja tiap harinya, karena yang menginginkan nyawanya sangat banyak.

‘Ya sudah, balik aja ke surga. Aku sudah tahu koq, kalau manusia memang terlalu goblog untuk bisa bersatu saling mencintai dan damai sejahtera bersama. Tugas ini sebenarnya untuk mencoba kepatuhan kamu ke aku saja koq Ibrahim, sama seperti waktu aku memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu. Eh, tapi ingat bawa oleh-oleh ya ke surga, Muhammad titip ikan teri dan Yesus titip rempeyek. Kukirim segera pesawat kesana, ati-ati dijalan ya.’

Panggilan Jiwa

Friday, January 19th, 2007

Bukan…..
Aku bukan orang Jawa
Bukan pula orang Bali atau Sunda
Bukan…..
Aku bukan orang Indonesia
Bukan pula orang Amerika atau Belanda
Bukan….
Aku bukan orang Islam
Bukan pula orang Kristen, Hindu, atau atheis
Bukan….
Aku bukan manusia
Bukan….
Aku bukan makhluk mulia
Bukan….
Aku bukan label-label purba
Bukan…
Aku bukan klaim-klaim antroposentrisme buta

Aku tiada
Makhluk tak berharga di tengah semesta
Setitik debu yang mencoba bermakna

Tapi demi siapa….?
Bukan…bukan demi Tuhan atau setaranya
Bukan…bukan demi Negara atau semacamnya
Bukan…bukan demi Agama atau sejenisnya
Bukan…bukan demi Surga atau khayalan lainnya
Bukan pula demi pangkat, jabatan, harta atau wanita

Maafkan aku saudaraku
Jika goresanku menyakitimu
Jika penaku mengganggumu
Jika langkahku merisaukanmu

Aku harus melakukannya
Saatnya menyadarkan dunia
Dari tidurnya yang sudah terlalu lama
Demi cintaku yang membara
Kepada semua makhluk semesta