Wisdom (12)

Hanya dengan agama kau tidak akan sampai ke ‘SANA’….

5 Responses to “Wisdom (12)”

  1. adii Says:

    tapi aq ke sana dengan pencarian akan kebenaran agama. Hyang widhi ,azura mazda, kristus atau kau tuhan kan cinta itu memang urusanmu. tpi kebenaran bahwa pemilik alam semesta adalah ALLAH. Kamu hanya ‘orang yang bingung’

    dari seseorang yang ganti2 agama dan akhirnya menemukan islam sebagai agama

  2. Bagong Says:

    Allah, Yesus, Nabi Muhammad, Hyang Widhi, Sidharta Gautama, Sri Rama, Krishna adalah pedoman, kamu sendiri yang menentukan dirimu, mau kekiri, kekanan, atau hanya diam ditempat.

  3. >>>>> Says:

    Saya kira tidak ada yang bingung bung adi, asal bung adi mbacanya memakai “dialektika materialist”dan jangan terlalu terikat oleh dogma….

  4. opank Says:

    agama ibarat pohon.akarnya adalah keyakinan.batangnya adalah ilmu dan ajaran.buahnya adalah norma dan budi pekerti.apakah bisa dikatakan agama jika yg kita miliki hanya akar saja,batangnya saja,ato buahnya saja?! jika agama yg anda maksud adalah satu individual tadi,tentunya anda benar. tp jika agama yg dimaksud adalah satu kesatuan 3 unsur tadi,itulah agama yg sesungguhnya.

  5. hjaya Says:

    ‘SANA’ yang dimaksud itu apa?
    - Dunia komunis yang utopis?
    - Surga
    - yang lain???

    Kalau misalnya yang dimaksud adalah surga, saya kurang bisa berkomentar. Tetapi kalau misalnya yang anda maksud adalah suatu keadaan yang utopis, saya akan sependapat :D
    Mmmm… dari yang saya tangkap, tampaknya bung “>>>>” menggunakan dialektik materialis sebagai pola pikir. Bagus sekali.
    Tetapi, apakah metode dialektik materialis itu pernah/bisa menguji dirinya sendiri? Maksud saya.. bukankah dengan menggunakan dialektik materialis kita akhirnya menyadari bahwa seharusnya “akan ada dan pasti ada” metode lain yang lebih baik ketimbang dialektik materialis. Ataukah bung “>>>>” sudah terjebak dalam dogma bahwa dialektik materialis-lah yang terbaik sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi metode pikir yang lebih baik? Seandainya begitu, tentu saja dialektik materialis itu sendiri akan bersifat dogmatis dan tidak bersifat “dialektik materialis”

    Hehe… dari seorang mantan sekjen serikat buruh yang sekarang jadi pemikir bebas :P

Leave a Reply