‘Tuhan’ VS Sains : Perang Peradaban
‘Tuhan’ dalam tulisan ini sengaja dalam tanda petik karena yang dimaksud adalah Tuhan imanen dan personal, sengaja didikotomikan dari Tuhan transenden.
Tuhan imanen dan personal merupakan Tuhan dekat dan antroposentris. Yang turut campur urusan kemanusiaan dengan berbagai variasinya ( dari menurunkan anak tunggalnya ke bumi, menurunkan utusan/nabinya, memiliki preferensi tertentu atas orientasi seksual manusia, mendukung kelompok politik/sosial tertentu, menjawab doa-doa, dsb).
Tuhan transenden adalah Tuhan jauh, Tuhan yang masih belum terjelaskan, Tuhan misterius yang menciptakan alam semesta dengan segala kompleksitasnya. Tuhan yang memungkinkan konundrum fisika relativitas dan kuantum terjadi (dan kemungkinan teori dawai). Tuhan yang menjaga jarak dengan ciptaannya dengan menciptakan semesta yang mandiri, sehingga setelahnya Dia tidak perlu turut campur membenahinya.
Sebagaimana fungsi konsep Tuhan itu sendiri untuk menjelaskan sesuatu yang tidak atau belum dimengerti oleh manusia, dikotomi ini menjadi penting kaitannya dengan Sains. Sains dan konsep Tuhan adalah usaha yang sama untuk menjelaskan manusia dan lingkungannya. ‘Tuhan’ dan Sains sama-sama mengklaim menjelaskan dunia wujud. Namun ada perbedaan metode dalam menjelaskan dunia tersebut. ‘Tuhan’ yang dikonsepkan manusia menjelaskan alam dalam mitos-mitos. Sains menjelaskan alam dalam bukti dan logika.
Tuhan personal imanen telah mewarnai bumi sejak nenek moyang kita mulai mampu berpikir. Terejawantahkan dalam dogma-dogma agama dan dogma-dogma budaya.. Posisi ‘Tuhan’ mungkin penting sebagai faktor kontrol sosial yang lebih efektif daripada kekuatan senjata dan tentara. Karena dengan institusionalisasi ‘Tuhan’, nenek moyang kita lebih mudah untuk tunduk kepada perintah kekuasaan. Karena kekuasaan ‘Tuhan’ adalah kekuasaan mutlak, maka semua manusia harus mematuhinya. Mengontrol massa dengan senjata adalah riskan, selain karena biaya yang cukup besar, kemungkinan akan adanya pemberontakan akan jauh lebih besar. Tentunya, akhirnya ‘Tuhan’ yang diciptakan adalah ‘Tuhan’ yang pro regim berkuasa.
Selain pro kekuasaan, ‘Tuhan’ juga sangat antroposentris, menempatkan manusia sebagai pusat segala ada-Nya. Dengan memakai contoh sederhana, kita akan mengerti gejala antroposentrisme ini. Bumi kita adalah salah satu planet matahari, dan menjadi bagian dari tata surya. Di galaksi Bima Sakti terdapat 100 milyar tata surya, salah satunya adalah tata surya kita. Di semesta ini terdapat tidak kurang dari 100 milyar galaksi. Itupun baru tak lebih dari 4% semesta, 96% yang lain kita sama sekali tidak mengetahuinya (sehingga dinamai dark matter dan dark energy). Mengatakan bahwa bumi adalah pusat alam semesta, atau bumi adalah tempat makhluk terbaik di semesta, atau bumi adalah tempat satu-satunya anak Tuhan dikirimkan terkesan dipaksakan. Analogi sederhananya adalah bagaikan Tuhan menciptakan seluruh Samudra Hindia tetapi hanya sibuk dan mengurusi satu tetes kencing lumba-lumba. Kemungkinannya amat sangat kecil sekali, satu berbanding 100 milyar kuadrat, itupun masih terlalu dibesarkan. Berjudi togel dan SDSB pun chance-nya jauh lebih besar daripada adanya Tuhan personal imanen.
Dengan logika matematika linear sederhana, tampak jelas bahwa ide ‘Tuhan’ seperti dipaksakan. Tuhan transenden masih mempunyai kemungkinan adanya, tetapi Tuhan imanen adalah suatu keajaiban matematis jika ada. Pola berulang-ulang antroposentrisme telah menjadi trade mark manusia, walaupun perlu diakui bahwa antroposentrisme mungkin turut menyumbangkan andil dalam membuat manusia sebagai spesies superior di planet sangat amat kecil bernama bumi ini. Kenarsisan yang mensugesti spesies homo sapiens menguasai spesies lain.
Pada awal benturan awal ‘Tuhan’ dan Sains, menjadi seseorang yang percaya ‘Tuhan’ serta religius tapi di saat yang sama melakukan pekerjaan sebagai seorang ilmuwan masih sangat memungkinkan, karena Sains masih dalam masa kelahirannya. Lubang pengetahuan masih sangat lebar menganga, sehingga dalam umur manusia kala itu ( yg tidak lebih dari 100 tahunan) tidak akan mampu mengkomprehensikan alam semesta secara lebih lengkap. Saat ini ketika Sains sudah semakin maju, kemungkinan menggabungkan religiusitas dan Sains dalam satu individu menjadi lebih berat dan membutuhkan matinya bagian kekritisan tertentu dalam diri individu tersebut.
Dalam pertarungan peradaban kontemporer, kutub ‘Tuhan’ mempunyai pendukung besar seperti Templeton Foundation yang memberikan insentif cukup besar bagi ilmuwan yang berusaha menggabungkan Sains dan Agama/Spiritualitas. Ilmuwan yang melakukannya mendapatkan hadiah lebih dari 1,6 juta dollar untuk karya-karyanya yang menggabungkan kedua kutub itu. Hadiah yang notabene lebih besar daripada Hadiah Nobel bagi ilmuwan murni. Saat ini ilmuwan dari seluruh dunia memulai usaha untuk mengecilkan arti Templeton Foundation karena dikhawatirkan gerakan seperti ini akan mengembalikan kita ke jaman kegelapan dan kebodohan, bukan hanya karena Templeton Foundation didanai oleh orang-orang beragama (terutama Kristen Fundamentalis) tetapi juga karena basis yang digunakan ilmuwan-ilmuwan pro Templeton adalah bukan Sains murni, yang pada akhirnya akan membuat mereka di satu level dengan para apologis dari berbagai macam agama.
Dialog dan integrasi antara agama dan Sains, keduanya membutuhkan pikiran terbuka dan mau menerima pandangan berbeda dengan lapang dan penuh keingintahuan.Tetapi dalam usaha kesana, pertarungan itu justru lebih kelihatan. ‘Divine experience’ yang banyak dijadikan landasan bukti adanya Tuhan mempunyai permasalahan mendasar karena belum pernah ada bukti bahwa itu ada kaitannya dengan Tuhan sama sekali. Justru bukti-bukti baru dari bidang neurologi membuktikan bahwa banyak pengalaman-pengalaman suci seperti itu adalah trik otak kita yang kompleks, atau dalam bahasa gampangnya ‘imajinasi kreatif’. ‘Intelligent Design’ yang diharapkan menjawab dan menantang teori evolusi ternyata juga tak lebih dari alasan yang dibuat-dibuat, seolah-olah di spesies tertentu, evolusi tidak terjadi dan disitulah ‘Tuhan’ campur tangan. Bukti yang setelah diteliti lebih jauh ternyata hanya isapan jempol.
Permasalahan terbesar dari Integrasi dan Dialog adalah bahwa rekonsiliasi yang diharapkan ternyata tidak juga kunjung datang, karena justru bukti-bukti baru Sains semakin memperkecil kemungkinan adanya Tuhan imanen dan personal. Posisi sains sampai sekarang belum terlalu bisa membahayakan posisi Tuhan transenden, tetapi sudah sangat membahayakan Tuhan personal imanen. Tuhan transenden masih mempunyai kemungkinan bertemu dan berasyik masyuk dengan Sains, sedangkan Tuhan personal imanen berada dalam posisi diametral dengan Sains.
Pendekatan Top Down dalam penciptaan ala Tuhan personal imanen mengharuskan Tuhan yang selalu aktif berkecimpung di semesta ciptaannya. Pendekatan Bottom Up mempensiunkan Tuhan setelah awal Penciptaan (Sains saat ini terantuk pada Big Bang). Para theis memimpikan Big Bang yang singular, sehingga memungkinkan untuk memasukkan Tuhan sebagai Causa Prima (Penyebab Utama) dari Big Bang. Permasalahan dengan tesis ini adalah bahwa dengan Kuantum Mekanik dan Teori Dawai, kemungkinan besar Big Bang bukanlah singular, karena bisa jadi Big Bang hanyalah salah satu diantara sekian Big Bang yang lain yang menciptakan banyak semesta dengan ‘tune’ dan hukum alam yang berbeda-beda. Bisa jadi Big Bang hanyalah efek dari benturan membran semesta yang diramalkan teori dawai.
Jika kita tarik levelnya lebih tinggi, Sense of wonder (rasa kekaguman) seperti Einstein menamakannya atas kebesaran dan kerumitan alam semesta inilah yang di masa awal-awal sains memunculkan manusia-manusia seperti Pascal, Newton, dan bahkan Darwin di awal-awal karirnya, para ilmuwan yang masih beragama. Pun juga yang rasa kekaguman ini yang dahulu membuat nenek moyang kita menyembah kejadian-kejadian alam seperti petir, api, dsb. Tentu saat ini kekaguman itu hanya tinggal kekaguman, karena tidak menyentuh Tuhan an sich. Mengatributkan kekaguman itu kepada kekuatan supranatural sudah terbukti selalu salah dari dulu sampai sekarang.
Kepercayaan terhadap Tuhan transenden selalu mensyaratkan jump to conclusion. Deisme menganggap Tuhan menciptakan alam semesta dan kemudian meninggalkannya begitu saja, Agnost menganggap ada sesuatu di sana (apapun itu bentuk atau definisinya) yang langsung atau tidak langsung menciptakan semesta dan mengaturnya. Semuanya memerlukan loncatan yang tidak bisa dibuktikan dengan sains saat ini.
Tuhan secara konsep (hanya namanya, bukan Tuhan itu sendiri) baru bisa dijelaskan dari sisi antropologi, notabene bukan sains murni. Dari sudut pandang antropologi, Tuhan (dan dalam bentuk lebih lanjut menjadi agama) mempunyai fungsi sebagai alat kohesi sosial. Dalam struktur kemasyarakatan, agama dengan prinsip-prinsip abstrak religius memberikan tali-tali yang diperlukan bagi individu untuk membuat simpul-simpul kerjasama dan persatuan.
Dalam kerangka besarnya, usaha pencarian Tuhan (dan dalam banyak hal pembuktian Tuhan) bisa dibagi menjadi 2 mainstream :
1.Imajinasi kreatif untuk pencarian Tuhan imanen, dan
2.Sains untuk pencarian Tuhan transenden.
Sayangnya, keduanya sampai saat ini belum bisa memenuhi fungsinya dengan sukses, tetapi Sains dalam kadar tertentu telah menurunkan kadar kredibilitas imajinasi kreatif lewat kemajuan neurologi.
Perang peradaban ‘Tuhan’ VS Sains menjadi semakin marak karena serangan neo-atheist seperti Richard Dawkins, Christopher Hitchens, Daniel Dennettt dan Sam Harris. Dari sisi lain ada orang-orang seperti Francis Collins yang mengepalai Human Genome Project yang adalah neo-religious (Kristen) yang membela keberagamaan atas Tuhan imanen dan personal. Dipermarak lagi oleh apologis dari kalangan agama seperti Harun Yahya (Islam) dan Dinesh D’Souiza (Kristen) yang secara jelas sebagian besar klaim ilmiahnya tidak bisa dipertanggungjawabkan di depan metode Sains yang ketat.
Apapun yang terjadi dalam perang peradaban itu, perlu ditekankan disini bahwa Sains sampai saat ini belum bersinggungan secara langsung dengan Tuhan transenden, apalagi sampai berbenturan. Manusia masih terlalu bodoh dan ilmu pengetahuannya masih terlalu dini untuk berekstropisme kesana. Yang ada dan berkembang adalah Ilusi banyak orang yang masih mau menyatukan antara Tuhan personal imanen dengan Sains, karena sejauh ini jarak antar keduanya bukannya mengecil tapi tambah menganga.
Last but not least, ada perbedaan besar antara dua alur pikir ‘Tuhan’ dan Sains ini. Yang pertama ; Percaya dulu, bukti ada atau tidak tidak masalah. Yang kedua bukti dulu, baru percaya. Dari landasan dasar kedua alur pikir ini saja sudah bisa ditebak kalau ‘Tuhan’ personal imanen dan Sains tidak akan pernah ketemu, alih-alih bisa disatukan. Perang surealis ini telah berlangsung ribuan tahun, dan tidak ada tanda-tanda akan berakhir, justru akan semakin dahsyat di masa mendatang.