Archive for February, 2009

‘Tuhan’ VS Sains : Kronologi Ketuhanan

Wednesday, February 25th, 2009
Kata Tuhan selalu mewarnai sejarah manusia, mungkin sejak manusia mulai mampu berfikir dan merefleksikan dirinya sendiri. Perjalanan panjang spesies homo sapiens menjadi manusia modern seperti sekarang ini adalah perjalanan berliku yang membutuhkan usaha keras manusia sendiri dan faktor keberuntungan kosmik. ‘Tuhan’ adalah salah satu proses alamiah sejarah homo sapiens yang sedikit banyak membantu membentuk konsep ‘manusia’ itu sendiri.

Mari kita beranjak dari sejarah manusia itu sendiri. Dimulai 3,5 milyar lalu ketika RNA pertama terbentuk yang kemudian berubah lebih kompleks menjadi double helix DNA. Kemampuan mengkopi diri ini menjadi cikal bakal kehidupan di muka bumi. Sampai 600 juta tahun lalu ketika spesies dinosaurus menapaki bumi dan berkuasa di muka selama lebih dari 540 juta tahun lamanya. Kejadian katastrofal jatuhnya sebuah meteor 60 juta tahun lalu di Semenanjung Yucatan Mexico membuat bumi menjadi neraka bagi spesies berukuran besar dan akhirnya mengakhiri dinasti dinosaurus, di saat yang sama memungkinkan mammalia yang berukuran lebih kecil menguasai bumi sampai sekarang ini.

Sampai kira-kira 7 juta tahun lalu hominid mulai berkembang dan mulai berjalan tegak di belahan dunia Afrika. Dalam kurun waktu 7 juta tahun inilah manusia modern memisahkan dirinya secara genetis dengan saudara-saudaranya simpanse, bonobo, makak, gorilla, dan great apes yang lain.

75.000 tahun lalu, Danau Toba (waktu itu masih berbentuk gunung) meletus dengan kekuatan ribuan kali letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Imbas yang diperoleh sama dengan jatuhnya meteor di Semenanjung Yucatan, menjadikan bumi seperti oven karena efek rumah kaca dari debu dan partikel yang bertebaran di atmosfir menghalangi sinar matahari untuk masuk dan mengiluminasi kehidupan bumi. Spesies homo sapiens mengalami masa paceklik panjang yang hampir menyebabkan kepunahan spesies manusia. Di masa itu, tidak lebih dari 5.000 nenek moyang kita selamat dan akhirnya menurunkan gen-nya kepada kita sampai saat ini. Ini yang menjelaskan kenapa betapapun berbedanya tampak luar manusia modern dari sisi warna kulit, rambut, ras, dan bentuk tubuh, secara genetika 6 milyar manusia lebih manusia yang ada sekarang ini hampir sama persis.

Garis spesies hominid cukup banyak dan beberapa diantaranya mampu bertahan hidup sehingga sampai 30.000 tahun lalu masih ada saudara sepupu manusia modern yaitu Homo Neanderthalensis yang banyak hidup di belahan dunia Eropa sampai ke Cina, dan tak lupa Homo Hobbit Floresiensis di Kepulauan Nusa Tenggara.

Kebudayaan manusia yang lebih kompleks ada belum terlalu lama, diperkirakan kira-kira selama 20.000 tahun terakhir dari 5 ribu juta (5 milyar) tahun umur bumi. Konsep Tuhan tumbuh juga dalam masa ini, spesies yang sebelumnya hanya sibuk dengan mempertahankan hidupnya dari ke hari, memulai mencari sandaran vertikal atas hal-hal yang tidak diketahuinya atau belum diketahuinya. Tentu pada mulanya hal-hal sederhana dalam alam yang mempesona manusia, seperti petir, badai, air terjun, api, dan sebagainya. Di masa seperti itu, banyak nenek moyang kita yang menyembah kejadian-kejadian alam itu karena mereka sama sekali tidak tahu mengapa hal itu ada dan terjadi. Mereka memberi atribut-atribut kehidupan (roh atau ruh, dan Tuhan) kepada kejadian setiap kejadian alam yang mempesona.

Lambat laun mereka mulai mengerti bahwa yang disembahnya adalah kejadian alam biasa. Maka merekapun mencari sandaran vertikal yang lebih kompleks dan sophisticated. Mulailah penyembahan-penyembahan benda kosmik seperti matahari, bulan, dan bintang. Ketiga benda kosmik ini cukup jauh letaknya dengan manusia sehingga mampu menjadi ‘Tuhan Penutup Lubang’ atas ketidak tahuan manusia kala itu. Kejadian-kejadian alam yang tidak bisa dimengerti, seperti turunnya hujan, terbentuknya sungai, terjadinya gunung dan lembah, dsb diatributkan ke Tuhan. Lubang pengetahuan (knowledge gap) yang tidak dimengerti akan diatributkan ke Tuhan.

Seiring bertambahnya kecerdasan manusia, Tuhan-tuhan benda kosmik ini menjadi tidak memuaskan. Semakin lama nenek moyang kita semakin tahu bahwa matahari, bulan, dan bintang juga adalah benda langit biasa. Maka terbentuklah kebutuhan untuk mencari ‘Tuhan Penutup Lubang’ yang lebih kompleks dan lebih jauh lagi dari manusia. Maka terciptalah Tuhan imanen dan Tuhan personal yang abstrak. Tuhan imanen dan personal ini menjadi manifestasi dari prinsip antroposentrisme manusia. Nenek moyang kita selalu merasa bahwa kehadirannya di bumi ini merupakan bagian dari rencana besar semesta. Tuhan didesain sedemikian rupa sehingga cocok dengan kebutuhan nenek moyang kita, baik itu secara an sich maupun fur sich. Idiom-idiom narsis seperti Imago Dei, Nur Muhammad, dan lain sebagainya adalah relik sejarah yang intinya memproklamirkan bahwa Tuhan secara dzat dan kehendak adalah dzat dan kehendak manusia itu sendiri.

Periode keberagamaan Jaman Kapak (kira-kira 600 SM) yang cukup radikal mengubah pola keber-Tuhanan yang sangat antroposentris menjadi lebih atheis dan rasional tetapi di saat yang sama menjadi semakin abstrak dengan tetap memegang fungsi sebagai ‘Tuhan Penutup Lubang’ . Sebelum Jaman Kapak, ada Agama Hindu yang menganut dualisme ke-Tuhanan yang cukup kompleks, Tuhan itu satu tetapi juga sangat banyak. Tuhan memanifestasikan dirinya dalam dewa-dewa yang tak terhitung jumlahnya, sehingga setiap manusia bisa memilih Tuhan seperti apa yang dia kehendaki dan dipuja. Secara salah banyak orang menganggap Hindu adalah agama politheis.

Dari tradisi dualisme keTuhanan, anak benua India melahirkan semangat reformasi atheisme dalam agama Buddha dan Jain. Tuhan dalam kedua konsep agama ini hanyalah hasil pikiran manusia, dan tidak berpengaruh dalam proses pencerahan dan pencarian kebahagiaan kemanusiaan. Di saat yang hampir bersamaan, benua Eropa melahirkan konsep keTuhanan rasional ala Yunani. Di dataran besar Asia (Cina) melahirkan Konfusianisme dan Taoisme yang semi atheis.

Dan akhirnya lahirlah konsep keberagamaan monotheis ala Timur Tengah yang termanifestasi dalam agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Monotheisme ala Zoroaster yang masih sederhana, dikembangkan lagi dan diinstitusionalisasi lebih lanjut dalam era ini. Monotheis eksklusif Yahudi merupakan konsep beragama yang kalau dibandingkan dengan konsep Jaman Kapak bisa dibilang medioker. Selain Tuhannya yang cenderung macho, pro patriarki, anti kritik, dan sangat pencemburu dan pendendam, agama Yahudi adalah satu-satunya agama di dunia ini yang mengkhususkan diri pada satu ras atau golongan tertentu.

Agama eksklusif ini kemudian direformasi untuk menjadi lebih inklusif oleh Yesua (Yesus) dan di saat yang sama menjadikan Tuhannya lebih lunak dan penuh kasih. Sayangnya, ajaran ini dibajak 4 abad setelah Sang Yesus wafat oleh seorang Kaisar Romawi Konstantin yang ingin memanfaatkan agama sebagai instrumen politik untuk melanggengkan kekuasaannya. Di era itu juga konsep Trinitas dijadikan ajaran resmi dalam Konsili Nicaea II, ritual Hellenisme Yunani diambil alih dan dimodifikasi menjadi ritual Kristenitas, dipilihnya 4 gospel utama Mathius, Lukas, Yohanes, dan Markus dengan memusnahkan puluhan gospel yang lain yang untungnya ditemukan akhir-akhir ini di Nag Hammadi Mesir, dan yang tak kalah penting dijadikannya Kristen sebagai agama resmi Kerajaan.

Islam dihadirkan 3 abad kemudian di jazirah Arabia yang inti ajarannya merupakan reformasi dari agama Yahudi dan Kristen. Tuhannya tetap monotheis, dengan menghilangkan ambiguitas Trinitas, tetapi dalam banyak hal masih mempunyai Tuhan yang sama karakter dan ontologinya. Struktur ajarannya dimodifikasi Muhammad dan mirip dengan tradisi Manichaeisme dari Iran yang waktu itu masih banyak dipeluk di Iran, Afghanistan, Pakistan, sampai India. Muhammad berhasil menyebarkan ajarannya di semenanjung Arabia semasa hidupnya, namun setelah itu lagi-lagi dibajak oleh monarki Muawiyah, notabene musuh Muhammad pada permulaan perjuangannya mengajarkan Islam yang akhirnya berhasil menggunakan agama Muhammad untuk kepentingan politik kekuasaannya di masa setelah Muhammad wafat.

Agama monotheis ini sampai saat ini menjadi agama terbesar bumi yang kalau digabungkan dipeluk oleh dua pertiga manusia. Kemunduran secara teologis mungkin dibandingkan dengan konsep teologi agama jaman kapak, tetapi karena politik kekuasaan membantu agama monotheis ini (terutama Kristen dan Islam), maka penyebarannya menjadi efektif dan cepat. Apalagi Kristen dan Islam yang secara an sich inklusif dan mempunyai jiwa proselitas.

Setelah masa keberagamaan monotheis ini, masih saja muncul agama-agama baru seperti Sikh, Baha’i, Rastafari, Lia Eden, dsb yang sebenarnya tidak menawarkan hal baru. Tetapi yang patut dilirik adalah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimungkinkan adanya pola keberagamaan baru yang dahulunya belum pernah ada secara jelas yaitu pola keberagamaan tengah-tengah. Pola keberagamaan yang sebenarnya kompromi atas agama konvensional yang dianggap tidak mampu menjelaskan keresahan jaman dan lubang pengetahuan yang ternyata masih lebar menganga.

Pola keberagamaan deis yang menganggap Tuhan itu ada, tetapi tidak mungkin Dia menurunkan agama. Pola ini muncul sebagai kritik atas polarisasi Kristen Katolik dan Protestan kala itu. Founding Fathers Amerika Serikat seperti George Washington, Thomas Paine, dan Thomas Jefferson adalah penganut Deis. Ada pula Agnostis yang menganggap bahwa ada ’sesuatu’ yang mendesain alam semesta ini, tetapi tidak memutuskan apakah itu Tuhan, energi, atau apapun. Ilmuwan terutama dalam bidang astrofisik banyak yang berkeyakinan seperti ini, selain tentunya sebagian besar yang lain atheis. Ada pula yang menjadi pantheis seperti Albert Einstein dan Baruch Spinoza, yang menganggap bahwa Tuhan adalah semesta itu sendiri.

Sains sendiri dalam batas-batas yang ada sekarang ini belum mengijinkan seseorang untuk percaya Tuhan 100% ataupun tidak percaya Tuhan 100%.

‘Tuhan’ VS Sains : Perang Peradaban

Wednesday, February 25th, 2009

‘Tuhan’ dalam tulisan ini sengaja dalam tanda petik karena yang dimaksud adalah Tuhan imanen dan personal, sengaja didikotomikan dari Tuhan transenden.

Tuhan imanen dan personal merupakan Tuhan dekat dan antroposentris. Yang turut campur urusan kemanusiaan dengan berbagai variasinya ( dari menurunkan anak tunggalnya ke bumi, menurunkan utusan/nabinya, memiliki preferensi tertentu atas orientasi seksual manusia, mendukung kelompok politik/sosial tertentu, menjawab doa-doa, dsb).

Tuhan transenden adalah Tuhan jauh, Tuhan yang masih belum terjelaskan, Tuhan misterius yang menciptakan alam semesta dengan segala kompleksitasnya. Tuhan yang memungkinkan konundrum fisika relativitas dan kuantum terjadi (dan kemungkinan teori dawai). Tuhan yang menjaga jarak dengan ciptaannya dengan menciptakan semesta yang mandiri, sehingga setelahnya Dia tidak perlu turut campur membenahinya.

Sebagaimana fungsi konsep Tuhan itu sendiri untuk menjelaskan sesuatu yang tidak atau belum dimengerti oleh manusia, dikotomi ini menjadi penting kaitannya dengan Sains. Sains dan konsep Tuhan adalah usaha yang sama untuk menjelaskan manusia dan lingkungannya. ‘Tuhan’ dan Sains sama-sama mengklaim menjelaskan dunia wujud. Namun ada perbedaan metode dalam menjelaskan dunia tersebut. ‘Tuhan’ yang dikonsepkan manusia menjelaskan alam dalam mitos-mitos. Sains menjelaskan alam dalam bukti dan logika.

Tuhan personal imanen telah mewarnai bumi sejak nenek moyang kita mulai mampu berpikir. Terejawantahkan dalam dogma-dogma agama dan dogma-dogma budaya.. Posisi ‘Tuhan’ mungkin penting sebagai faktor kontrol sosial yang lebih efektif daripada kekuatan senjata dan tentara. Karena dengan institusionalisasi ‘Tuhan’, nenek moyang kita lebih mudah untuk tunduk kepada perintah kekuasaan. Karena kekuasaan ‘Tuhan’ adalah kekuasaan mutlak, maka semua manusia harus mematuhinya. Mengontrol massa dengan senjata adalah riskan, selain karena biaya yang cukup besar, kemungkinan akan adanya pemberontakan akan jauh lebih besar. Tentunya, akhirnya ‘Tuhan’ yang diciptakan adalah ‘Tuhan’ yang pro regim berkuasa.

Selain pro kekuasaan, ‘Tuhan’ juga sangat antroposentris, menempatkan manusia sebagai pusat segala ada-Nya. Dengan memakai contoh sederhana, kita akan mengerti gejala antroposentrisme ini. Bumi kita adalah salah satu planet matahari, dan menjadi bagian dari tata surya. Di galaksi Bima Sakti terdapat 100 milyar tata surya, salah satunya adalah tata surya kita. Di semesta ini terdapat tidak kurang dari 100 milyar galaksi. Itupun baru tak lebih dari 4% semesta, 96% yang lain kita sama sekali tidak mengetahuinya (sehingga dinamai dark matter dan dark energy). Mengatakan bahwa bumi adalah pusat alam semesta, atau bumi adalah tempat makhluk terbaik di semesta, atau bumi adalah tempat satu-satunya anak Tuhan dikirimkan terkesan dipaksakan. Analogi sederhananya adalah bagaikan Tuhan menciptakan seluruh Samudra Hindia tetapi hanya sibuk dan mengurusi satu tetes kencing lumba-lumba. Kemungkinannya amat sangat kecil sekali, satu berbanding 100 milyar kuadrat, itupun masih terlalu dibesarkan. Berjudi togel dan SDSB pun chance-nya jauh lebih besar daripada adanya Tuhan personal imanen.

Dengan logika matematika linear sederhana, tampak jelas bahwa ide ‘Tuhan’ seperti dipaksakan. Tuhan transenden masih mempunyai kemungkinan adanya, tetapi Tuhan imanen adalah suatu keajaiban matematis jika ada. Pola berulang-ulang antroposentrisme telah menjadi trade mark manusia, walaupun perlu diakui bahwa antroposentrisme mungkin turut menyumbangkan andil dalam membuat manusia sebagai spesies superior di planet sangat amat kecil bernama bumi ini. Kenarsisan yang mensugesti spesies homo sapiens menguasai spesies lain.

Pada awal benturan awal ‘Tuhan’ dan Sains, menjadi seseorang yang percaya ‘Tuhan’ serta religius tapi di saat yang sama melakukan pekerjaan sebagai seorang ilmuwan masih sangat memungkinkan, karena Sains masih dalam masa kelahirannya. Lubang pengetahuan masih sangat lebar menganga, sehingga dalam umur manusia kala itu ( yg tidak lebih dari 100 tahunan) tidak akan mampu mengkomprehensikan alam semesta secara lebih lengkap. Saat ini ketika Sains sudah semakin maju, kemungkinan menggabungkan religiusitas dan Sains dalam satu individu menjadi lebih berat dan membutuhkan matinya bagian kekritisan tertentu dalam diri individu tersebut.

Dalam pertarungan peradaban kontemporer, kutub ‘Tuhan’ mempunyai pendukung besar seperti Templeton Foundation yang memberikan insentif cukup besar bagi ilmuwan yang berusaha menggabungkan Sains dan Agama/Spiritualitas. Ilmuwan yang melakukannya mendapatkan hadiah lebih dari 1,6 juta dollar untuk karya-karyanya yang menggabungkan kedua kutub itu. Hadiah yang notabene lebih besar daripada Hadiah Nobel bagi ilmuwan murni. Saat ini ilmuwan dari seluruh dunia memulai usaha untuk mengecilkan arti Templeton Foundation karena dikhawatirkan gerakan seperti ini akan mengembalikan kita ke jaman kegelapan dan kebodohan, bukan hanya karena Templeton Foundation didanai oleh orang-orang beragama (terutama Kristen Fundamentalis) tetapi juga karena basis yang digunakan ilmuwan-ilmuwan pro Templeton adalah bukan Sains murni, yang pada akhirnya akan membuat mereka di satu level dengan para apologis dari berbagai macam agama.

Dialog dan integrasi antara agama dan Sains, keduanya membutuhkan pikiran terbuka dan mau menerima pandangan berbeda dengan lapang dan penuh keingintahuan.Tetapi dalam usaha kesana, pertarungan itu justru lebih kelihatan. ‘Divine experience’ yang banyak dijadikan landasan bukti adanya Tuhan mempunyai permasalahan mendasar karena belum pernah ada bukti bahwa itu ada kaitannya dengan Tuhan sama sekali. Justru bukti-bukti baru dari bidang neurologi membuktikan bahwa banyak pengalaman-pengalaman suci seperti itu adalah trik otak kita yang kompleks, atau dalam bahasa gampangnya ‘imajinasi kreatif’. ‘Intelligent Design’ yang diharapkan menjawab dan menantang teori evolusi ternyata juga tak lebih dari alasan yang dibuat-dibuat, seolah-olah di spesies tertentu, evolusi tidak terjadi dan disitulah ‘Tuhan’ campur tangan. Bukti yang setelah diteliti lebih jauh ternyata hanya isapan jempol.

Permasalahan terbesar dari Integrasi dan Dialog adalah bahwa rekonsiliasi yang diharapkan ternyata tidak juga kunjung datang, karena justru bukti-bukti baru Sains semakin memperkecil kemungkinan adanya Tuhan imanen dan personal. Posisi sains sampai sekarang belum terlalu bisa membahayakan posisi Tuhan transenden, tetapi sudah sangat membahayakan Tuhan personal imanen. Tuhan transenden masih mempunyai kemungkinan bertemu dan berasyik masyuk dengan Sains, sedangkan Tuhan personal imanen berada dalam posisi diametral dengan Sains.

Pendekatan Top Down dalam penciptaan ala Tuhan personal imanen mengharuskan Tuhan yang selalu aktif berkecimpung di semesta ciptaannya. Pendekatan Bottom Up mempensiunkan Tuhan setelah awal Penciptaan (Sains saat ini terantuk pada Big Bang). Para theis memimpikan Big Bang yang singular, sehingga memungkinkan untuk memasukkan Tuhan sebagai Causa Prima (Penyebab Utama) dari Big Bang. Permasalahan dengan tesis ini adalah bahwa dengan Kuantum Mekanik dan Teori Dawai, kemungkinan besar Big Bang bukanlah singular, karena bisa jadi Big Bang hanyalah salah satu diantara sekian Big Bang yang lain yang menciptakan banyak semesta dengan ‘tune’ dan hukum alam yang berbeda-beda. Bisa jadi Big Bang hanyalah efek dari benturan membran semesta yang diramalkan teori dawai.

Jika kita tarik levelnya lebih tinggi, Sense of wonder (rasa kekaguman) seperti Einstein menamakannya atas kebesaran dan kerumitan alam semesta inilah yang di masa awal-awal sains memunculkan manusia-manusia seperti Pascal, Newton, dan bahkan Darwin di awal-awal karirnya, para ilmuwan yang masih beragama. Pun juga yang rasa kekaguman ini yang dahulu membuat nenek moyang kita menyembah kejadian-kejadian alam seperti petir, api, dsb. Tentu saat ini kekaguman itu hanya tinggal kekaguman, karena tidak menyentuh Tuhan an sich. Mengatributkan kekaguman itu kepada kekuatan supranatural sudah terbukti selalu salah dari dulu sampai sekarang.

Kepercayaan terhadap Tuhan transenden selalu mensyaratkan jump to conclusion. Deisme menganggap Tuhan menciptakan alam semesta dan kemudian meninggalkannya begitu saja, Agnost menganggap ada sesuatu di sana (apapun itu bentuk atau definisinya) yang langsung atau tidak langsung menciptakan semesta dan mengaturnya. Semuanya memerlukan loncatan yang tidak bisa dibuktikan dengan sains saat ini.

Tuhan secara konsep (hanya namanya, bukan Tuhan itu sendiri) baru bisa dijelaskan dari sisi antropologi, notabene bukan sains murni. Dari sudut pandang antropologi, Tuhan (dan dalam bentuk lebih lanjut menjadi agama) mempunyai fungsi sebagai alat kohesi sosial. Dalam struktur kemasyarakatan, agama dengan prinsip-prinsip abstrak religius memberikan tali-tali yang diperlukan bagi individu untuk membuat simpul-simpul kerjasama dan persatuan.

Dalam kerangka besarnya, usaha pencarian Tuhan (dan dalam banyak hal pembuktian Tuhan) bisa dibagi menjadi 2 mainstream :
1.Imajinasi kreatif untuk pencarian Tuhan imanen, dan
2.Sains untuk pencarian Tuhan transenden.

Sayangnya, keduanya sampai saat ini belum bisa memenuhi fungsinya dengan sukses, tetapi Sains dalam kadar tertentu telah menurunkan kadar kredibilitas imajinasi kreatif lewat kemajuan neurologi.

Perang peradaban ‘Tuhan’ VS Sains menjadi semakin marak karena serangan neo-atheist seperti Richard Dawkins, Christopher Hitchens, Daniel Dennettt dan Sam Harris. Dari sisi lain ada orang-orang seperti Francis Collins yang mengepalai Human Genome Project yang adalah neo-religious (Kristen) yang membela keberagamaan atas Tuhan imanen dan personal. Dipermarak lagi oleh apologis dari kalangan agama seperti Harun Yahya (Islam) dan Dinesh D’Souiza (Kristen) yang secara jelas sebagian besar klaim ilmiahnya tidak bisa dipertanggungjawabkan di depan metode Sains yang ketat.

Apapun yang terjadi dalam perang peradaban itu, perlu ditekankan disini bahwa Sains sampai saat ini belum bersinggungan secara langsung dengan Tuhan transenden, apalagi sampai berbenturan. Manusia masih terlalu bodoh dan ilmu pengetahuannya masih terlalu dini untuk berekstropisme kesana. Yang ada dan berkembang adalah Ilusi banyak orang yang masih mau menyatukan antara Tuhan personal imanen dengan Sains, karena sejauh ini jarak antar keduanya bukannya mengecil tapi tambah menganga.

Last but not least, ada perbedaan besar antara dua alur pikir ‘Tuhan’ dan Sains ini. Yang pertama ; Percaya dulu, bukti ada atau tidak tidak masalah. Yang kedua bukti dulu, baru percaya. Dari landasan dasar kedua alur pikir ini saja sudah bisa ditebak kalau ‘Tuhan’ personal imanen dan Sains tidak akan pernah ketemu, alih-alih bisa disatukan. Perang surealis ini telah berlangsung ribuan tahun, dan tidak ada tanda-tanda akan berakhir, justru akan semakin dahsyat di masa mendatang.